CIREBON – Kawasan Stadion Bima tak lagi sekadar diproyeksikan sebagai pusat aktivitas olahraga. Setelah status kepemilikan asetnya memiliki kepastian, Pemerintah Kota (Pemkot) Cirebon mulai membidik kawasan seluas sekitar 30 hektare itu untuk menjadi magnet investasi sekaligus destinasi sports tourism.
Langkah awal dilakukan dengan memetakan seluruh potensi yang ada di kawasan Bima. Pemkot Cirebon juga mulai menyiapkan konsep pemanfaatan aset, termasuk peluang pengembangan UMKM, parkir hingga sumber pendapatan asli daerah (PAD).
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Cirebon, Andi Wibowo mengatakan, peninjauan langsung yang dilakukan Wali Kota Cirebon Effendi Edo bersama jajaran Pemkot Cirebon merupakan tindak lanjut setelah terbitnya sertifikat kepemilikan kawasan Bima.
“Pak Wali beserta kami semua melihat potensi-potensi yang ada di wilayah kawasan Bima. Memang untuk tahap awal seperti itu,” ujar Andi.
Menurutnya, Pemkot Cirebon ingin mengubah wajah kawasan Bima agar memiliki fungsi yang lebih luas. Aktivitas olahraga tetap menjadi bagian utama, namun kawasan tersebut juga diharapkan mampu menggerakkan aktivitas ekonomi.
“Keinginan pak Wali dan Pemerintah Kota Cirebon, kawasan Stadion Bima ini ke depan bisa menjadi salah satu ikon. Tidak hanya olahraga, tetapi juga tempat untuk teman-teman UMKM, kemudian potensi parkir dan potensi pendapatan asli daerah,” katanya.
Pemkot Cirebon sebenarnya telah memiliki feasibility study (FS) terkait pengembangan kawasan Bima. Namun, kajian tersebut akan kembali ditinjau agar rencana pengembangan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan saat ini.
“Sekarang memang tatarannya terkait dengan mapping potensi-potensi kawasan Bima Kota Cirebon. Mudah-mudahan nanti ketika review, hasil FS tersebut bisa mengimplementasikan kondisi yang ada sekarang,” tutur Andi.
Dibawa ke Agenda Investasi
Peluang masuknya investor juga mulai disiapkan. Namun, Andi menegaskan, kerja sama dengan pihak swasta tidak bisa dilakukan secara langsung karena masih ada sejumlah aspek regulasi dan konsep kerja sama yang harus dimatangkan.
Wali Kota Cirebon Effendi Edo mengatakan, kawasan Bima akan diusulkan melalui Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk ditawarkan dalam agenda investasi di tingkat pusat.
“Ini salah satunya Stadion Bima diusulkan dan ditawarkan ke tingkat pusat untuk investasi di Kota Cirebon,” jelas Edo.
Edo mengakui, luasnya kawasan Bima membuat Pemkot Cirebon menghadapi keterbatasan dalam pembiayaan pemeliharaan maupun pengembangannya. Karena itu, keterlibatan investor menjadi salah satu opsi untuk mengoptimalkan aset tersebut.
Meski demikian, skema kerja sama serta pola pembagian hasil dengan investor belum ditetapkan. Pemkot masih akan melihat konsep dan program yang ditawarkan calon investor.
Salah satu skema yang dinilai memungkinkan adalah kerja sama operasional (KSO).
“Yang paling aman adalah KSO, kerja sama operasional,” lanjut Edo.
Masuk Blue Book Sports Tourism Jabar
Potensi kawasan Bima juga mendapat perhatian dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Jawa Barat, Dedi Taufik Kurohman, menyebut kawasan tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi destinasi sports tourism.
Menurut Dedi, kawasan Bima menjadi salah satu lokasi yang ditawarkan Jawa Barat dalam pengembangan sports tourism. Konsep tersebut diharapkan membuat kawasan olahraga tidak hanya menjadi tempat aktivitas olahraga, tetapi juga memiliki nilai ekonomi.
“Bima ini bisa dijadikan yang namanya sports tourism. Salah satu di antaranya Bima ini,” ujarnya.
Dedi yang pernah menjabat sebagai Pj Wali Kota Cirebon pada 2018 tersebut menilai kawasan olahraga perlu diarahkan agar mampu memberikan kontribusi pendapatan.
“Ini momentum untuk mengubah yang namanya sports center itu harus menjadi fungsi revenue,” tambahnya.
Sejumlah fasilitas olahraga di kawasan Bima dinilai masih memiliki ruang untuk dikembangkan. Di antaranya venue sepak bola, kolam renang, basket dan fasilitas olahraga lainnya.
“Beberapa fasilitas di kawasan Bima sebenarnya masih dapat dikembangkan di antaranya venue sepak bola, renang, basket dan fasilitas lainnya,” ungkap Dedi.
Untuk menarik investor, pengembangan dapat dilakukan melalui berbagai skema pemanfaatan aset. Salah satunya investor membangun atau mengembangkan fasilitas tertentu, kemudian mengelolanya dalam jangka waktu sesuai kesepakatan dan ketentuan yang berlaku.
Kawasan Bima juga telah masuk dalam blue book sports tourism Jawa Barat. Posisi tersebut menjadi salah satu peluang untuk memperkenalkan potensi Bima kepada calon investor.
“Dengan kondisi kawasan Bima yang seperti ini, sangat memungkinkan untuk mendatangkan investor ke Kota Cirebon,” katanya.
Meski peluang investasi mulai terbuka, konsep pengembangan Bima belum sepenuhnya final. Dedi menyebut perlu dilakukan redesign karena kajian sebelumnya dibuat berdasarkan kondisi beberapa tahun lalu.
“Kalau sudah ada beberapa minat, berarti kita harus mendesain, redesign. Karena penilaiannya masih beberapa tahun yang lalu, kita harus menyesuaikan dengan situasi dan kondisi sekarang,” tuturnya.
Pemkot Cirebon bersama Pemprov Jawa Barat selanjutnya akan mematangkan pemetaan potensi, konsep pengembangan dan skema pemanfaatan aset sebelum kawasan Bima ditawarkan kepada calon investor. (its)
















