Lampah Wening di Kaki Gunung Ciremai, Menyepi dalam Keheningan Hutan Pinus

Peserta mengikuti Lampah Wening dengan berjalan dalam keheningan di kawasan hutan pinus kaki Gunung Ciremai, Majalengka, Minggu (6/9/2026).

MAJALENGKA – Di balik kerimbunan tajuk pinus yang menjulang memeluk lereng Gunung Ciremai, hiruk-pikuk peradaban seolah menguap tanpa bekas.

Tiada dentum musik, tiada dering gawai, bahkan tak ada percakapan yang terlempar ke udara. Yang tersisa hanyalah orkestra alam dalam wujudnya yang paling murni: desir angin yang menyelinap di antara jarum pinus, gemerisik daun kering yang terinjak, serta derap langkah kaki yang perlahan menyentuh tanah lembap.

Pada Minggu pagi, 6 September 2026, kawasan hutan pinus di Kabupaten Majalengka menjadi saksi sebuah prosesi menyepi yang tak biasa.

Sebanyak 25 peserta melangkah dengan tempo yang sengaja diperlambat. Pandangan mereka lebih banyak tertuju ke bawah, mengamati setiap jengkal permukaan tanah yang dipijak. Setiap tumpuan kaki dilakukan dengan kesadaran penuh.

Para peserta datang dari berbagai daerah, mulai dari Jakarta, Depok, Yogyakarta, hingga kota-kota di sekitar Cirebon seperti Cirebon, Indramayu, dan Pemalang.

Mereka sengaja menepi dari rutinitas yang melelahkan untuk mengikuti Lampah Wening Vol. 1: Hutan Pinus Gunung Ciremai, Batch 2.

Bagi sebagian orang, memasuki kawasan hutan mungkin sekadar menjadi cara menikmati pemandangan sekaligus melepas penat. Namun bagi puluhan peserta tersebut, hamparan hijau Ciremai menjadi ruang untuk berhenti sejenak, memutar kembali ingatan tentang diri sendiri dan alam yang kerap terlupakan.

Di tengah atmosfer yang serba sunyi itu, sebuah kalimat terucap pelan, tetapi terasa menghujam dalam.

“Kita ini tanah yang berjalan di atas tanah.”

Kalimat puitis dan filosofis tersebut disampaikan Abah Isa, pendamping kegiatan dari Sadar Center Yogyakarta. Menurutnya, esensi Lampah Wening terletak pada makna namanya, yakni melangkah dalam keheningan yang dibarengi kesadaran mendasar mengenai keberadaan manusia.

“Lampah Wening itu melangkah dalam keheningan dan kesadaran penuh bahwa kita ini tanah yang berjalan di atas tanah,” ungkap Abah Isa di sela-sela kegiatan.

Bagi peserta, ungkapan itu menjadi pengingat untuk menurunkan ego. Manusia, sejauh apa pun melangkah dan setinggi apa pun capaian yang diraih melalui modernitas, tidak pernah benar-benar berdiri sendiri.

Ada ketergantungan pada bumi yang dipijak, udara yang dihirup, serta ekosistem alam yang menjadi ruang berlangsungnya kehidupan.

Pendekatan Lampah Wening justru bertumpu pada kesederhanaan. Peserta tidak dibebani teknik rumit ataupun ritual yang membingungkan.

Mereka hanya diajak berjalan, berdiam diri, mengamati alam sekitar, lalu menyelami kembali keberadaan dan pengalaman batin masing-masing.

Saat sesi silent walking atau berjalan dalam keheningan berlangsung, percakapan dihentikan. Peserta mengarahkan perhatian pada tubuh dan lingkungan sekitar: irama napas, respons otot kaki ketika menyentuh permukaan tanah yang tidak rata, hingga suara angin yang berembus di antara batang-batang pohon.

Dalam kedalaman hening seperti itu, hal-hal kecil yang biasanya luput justru terasa lebih jelas.

Setelah menyelesaikan rute berjalan dalam keheningan, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan sesi forest bathing atau menikmati suasana hutan secara sadar.

Peserta menyebar di antara tegakan pinus, kemudian duduk tenang di atas matras yang telah disiapkan. Pemandangan itu kontras dengan suasana tempat wisata komersial yang kerap dipenuhi aktivitas dan swafoto.

Beberapa peserta mengenakan busana putih, sementara lainnya berpakaian kasual. Namun, warna-warni pakaian tersebut seolah melebur di bawah naungan pepohonan pinus.

Dengan pendampingan Lia dari Lotus Itti Asana Majalengka, suasana hening kemudian diperdalam melalui sesi sound meditation, dilanjutkan dengan berbagi pengalaman dan refleksi bersama.

Rangkaian kegiatan dirancang tanpa ketergesaan. Peserta diberi ruang untuk menikmati suasana hutan sekaligus merasakan kembali hubungan antara diri mereka dengan alam.

Salah satu momen yang menarik terlihat ketika seorang peserta berdiri membisu di samping batang pinus berukuran besar. Ia merentangkan kedua tangan, kemudian memeluk kulit batang pohon yang kasar dan menyandarkan tubuhnya.

Tindakan sederhana itu menjadi simbol tentang kerinduan manusia untuk kembali mendekat kepada alam sebagai bagian dari kehidupan.

Ketua Yayasan GBA, H Budi Victoriadi SE, menegaskan bahwa Lampah Wening bukan sekadar aktivitas jalan sehat.

Menurutnya, kegiatan tersebut dirancang sebagai sarana pemulihan diri dengan menjadikan alam sebagai ruang refleksi untuk mengingat kembali kebutuhan dasar manusia.

“Manusia membutuhkan tanah untuk berpijak, udara untuk bernapas, dan alam sebagai ruang kehidupan. Karena itu, kalimat tentang ‘tanah yang berjalan di atas tanah’ menjadi gambaran dari pendekatan yang dibawa dalam kegiatan ini,” terang Budi.

Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi sejumlah pihak. Yayasan GBA menggandeng Sadar Center Yogyakarta dan Lotus Itti Asana Majalengka, dengan dukungan Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) serta Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Majalengka.

Selama beberapa jam, 25 peserta dari beragam latar belakang sosial, profesi, dan daerah asal melebur dalam irama yang sama.

Di tengah hutan Ciremai, sekat-sekat perbedaan antarpeserta seolah menghilang. Mereka sama-sama melangkah, sama-sama diam, dan sama-sama berhadapan secara jujur dengan alam yang jauh dari kebisingan perkotaan.

Pada akhirnya, Lampah Wening tidak sedang menawarkan sebuah destinasi spektakuler untuk dituju. Kegiatan ini justru mengajak para pesertanya menikmati dan menyadari proses perjalanan itu sendiri.

Sebab ketika setiap pijakan dilakukan dengan kesadaran penuh, garis akhir bukan lagi satu-satunya tujuan.

Ada napas yang terasa lebih teratur, pepohonan yang menaungi, suara alam yang kembali terdengar, serta keheningan batin yang memberi ruang bagi manusia untuk mendengarkan kembali suara nuraninya.

Mungkin, kesadaran sederhana itulah yang dicari ke-25 peserta di belantara pinus Ciremai: sebuah jeda untuk menyadari kembali di mana sesungguhnya kaki mereka berpijak.

(iim)