CIREBON – Lautan warga mengenakan busana adat Cirebon berwarna hitam mengiringi pelaksanaan ritual sakral Panjang Jimat di Keraton Kacirebonan, Rabu (26/8/2026). Suasana keagungan budaya berpadu dengan kekhidmatan spiritual dalam peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW tersebut.
Tradisi turun-temurun yang telah diwariskan selama berabad-abad itu kembali digelar sebagai bagian dari upaya merawat nilai spiritual, ajaran Islam, dan kearifan lokal masyarakat Cirebon.
Pelaksanaan Panjang Jimat tahun ini bertepatan dengan 11 Mulud 1960 Aboge BE Bemisgi berdasarkan penanggalan tradisional. Rangkaian kegiatan berlangsung sejak pagi hingga malam hari dengan dua agenda utama.
Sultan Kacirebonan, Abdul Ghani Natadiningrat, mengatakan prosesi diawali dengan ritual Siraman Panjang pada pukul 09.00 WIB.
Dalam ritual tersebut, piring-piring pusaka peninggalan leluhur dibersihkan dan disucikan oleh kerabat serta abdi dalem Keraton Kacirebonan.
Air yang digunakan untuk mencuci benda-benda pusaka itu diberi taburan bunga setaman. Sementara itu, para abdi dalem yang mengenakan busana serba putih memanjatkan doa-doa keselamatan.
Ritual tersebut menjadi simbol pembersihan diri dan pemurnian hati dalam menyambut peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
“Puncak dari seluruh prosesi berlangsung pada malam hari melalui ritual Malam Pelal yang dimulai tepat pukul 20.00 WIB. Pada momen inilah keunikan serta keindahan budaya Cirebon terpancar,” katanya.
Memasuki malam hari, suasana Keraton Kacirebonan semakin khidmat. Para pengunjung dan penganut tradisi memadati area bangsal keraton yang diterangi cahaya lilin.
Pendar cahaya di tengah suasana malam menciptakan nuansa spiritual yang syahdu sekaligus memperkuat kesan sakral prosesi Panjang Jimat.
Salah satu keunikan Malam Pelal adalah ketentuan busana bagi para tamu dan pengunjung. Pihak Keraton Kacirebonan mengimbau seluruh warga dan tamu yang hadir mengenakan busana adat Cirebon berwarna hitam.
Dominasi warna hitam kemudian menciptakan pemandangan tersendiri di lingkungan keraton. Busana adat berwarna gelap berpadu dengan nyala lilin yang menerangi prosesi, menghadirkan suasana agung dan penuh kekhidmatan.
Dalam tradisi tersebut, warna hitam dimaknai sebagai simbol ketenangan, keteguhan hati, serta ketundukan manusia di hadapan Sang Pencipta.
Pihak Keraton Kacirebonan juga mengingatkan seluruh warga dan wisatawan yang hadir untuk menjaga ketertiban, kesopanan, dan kesantunan selama berada di lingkungan keraton.
Hal itu dilakukan agar kesucian dan kesakralan ritual Panjang Jimat tetap terjaga, sekaligus memberikan kenyamanan bagi masyarakat yang ingin menyaksikan langsung salah satu warisan budaya Cirebon.
Tradisi Panjang Jimat bukan sekadar perayaan tahunan. Ritual ini menjadi manifestasi perpaduan antara ajaran Islam dan kebudayaan lokal yang terus hidup di tengah masyarakat Cirebon.
“Melalui lantunan selawat, ritual penyucian, hingga busana adat yang seragam, Keraton Kacirebonan terus berkomitmen merawat warisan leluhur agar tetap hidup dan bermakna bagi generasi mendatang,” pungkasnya. (wan)
















