
CIREBON – Prestasi membanggakan kembali diraih SMPN 7 Kota Cirebon. Sekolah tersebut resmi terpilih sebagai salah satu dari delapan sekolah di Indonesia yang melaju ke tingkat Asia Tenggara dalam ajang Nutrition Goes to School (NGTS) Showcase, dalam rangka perayaan 10 tahun program NGTS.
Lebih membanggakan, SMPN 7 Kota Cirebon menjadi satu-satunya sekolah dari Jawa Barat yang berhasil lolos dalam ajang tersebut. Sekolah ini juga masuk dalam empat sekolah nasional yang dipercaya tampil sebagai panelis dalam sesi Diskusi Panel Sekolah/Madrasah NGTS Berbagi.
Dalam daftar peserta yang ditetapkan panitia, SMPN 7 Kota Cirebon tercatat bersama tujuh sekolah lainnya dari Sumatra Utara, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, dan Kalimantan Barat. SMPN 7 berstatus sebagai peserta NGTS Showcase sekaligus panelis dalam diskusi panel.
Seleksi dilakukan secara ketat. Sebanyak 25 sekolah dan madrasah dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti tahapan seleksi dengan melengkapi formulir pemantauan serta mengunggah video pendek pelaksanaan program.
Penilaian meliputi implementasi program, dampak, inovasi, keberlanjutan, keterlibatan pemangku kepentingan, serta keterwakilan wilayah dan jenjang pendidikan.
Kepala SMPN 7 Kota Cirebon, Euis Sulastri, mengatakan capaian tersebut merupakan hasil konsistensi sekolah dalam menjalankan program NGTS yang berkaitan erat dengan program sekolah sehat dan Adiwiyata.
Menurutnya, program NGTS yang digaungkan oleh SEAMEO RECFON atau Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Food and Nutrition memiliki empat pilar utama, yakni edukasi gizi, kantin sehat, kebun gizi, dan gizi kewirausahaan.
“Sebetulnya prestasi itu mengalir begitu saja. Artinya, kalau kita memang berniat bekerja dengan baik, melaksanakan amanat dengan baik, serta merangkul semua mitra di sekolah untuk bersama-sama melaksanakan tujuan dengan satu visi dan satu misi, insyaallah segala sesuatunya akan sesuai dengan apa yang kita harapkan,” ujarnya.
Euis menjelaskan, sejak mulai bertugas di SMPN 7 Kota Cirebon, dirinya melihat potensi besar yang dimiliki sekolah untuk terus dikembangkan. Dukungan seluruh warga sekolah menjadi modal penting dalam menjalankan berbagai program.
“Warga sekolahnya juga siap dan mau untuk ikut mengembangkan. Akhirnya prestasi itu sampai di sini, sampai pada tingkat Asia Tenggara,” jelasnya.
Euis menambahkan, program NGTS di Kota Cirebon telah dirintis sejak 2019. Saat itu terdapat empat sekolah yang mengikuti program tersebut, terdiri atas dua sekolah dasar dan dua sekolah menengah pertama, yakni SMPN 5 dan SMPN 7 Kota Cirebon.
Kedua sekolah tersebut kemudian berhasil mencapai predikat NGTS Mandiri. Pada 2023, SMPN 7 bersama SMPN 5 diundang ke Jakarta untuk menerima penghargaan NGTS Mandiri. Dalam perkembangan selanjutnya, SMPN 7 Kota Cirebon terpilih untuk melaju ke tingkat Asia Tenggara.
“Insyaallah untuk kelanjutannya saya berharap Kota Cirebon punya dua sekolah yang juga akan sama hebatnya untuk meraih sampai di titik ini,” ungkapnya.
Terintegrasi dalam Pembelajaran
Implementasi program NGTS di SMPN 7 Kota Cirebon tidak hanya dilakukan melalui kegiatan khusus, tetapi juga telah terintegrasi dalam pembelajaran di kelas. Materi tentang gizi dikaitkan dengan berbagai mata pelajaran.
Pada mata pelajaran IPA, misalnya, materi sistem pencernaan dikaitkan dengan pembahasan karbohidrat, protein, dan manfaatnya bagi tubuh. Sementara dalam pembelajaran matematika, siswa diajak menghitung luas dan keliling kebun gizi yang berada di lingkungan sekolah.
“Semua mata pelajaran itu sudah terintegrasi dengan program NGTS ini,” tuturnya.
Program tersebut juga melibatkan seluruh siswa dan komponen sekolah. Untuk memantau kondisi kesehatan peserta didik, sekolah memiliki kader kesehatan remaja yang membantu melakukan pemantauan berat badan, tinggi badan, dan tekanan darah siswa.
Sekolah juga menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS) sebagai salah satu instrumen pemantauan kondisi gizi siswa.
Dalam pengawasan makanan, SMPN 7 Kota Cirebon bekerja sama dengan berbagai mitra, termasuk fasilitas kesehatan. Jajanan di lingkungan sekolah dipantau agar bebas dari bahan berbahaya dan memenuhi standar kesehatan.
Euis menyebut pihaknya juga menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi dan lembaga terkait. Salah satunya melalui penelitian mengenai obesitas yang melibatkan siswa serta pengembangan produk berbahan beras merah sebagai alternatif makanan ringan bagi siswa dengan obesitas.
“Anak-anak yang obesitas kalau ngemil jangan sembarangan. Ngemilnya harus yang kandungan gizinya bagus, tetapi tidak menyebabkan karbohidratnya berlebihan,” ucapnya.
Bangun Ekosistem Pangan Mandiri
Keunggulan SMPN 7 Kota Cirebon juga terlihat dari upayanya membangun ekosistem pangan dan gizi secara mandiri.
Sekolah memiliki unit pembelajaran berupa budidaya burung puyuh penghasil telur dan daging, ayam petelur, jamur, hingga kolam lele. Lingkungan sekolah juga dimanfaatkan untuk menanam berbagai jenis pohon buah-buahan sebagai sumber vitamin dan serat.
Hasil budidaya tersebut kemudian dimanfaatkan dalam kegiatan cooking class. Siswa belajar mengolah bahan pangan menjadi makanan sehat sekaligus memahami konsep gizi seimbang dan prinsip “Isi Piringku”.
Program NGTS juga diperkuat melalui pengelolaan kantin sehat. Euis menyebut seluruh kantin di sekolah telah memiliki sertifikat halal.
Pengelola kantin juga diwajibkan memperhatikan kebersihan serta menggunakan sarung tangan, celemek, dan masker ketika melayani siswa.
Tidak hanya fokus pada gizi, SMPN 7 terus mengembangkan program lingkungan. Sekolah tersebut sebelumnya berhasil meraih predikat Sekolah Adiwiyata Mandiri yang menjadi salah satu fondasi dalam membangun lingkungan sekolah sehat dan berkelanjutan.
Bahkan, sekolah telah menggunakan panel surya untuk membantu menekan penggunaan energi listrik.
Ke depan, Euis menargetkan berbagai praktik baik yang telah diterapkan SMPN 7 dapat ditularkan kepada sekolah-sekolah lain di Kota Cirebon.
“Target selanjutnya kita terus terang mau mengimbaskan kepada sekolah lain supaya sekolah-sekolah yang ada di Kota Cirebon mengikuti jejak kami,” paparnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Cirebon dan Dinas Pendidikan yang selama ini memberikan dukungan terhadap berbagai program sekolah.
“Tidak akan ada sekolah yang berprestasi tanpa motivasi dan dukungan dari pemerintah setempat. Saya secara khusus mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Wali Kota Cirebon yang sangat luar biasa mendukung kami, dan lebih khusus kepada Dinas Pendidikan sebagai induk kami yang begitu luar biasa memberikan dukungan dan motivasi,” pungkasnya.
Disdik Kota Cirebon Apresiasi SMPN 7
Sementara itu, Wali Kota Cirebon Effendi Edo melalui Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Cirebon, Ade Cahyaningsih, mengapresiasi capaian SMPN 7 Kota Cirebon.
Menurut Ade, prestasi tersebut tidak hanya mengharumkan nama sekolah, tetapi juga membawa nama Kota Cirebon, Jawa Barat, hingga Indonesia di tingkat Asia Tenggara.
Ade mengatakan pihaknya telah mengikuti perjalanan prestasi SMPN 7 sejak 2020. Menurutnya, terdapat tiga bidang besar yang menjadi kekuatan sekolah tersebut, yakni pengembangan peserta didik, Adiwiyata, dan NGTS.
“Dari tahun 2020, SMP Negeri 7 Kota Cirebon ini dapat prestasi di kategori sekolah Adiwiyata, namun yang sekarang menjadi panelis itu NGTS-nya,” katanya.
Menurut Ade, tantangan terbesar dalam program NGTS bukan sekadar memberikan pemahaman mengenai gizi kepada siswa, tetapi bagaimana teori tersebut dapat diimplementasikan secara langsung di lingkungan sekolah.
“Yang paling sulit yang sudah dilakukan SMP 7 adalah bagaimana mengimplementasikan tentang gizi itu di sekolah. Dan memang diberikan contoh,” tambahnya.
Ia menilai SMPN 7 Kota Cirebon berhasil menghadirkan pembelajaran konkret dengan menyediakan berbagai sumber pangan, mulai dari ikan, telur, hingga sayuran yang dapat dipelajari dan dimanfaatkan siswa.
Pendekatan tersebut dinilai penting karena siswa masih berada dalam fase pembelajaran yang membutuhkan contoh nyata.
“Kalau kita memberikan contoh, pasti mereka akan mencontoh. Maka menurut saya sekolah ini sudah sampai pada level tertinggi untuk tataran pendidikan karena sudah memberikan bagaimana mengimplementasikan apa yang menjadi teori dan bagaimana mengimplementasikan tujuan dari Nutrition Goes to School,” jelasnya.
Ade mengungkapkan, perubahan lingkungan sekolah juga menjadi bukti nyata keberhasilan program. Lingkungan yang sebelumnya gersang kini menjadi lebih rindang sekaligus memiliki fungsi sebagai penyedia berbagai sumber pangan dan nutrisi.
“Bagaimana membuat cita-cita itu menjadi realita, jadi bukan lagi idealisme tetapi sekarang sudah menjadi realisme. Bagaimana anak itu bisa tumbuh dengan baik, bagaimana lingkungan bisa dengan mudah menyediakan itu semua,” ungkapnya.
Ade menegaskan, Dinas Pendidikan Kota Cirebon akan terus memberikan dukungan agar capaian SMPN 7 tidak berhenti sebagai prestasi sekolah semata, tetapi dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lain.
Menurutnya, pengembangan sekolah dapat dimulai dari program-program sederhana, terutama melalui penguatan program Adiwiyata.
“Mulailah dari yang kecil-kecil dulu. Karena tidak akan ada perubahan besar kalau tidak melakukan perubahan terkecil yang bisa kita lakukan,” tegasnya.
Dengan capaian NGTS hingga tingkat Asia Tenggara, predikat Adiwiyata Mandiri, serta berbagai program kesehatan dan pengembangan peserta didik, SMPN 7 Kota Cirebon kini menjadi salah satu contoh sekolah yang berhasil mengintegrasikan pendidikan, lingkungan, kesehatan, dan gizi dalam kehidupan sehari-hari peserta didik. (its)















