Inovasi Atasi Sampah Organik, Camat Kesambi Kembangkan Budidaya Cacing untuk Bank Pakan

Camat Kesambi mengolah sampah organik dengan budidaya cacing untuk mengurangi sampah sekaligus mendukung bank pakan ikan sidat di Cirebon.

CIREBON – Pemerintah Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon, menghadirkan inovasi pengolahan sampah organik melalui budidaya cacing. Program ini tidak hanya ditujukan untuk mengurangi volume sampah, tetapi juga berpotensi menghasilkan nilai ekonomi dengan menjadikan cacing sebagai bahan baku pakan ikan.

Camat Kesambi, Eko Budiyanto, mengatakan budidaya cacing dikembangkan sebagai salah satu alternatif untuk mengatasi persoalan sampah organik yang selama ini menjadi tantangan di wilayah perkotaan. Sebagai langkah awal, pihaknya telah menyiapkan sekitar enam media budidaya untuk dijadikan proyek percontohan.

Menurut Eko, bahan baku yang digunakan berasal dari sampah organik yang dikirim oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di sekitar Kecamatan Kesambi serta Pasar Drajat. Sampah tersebut kemudian dimasukkan ke media budidaya untuk diurai oleh cacing.

“ Kami mendapat kiriman sampah organik dari SPPG di sekitar Kesambi dan juga Pasar Drajat. Sampah tersebut langsung disebar di media budidaya, dan dalam waktu sekitar dua hari, sampah organik sebanyak itu bisa habis diurai oleh cacing,” ujar Eko kepada Radar Cirebon.

Ia menjelaskan, pemilihan cacing sebagai pengurai sampah didasarkan pada pertimbangan keberlanjutan budidaya. Eko menilai cacing lebih mudah dipertahankan dalam sistem budidaya karena tidak mengalami metamorfosis seperti maggot yang akan berkembang menjadi lalat dewasa.

Dengan demikian, cacing dinilai memiliki potensi untuk terus dikembangbiakkan sekaligus dimanfaatkan dalam pengolahan sampah organik. Meski begitu, pengelolaan media dan ketersediaan pakan tetap perlu dijaga agar budidaya dapat berjalan secara optimal.

Budidaya Cacing Punya Nilai Ekonomi

Selain membantu mengurangi sampah, inovasi Kecamatan Kesambi ini juga diarahkan untuk menciptakan manfaat ekonomi. Cacing hasil budidaya berpotensi menjadi komoditas yang memiliki pasar, terutama untuk memenuhi kebutuhan pakan di sektor perikanan.

Eko menyebutkan, cacing banyak diminati oleh peternak ikan. Di kawasan Lengkong, Majalengka, misalnya, harga cacing di pasaran disebut berkisar Rp30.000 hingga Rp50.000 per kilogram.

Potensi tersebut menjadi salah satu alasan budidaya cacing terus dikembangkan. Sampah organik yang sebelumnya berpotensi menambah beban pengelolaan sampah dapat diolah menjadi sumber daya yang memiliki nilai guna.

Proses budidayanya pun relatif sederhana. Media yang digunakan terdiri dari campuran ampas kayu dan kotoran kambing. Campuran tersebut dibasahi dan dipersiapkan selama beberapa hari sebelum bibit cacing dimasukkan.

Melalui metode tersebut, pemerintah kecamatan berharap pengolahan sampah dapat dilakukan lebih dekat dengan sumbernya. Selain mengurangi sampah yang harus diangkut ke tempat pembuangan, program ini juga membuka peluang pemanfaatan hasil budidaya untuk kebutuhan lain.

Disiapkan Jadi Bank Pakan Ikan Sidat

Ke depan, Eko berencana mengembangkan budidaya cacing sebagai bank pakan tanpa biaya atau zero cost untuk mendukung budidaya ikan sidat atau unagi. Gagasan ini menghubungkan pengelolaan sampah organik dengan kebutuhan pakan ikan yang memiliki nilai jual relatif tinggi.

Eko menyebutkan, harga ikan sidat dapat mencapai Rp150.000 hingga Rp300.000 per kilogram. Dengan memanfaatkan cacing hasil budidaya sebagai bahan baku pakan, biaya produksi diharapkan bisa ditekan.

Rencananya, cacing akan diolah menjadi pakan berbentuk pasta. Prosesnya dilakukan dengan menghaluskan cacing hingga menyerupai bubur, kemudian mencampurkannya dengan tepung kanji dan sedikit pelet.

“Hasil budidaya cacing ini nantinya akan diolah menjadi pakan ikan sidat berbentuk pasta. Cacing dihaluskan seperti bubur, lalu dicampur tepung kanji dan sedikit pelet,” jelasnya.

Jika dikembangkan secara berkelanjutan, konsep tersebut berpotensi menciptakan rantai pemanfaatan sampah yang lebih produktif. Sampah organik dimanfaatkan sebagai media budidaya cacing, sedangkan cacing yang dihasilkan digunakan sebagai bahan baku pakan ikan.

Program yang telah berjalan sekitar empat bulan ini diharapkan menjadi salah satu solusi pengelolaan sampah organik di Kecamatan Kesambi. Inisiatif tersebut sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi sirkular melalui pemanfaatan kembali material organik.

Eko menambahkan, inovasi budidaya cacing tersebut juga mendapat respons positif dalam penilaian Adipura. Menurut dia, tim penilai memberikan skor tinggi terhadap program tersebut sebagai salah satu upaya pengelolaan sampah.

Dengan pengembangan lebih lanjut, budidaya cacing di Kecamatan Kesambi diharapkan tidak hanya membantu mengurangi timbunan sampah, tetapi juga menjadi model pengolahan sampah organik yang produktif, bernilai ekonomi, dan dapat diterapkan secara berkelanjutan. (abd)