
CIREBON- Persoalan kerusakan ruas Jalan Panguragan-Lemahtamba, Kabupaten Cirebon, mendapat perhatian dari Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR).
DPUTR Kabupaten Cirebon memastikan ruas jalan tersebut masuk dalam agenda penanganan pada 2027. Pemerintah daerah bahkan telah menyiapkan rencana betonisasi dengan anggaran sekitar Rp1 miliar.
Kepastian itu disampaikan Kabid Bina Marga DPUTR Kabupaten Cirebon, Rezza Fauzi ST, menanggapi aksi swadaya masyarakat Desa Kroya yang memperbaiki jalan secara mandiri pada Senin (5/10).
Rezza membantah anggapan bahwa Jalan Panguragan-Lemahtamba tidak pernah mendapat perhatian pemerintah selama 18 tahun.
Menurut dia, ruas tersebut sudah beberapa kali mendapatkan penanganan, baik melalui pemeliharaan rutin maupun kegiatan peningkatan jalan.
“Kalau dikatakan selama belasan tahun tidak tersentuh perbaikan, itu tidak benar. Jalan tersebut sudah sering dilakukan perbaikan, baik pemeliharaan maupun peningkatan,” kata Rezza.
Kendaraan Berat Jadi Salah Satu Pemicu Jalan Cepat Rusak
Rezza menjelaskan, persoalan kerusakan Jalan Panguragan-Lemahtamba tidak semata-mata disebabkan kurangnya penanganan.
Salah satu faktor yang turut mempercepat kerusakan adalah konstruksi jalan yang selama ini masih menggunakan aspal. Kondisi tersebut diperparah dengan tingginya beban kendaraan yang melintas.
Menurut Rezza, sejumlah kendaraan yang melewati ruas tersebut memiliki bobot lebih dari delapan ton.
Beban kendaraan berat itu dinilai sudah melebihi kemampuan jalan kabupaten pada ruas tersebut. Akibatnya, permukaan jalan menjadi lebih cepat mengalami kerusakan meskipun sebelumnya telah dilakukan pemeliharaan.
“Ditambah lagi kendaraan yang melintas mempunyai bobot berat, bahkan lebih dari delapan ton. Ini melebihi standar jalan tipe kabupaten, sehingga jalan lebih cepat mengalami kerusakan,” jelasnya.
DPUTR Siapkan Betonisasi pada 2027
Di tengah keluhan masyarakat, DPUTR memastikan persoalan Jalan Panguragan-Lemahtamba tidak dibiarkan berlarut.
Rezza mengatakan, agenda penanganan ruas jalan tersebut sebenarnya sudah disiapkan sebelum warga melakukan perbaikan secara swadaya.
Pemerintah daerah berencana meningkatkan konstruksi jalan pada 2027. Berbeda dengan penanganan sebelumnya yang menggunakan aspal, kali ini ruas tersebut direncanakan menggunakan konstruksi beton.
Anggaran yang disiapkan untuk pekerjaan tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp1 miliar.
“Jauh sebelumnya sudah kami agendakan untuk perbaikan ruas jalan tersebut pada 2027. Rencananya dilakukan betonisasi dengan anggaran sekitar Rp1 miliar,” tandas Rezza.
Betonisasi diharapkan mampu meningkatkan kekuatan dan usia layanan jalan. Terlebih, ruas Panguragan-Lemahtamba menjadi jalur yang turut dilintasi kendaraan dengan muatan berat.
Dengan konstruksi yang lebih kuat, pemerintah berharap kerusakan jalan dapat ditekan dan masyarakat bisa mendapatkan akses transportasi yang lebih aman dan nyaman.
Warga Galang Dana hingga Rp400 Juta
Sebelumnya, kondisi Jalan Panguragan-Lemahtamba menjadi sorotan setelah warga Desa Kroya dan Karanganyar melakukan perbaikan secara swadaya.
Warga menggalang dana untuk menangani sejumlah titik jalan yang mengalami kerusakan parah, terutama pada ruas penghubung menuju Desa Lemahtamba.
Tokoh masyarakat setempat, H Sanuri, mengatakan warga sudah cukup lama menantikan perbaikan jalan tersebut.
Menurut dia, masyarakat telah menunggu sekitar 18 tahun agar kondisi jalan mendapatkan penanganan yang menyeluruh.
Kekecewaan muncul karena penanganan yang dilakukan sebelumnya dinilai belum menyelesaikan persoalan. Dari ruas jalan yang mengalami kerusakan, hanya sekitar 200 meter yang diperbaiki.
“Kami sudah terlalu lama menunggu. Sekian tahun berharap, ternyata cuma dibangun 200 meter. Ini benar-benar mengecewakan,” ujar Sanuri.
Dia mengatakan kerusakan jalan bukan hanya menghambat mobilitas warga, tetapi juga berpotensi membahayakan pengguna jalan.
Kondisi badan jalan yang berlubang bahkan disebut warga sudah menyerupai balong atau kubangan, terutama ketika turun hujan.
Selama ini, masyarakat terpaksa melakukan penanganan secara mandiri. Warga rutin melakukan iuran untuk membeli material urugan maupun sirtu guna menutup lubang yang muncul di badan jalan.
Namun, upaya tersebut hanya bersifat sementara karena kerusakan kembali muncul ketika jalan terus dilalui kendaraan.
Karena tidak ingin terus menunggu, warga akhirnya menginisiasi penggalangan dana secara terbuka.
Posko donasi ditempatkan di Masjid Kroya dan Masjid Karanganyar. Dukungan masyarakat pun disebut cukup besar.
“Respons masyarakat cukup besar. Dalam satu malam, dana yang terkumpul mencapai sekitar Rp300 juta,” ungkap Sanuri.
Penggalangan dana kemudian terus berjalan. Hingga akhirnya, total donasi yang berhasil dikumpulkan dari warga dan para donatur di empat desa sekitar mencapai sekitar Rp400 juta.
Kini, masyarakat berharap rencana betonisasi yang disiapkan DPUTR Kabupaten Cirebon benar-benar terealisasi pada 2027. Dengan demikian, persoalan kerusakan Jalan Panguragan-Lemahtamba yang selama ini menjadi keluhan warga dapat ditangani secara lebih permanen. (awr/den)















