Krisis Air Bersih di Krangkeng Indramayu: Hampir Dua Bulan PDAM Mati, Warga Harus Rogoh Kocek Rp900 Ribu per Bulan

Krisis air bersih melanda Gang 5 Krangkeng Indramayu. Hampir 2 bulan PDAM mati, warga terpaksa mengeluarkan biaya hingga Rp900 ribu per bulan.

INDRAMAYU — Krisis air bersih parah melanda warga Gang 5 Desa Krangkeng, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu. Sudah hampir dua bulan suplai air dari Perumdam (PDAM) Tirta Darma Ayu tidak mengalir, memaksa warga mengeluarkan biaya ekstra yang cukup besar di tengah sulitnya akses air bersih.

Kondisi ini kian memprihatinkan mengingat Desa Krangkeng berada di wilayah rawan kekeringan.

Air sumur milik warga kondisinya asin, kuning, dan berbau, sementara sumber air permukaan seperti Sungai Oyoran tercemar berat dan dipenuhi sampah sehingga tidak layak untuk kebutuhan sanitasi harian.

Tokoh masyarakat setempat sekaligus Perwakilan warga Gang 5 Desa Krangkeng, Mohammad Sopandi, S.T., mengungkapkan bahwa untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti mandi, cuci, dan memasak, warga harus membeli air bersih tangki secara swadaya.

“Tiap dua hari sekali kami harus mengeluarkan uang Rp60 ribu untuk beli air bersih. Kalau dihitung, sebulan bisa habis hampir Rp900 ribu hanya untuk air. Ini sangat berat bagi warga,” kata Sopandi.

Ia mengaku sudah berulang kali menyampaikan laporan dan keluhan resmi ke pihak Perumdam Indramayu, namun hingga saat ini belum ada tindakan konkret di lapangan.

Bantuan armada tangki air dari PDAM pun dinilai sangat terbatas dan belum menyelesaikan akar masalah.

Sebagai praktikus yang paham teknis, Sopandi membeberkan bahwa penyebab utama air tidak pernah sampai ke pelanggan di Gang 5 adalah ukuran pipa distribusi utama yang terlampau kecil dan tidak sebanding dengan lonjakan jumlah pelanggan.

Saat ini, pipa distribusi yang terpasang di Gang 5 hanya berukuran 2 inci (inch), sementara jumlah pelanggan yang terhubung mencapai ratusan rumah. Hal ini diperparah oleh maraknya penggunaan pompa sedot di area depan gang.

“Walaupun suplai air melimpah dari Kuningan, Kertasmaya, maupun Waduk Jatigede, air tetap tidak akan sampai ke ujung gang kami. Pipanya terlalu kecil, cuma 2 inci. Idealnya untuk 100 sambungan rumah, jalur utama menggunakan pipa minimal 4 hingga 6 inci,” tegas Sopandi.

Secara teknis, penggunaan pipa 2 inci untuk ratusan pelanggan menyebabkan head loss atau kehilangan tekanan yang sangat tinggi akibat gesekan.

Akibatnya, tekanan air habis di bagian depan dan pelanggan di area tengah hingga ujung tidak mendapatkan air sama sekali.

Warga mendesak jajaran direksi dan pejabat Perumdam Indramayu untuk segera turun tangan melakukan evaluasi teknis serta peremajaan jaringan berupa penggantian pipa distribusi ke ukuran yang lebih besar (5 inci).

“Kami mohon dengan sangat kepada pejabat PDAM Indramayu untuk memperhatikan kami di wilayah timur ini. Air adalah kebutuhan vital. Jangan biarkan warga terus-terusan tersisihkan dan terabaikan,” pungkasnya. (abd)
…
Krisis Air Bersih di Krangkeng Indramayu, Hampir 2 Bulan PDAM Mati Warga Keluhkan Biaya hingga Rp900 Ribu

Warga Gang 5, Desa Krangkeng, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, tengah menghadapi krisis air bersih. Selama hampir dua bulan terakhir, aliran air dari Perumdam Tirta Darma Ayu atau PDAM Indramayu tidak kunjung mengalir ke rumah pelanggan.

Kondisi tersebut membuat warga harus mencari sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ironisnya, mereka terpaksa merogoh kocek cukup dalam untuk membeli air bersih, meskipun tetap harus membayar kebutuhan rumah tangga lainnya.

Krisis air bersih ini semakin memberatkan karena Desa Krangkeng termasuk wilayah yang rawan kekeringan. Warga tidak memiliki banyak pilihan sumber air yang bisa dimanfaatkan ketika pasokan PDAM terhenti.

Air sumur milik warga setempat diketahui memiliki kualitas buruk. Airnya cenderung asin, berwarna kuning, dan mengeluarkan bau tidak sedap sehingga tidak layak digunakan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga.

Sementara itu, sumber air permukaan seperti Sungai Oyoran juga tidak bisa menjadi solusi. Kondisi sungai yang tercemar berat dan dipenuhi sampah membuat airnya tidak layak digunakan untuk kebutuhan sanitasi sehari-hari.

Warga Habiskan Rp900 Ribu per Bulan untuk Membeli Air

Tokoh masyarakat sekaligus perwakilan warga Gang 5 Desa Krangkeng, Mohammad Sopandi, S.T., mengungkapkan bahwa masyarakat kini harus membeli air bersih menggunakan armada tangki secara swadaya.

Kebutuhan air untuk mandi, mencuci, memasak, dan aktivitas rumah tangga lainnya membuat warga harus rutin membeli air.

Menurut Sopandi, pembelian air dilakukan hampir setiap dua hari sekali dengan biaya sekitar Rp60 ribu.

Jika dikalkulasikan dalam satu bulan, pengeluaran warga untuk memenuhi kebutuhan air bersih bisa mencapai hampir Rp900 ribu.

“Tiap dua hari sekali kami harus mengeluarkan uang Rp60 ribu untuk beli air bersih. Kalau dihitung, sebulan bisa habis hampir Rp900 ribu hanya untuk air. Ini sangat berat bagi warga,” ungkap Sopandi.

Besarnya pengeluaran tersebut tentu menjadi beban tambahan bagi masyarakat. Terlebih, air bersih merupakan kebutuhan dasar yang seharusnya bisa diperoleh dengan mudah melalui layanan penyediaan air minum.

Sopandi menyebutkan, warga sebenarnya sudah berulang kali menyampaikan laporan dan keluhan secara resmi kepada pihak Perumdam Indramayu.

Namun, hingga kini belum terlihat penanganan konkret yang mampu mengatasi persoalan terhentinya aliran air ke kawasan tersebut.

Bantuan distribusi air menggunakan mobil tangki dari PDAM juga dinilai masih sangat terbatas. Bantuan itu belum mampu menyelesaikan persoalan utama yang menyebabkan air tidak mengalir ke rumah pelanggan.

Pipa Distribusi 2 Inci Diduga Jadi Penyebab Air Tidak Mengalir

Selain persoalan pasokan, warga menyoroti kondisi jaringan perpipaan yang diduga menjadi penyebab utama buruknya distribusi air di Gang 5 Desa Krangkeng.

Sopandi yang memahami persoalan teknis perpipaan menjelaskan, jaringan distribusi utama yang terpasang di kawasan tersebut hanya memiliki diameter 2 inci.

Ukuran pipa tersebut dinilai tidak lagi memadai untuk melayani ratusan rumah yang kini menjadi pelanggan Perumdam Tirta Darma Ayu.

Persoalan semakin kompleks karena terdapat penggunaan pompa penyedot air oleh pelanggan di kawasan depan gang. Kondisi ini diduga membuat tekanan air semakin berkurang sehingga pasokan sulit menjangkau pelanggan yang berada di bagian tengah hingga ujung gang.

“Walaupun suplai air melimpah dari Kuningan, Kertasmaya, maupun Waduk Jatigede, air tetap tidak akan sampai ke ujung gang kami. Pipanya terlalu kecil, cuma 2 inci. Idealnya untuk 100 sambungan rumah, jalur utama menggunakan pipa minimal 4 hingga 6 inci,” tegasnya.

Secara teknis, penggunaan pipa berdiameter kecil untuk melayani banyak sambungan rumah dapat meningkatkan kehilangan tekanan atau head loss.

Kondisi tersebut terjadi akibat gesekan air dengan dinding pipa serta hambatan aliran sepanjang jaringan distribusi.

Ketika jumlah pelanggan terus bertambah, kapasitas pipa yang tidak disesuaikan berpotensi menyebabkan tekanan air semakin melemah. Akibatnya, pelanggan yang berada dekat jalur distribusi utama masih berpeluang mendapatkan air, sedangkan rumah di bagian lebih jauh justru mengalami kesulitan pasokan.

Karena itu, warga menilai persoalan Gang 5 Desa Krangkeng tidak cukup diselesaikan hanya dengan menambah suplai air. Perbaikan jaringan distribusi juga harus menjadi perhatian utama.

Warga Minta PDAM Indramayu Segera Evaluasi Jaringan

Menghadapi kondisi yang sudah berlangsung hampir dua bulan, warga mendesak jajaran direksi dan pejabat Perumdam Tirta Darma Ayu segera turun langsung ke lapangan.

Mereka meminta dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap jaringan perpipaan, terutama kapasitas pipa distribusi utama yang selama ini melayani pelanggan di Gang 5.

Salah satu usulan yang disampaikan warga adalah mengganti pipa berdiameter 2 inci dengan jaringan yang lebih besar, yakni sekitar 5 inci, agar distribusi air dapat menjangkau seluruh pelanggan secara lebih optimal.

Warga berharap perbaikan tersebut tidak hanya menjadi wacana, tetapi segera direalisasikan melalui penanganan teknis yang terukur.

Sopandi juga meminta pemerintah daerah dan pihak PDAM memberikan perhatian lebih terhadap kebutuhan air bersih masyarakat di wilayah timur Kabupaten Indramayu.

Menurutnya, persoalan air bersih tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena menyangkut kebutuhan mendasar masyarakat setiap hari.

“Kami mohon dengan sangat kepada pejabat PDAM Indramayu untuk memperhatikan kami di wilayah timur ini. Air adalah kebutuhan vital. Jangan biarkan warga terus-terusan tersisihkan dan terabaikan,” pungkasnya.

Warga kini berharap Perumdam Tirta Darma Ayu segera memberikan solusi permanen. Sebab, selama aliran air belum kembali normal, masyarakat Gang 5 Desa Krangkeng harus terus mengeluarkan biaya tambahan hanya untuk mendapatkan air bersih. (abd)