CIREBON – Lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kabupaten Cirebon mendapat perhatian dari DPRD. Tingginya jumlah kasus yang mencapai ratusan ribu tersebut dinilai perlu diantisipasi dengan kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan.
Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Cirebon, Nurkholis SPdI, meminta Dinas Kesehatan (Dinkes) memastikan seluruh fasilitas kesehatan (faskes), mulai dari puskesmas hingga rumah sakit, siap menghadapi peningkatan kunjungan pasien.
Menurutnya, meningkatnya kasus ISPA harus diimbangi dengan pelayanan kesehatan yang memadai. Jangan sampai lonjakan pasien justru membuat masyarakat kesulitan mendapatkan penanganan medis.
“Dinkes harus bisa menyediakan fasilitas kesehatan yang maksimal dalam menghadapi meningkatnya kasus ISPA,” ujar Nurkholis.
Ia menilai kesiapan tersebut tidak hanya menyangkut ketersediaan sarana dan prasarana, tetapi juga tenaga kesehatan. Kapasitas pelayanan setiap fasilitas kesehatan perlu dipetakan agar peningkatan jumlah pasien dapat ditangani dengan baik.
Nurkholis juga mengingatkan agar lonjakan kunjungan pasien tidak berujung pada penolakan pelayanan di rumah sakit dengan alasan keterbatasan kapasitas.
Menurutnya, setiap masyarakat yang membutuhkan penanganan medis harus tetap mendapatkan pelayanan sesuai kebutuhannya.
“Kami berharap tidak ada penolakan pasien di rumah sakit dengan alasan penuh pasien. Semua pasien yang akan berobat, baik di puskesmas maupun rumah sakit, harus diterima,” tegasnya.
Karena itu, Dinkes diminta segera melakukan pemetaan kapasitas pelayanan di seluruh fasilitas kesehatan. Langkah tersebut penting untuk mengetahui kesiapan masing-masing faskes sekaligus mengantisipasi jika jumlah kunjungan pasien terus meningkat.
Selain memperkuat kesiapan pelayanan, Nurkholis meminta upaya pencegahan ISPA turut ditingkatkan. Menurutnya, penanganan penyakit tersebut tidak cukup hanya dilakukan ketika masyarakat sudah mengalami gejala atau membutuhkan pengobatan.
Upaya promotif dan preventif harus berjalan beriringan dengan pelayanan medis. Tenaga kesehatan juga perlu dilibatkan secara aktif dalam memberikan edukasi kepada masyarakat.
“Dinkes juga harus melakukan pencegahan kasus ISPA di tengah masyarakat. Tentunya dengan melibatkan seluruh tenaga kesehatan,” katanya.
Edukasi tersebut dapat mencakup informasi mengenai ISPA, cara mengurangi risiko penularan, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, hingga mengenali gejala yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Di tengah peningkatan kasus, masyarakat juga diminta tidak panik. Nurkholis menilai kesiapan pemerintah daerah dan fasilitas kesehatan perlu didukung kesadaran masyarakat untuk menjaga kondisi kesehatan serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat.
“Yang terpenting masyarakat jangan sampai panik menghadapi lonjakan kasus ISPA ini,” pungkasnya. (den)
















