
MAJALENGKA – Sebanyak lebih dari 90 gabungan kelompok tani (gapoktan) di Kabupaten Majalengka menerima bantuan Program Irigasi Perpompaan (Irpom) dari pemerintah. Bantuan ini diharapkan mampu mengatasi keterbatasan air untuk pengairan sawah sekaligus menjaga produktivitas pertanian di tengah ancaman kekeringan.
Program yang disalurkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Majalengka melalui Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) tersebut bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2026 melalui Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Setiap gapoktan penerima mendapatkan bantuan senilai sekitar Rp147 juta. Dana tersebut dialokasikan untuk mendukung penyediaan sarana irigasi perpompaan agar kebutuhan air di lahan pertanian dapat terpenuhi dengan lebih optimal.
Kepala DKP3 Kabupaten Majalengka, H Gatot Sulaeman AP MSi, melalui Kepala Bidang Tanaman Pangan, Gugun Sukma Gumilar, mengatakan program Irpom merupakan bagian dari langkah strategis pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.
Menurut Gugun, ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan usaha tani. Karena itu, dukungan fasilitas irigasi diperlukan untuk membantu petani menghadapi kendala pengairan, terutama di wilayah yang mengalami keterbatasan sumber air.
“Program ini diharapkan dapat membantu petani mengatasi berbagai kendala di lapangan, khususnya keterbatasan akses sumber air untuk pengairan lahan pertanian,” ujarnya.
Irigasi Perpompaan Diharapkan Tingkatkan Produktivitas Sawah
Gugun menjelaskan, keberadaan fasilitas irigasi perpompaan diharapkan memberikan dampak positif terhadap produktivitas pertanian di Kabupaten Majalengka. Dengan pasokan air yang lebih memadai, petani diharapkan dapat mengelola lahan secara lebih optimal dan meningkatkan hasil panen, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas.
Ketersediaan air juga berperan penting dalam menjaga keberlangsungan masa tanam padi. Melalui dukungan Irpom, petani diharapkan memiliki alternatif pengairan ketika pasokan air dari sumber irigasi konvensional tidak mencukupi.
Persoalan air selama ini masih menjadi tantangan dalam pengelolaan lahan pertanian di sejumlah wilayah Majalengka. Kondisi tersebut dapat memengaruhi jadwal tanam, pertumbuhan tanaman, hingga hasil panen yang diperoleh petani.
“Persoalan ketersediaan air masih menjadi tantangan utama dalam pengelolaan lahan pertanian di berbagai wilayah Majalengka. Dengan adanya fasilitas ini, kebutuhan air untuk sawah diharapkan dapat terpenuhi dengan lebih baik,” kata Gugun.
Ia juga menyebutkan, program irigasi perpompaan turut membantu menyelamatkan ribuan hektare lahan sawah pada musim tanam kedua (MT II) yang mendekati masa panen. Dukungan pengairan tersebut diharapkan mampu menekan risiko gagal panen akibat kekeringan.
Petani Diminta Merawat Fasilitas Irpom
DKP3 Majalengka mengingatkan kelompok tani penerima bantuan agar tidak hanya memanfaatkan fasilitas irigasi perpompaan, tetapi juga memastikan sarana dan prasarana yang tersedia tetap terawat.
Pemeliharaan mesin pompa dan fasilitas pendukung menjadi hal penting agar sistem pengairan dapat digunakan secara berkelanjutan. Pengelolaan yang baik juga diperlukan supaya bantuan pemerintah memberikan manfaat jangka panjang bagi petani dan lahan pertanian di sekitarnya.
Irigasi perpompaan merupakan sistem pengairan yang memanfaatkan mesin pompa untuk mengambil dan menyalurkan air dari sumbernya menuju areal persawahan. Sistem ini dapat menjadi solusi alternatif bagi lahan pertanian yang kesulitan memperoleh pasokan air melalui jaringan irigasi biasa.
Selain membantu mengatasi kekeringan, program Irpom bertujuan meningkatkan indeks pertanaman (IP), mendukung pencapaian ketahanan pangan nasional, serta menekan biaya produksi pertanian melalui pengelolaan pengairan yang lebih efektif.
Dengan penyaluran bantuan kepada lebih dari 90 gapoktan tersebut, pemerintah berharap petani di Kabupaten Majalengka dapat menjaga keberlanjutan masa tanam, mengurangi risiko kehilangan hasil panen, dan meningkatkan produktivitas lahan.
Optimalisasi pemanfaatan bantuan menjadi kunci agar fasilitas irigasi perpompaan tidak hanya membantu petani menghadapi persoalan air dalam jangka pendek, tetapi juga mendukung peningkatan kesejahteraan mereka secara berkelanjutan. (ono)















