Haul Syekh Maulana Akbar, Momentum Menapaktilasi Sejarah dan Spiritualitas Kuningan

Pemkab Kuningan menggelar Haul Syekh Maulana Akbar

KUNINGAN – Pemerintah Kabupaten Kuningan menggelar Haul Syekh Maulana Akbar yang dirangkaikan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, istighosah, dan Tabligh Akbar dalam rangka Hari Jadi ke-528 Kuningan.

Kegiatan bertajuk “Napak Tilas Spiritualitas dan Kepemimpinan Menuju Kuningan Melesat” itu menghadirkan Ustaz Sholeh Mahmoed Nasution atau Ustaz Solmed. Lebih dari sekadar seremoni keagamaan, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk menengok kembali sejarah sekaligus menggali nilai perjuangan para ulama dan pendahulu Kuningan.

Rangkaian kegiatan diawali dengan ziarah dan doa bersama di makam Syekh Maulana Akbar. Para peserta mengirimkan Al-Fatihah dan doa untuk Syekh Maulana Akbar, para ulama, leluhur, serta tokoh-tokoh pendahulu Kuningan.

Kabag Kesra Setda Kuningan, Emup Muplihudin, mengatakan haul, istighosah, dan Tabligh Akbar menjadi bagian penting dalam memaknai Hari Jadi Kuningan.

Menurutnya, perjalanan panjang sebuah daerah tidak dapat dilepaskan dari peran ulama, leluhur, sesepuh, dan para pemimpin yang telah mengabdikan diri kepada masyarakat.

“Hari Jadi harus menjadi ruang untuk meneduhkan hati, mengenang jasa para pendahulu, mengambil keteladanan dari perjuangan mereka, sekaligus memperkuat tekad untuk melanjutkan pembangunan Kabupaten Kuningan,” ujarnya.

Ia menambahkan, istighosah menjadi ikhtiar spiritual untuk memohon pertolongan, keberkahan, dan keselamatan bagi masyarakat. Sementara Tabligh Akbar diharapkan dapat memperkuat ilmu dan ukhuwah.

Makna haul kemudian diperdalam melalui selayang pandang tentang Syekh Maulana Akbar yang disampaikan akademisi Sejarah Peradaban Islam UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Prof H Didin Nurul Rosidin MA PhD.

Menurut Prof Didin, haul seorang ulama setidaknya memiliki dua makna penting, yakni mengenang jasa sekaligus menghidupkan kembali nilai perjuangan yang diwariskan.

Karena itu, haul tidak seharusnya berhenti sebagai ritual tahunan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut dapat menjadi ruang refleksi sejarah sekaligus pendidikan bagi generasi penerus.

“Sejarah yang hanya dikenang akan menjadi nostalgia, sejarah yang diteliti akan menjadi ilmu, tetapi sejarah yang dihidupkan akan menjadi inspirasi, dan sejarah yang diteruskan akan menjadi peradaban,” katanya.

Prof Didin menuturkan, Syekh Maulana Akbar tidak cukup dipandang hanya sebagai sosok yang makamnya diziarahi. Ia merupakan ulama yang meninggalkan gagasan, strategi sosial, pendidikan, serta warisan peradaban yang masih relevan untuk dipelajari hingga kini.

Dalam sejarah lokal, perjalanan Syekh Maulana Akbar berkaitan erat dengan perkembangan dakwah Islam di Kuningan. Ia disebut mendirikan pesantren di Sidapurna yang kemudian berkembang dan melahirkan permukiman baru bernama Purwawinangun. Setelah wafat, Syekh Maulana Akbar dimakamkan di Astana Gede.

Jejak tersebut menjadi pengingat bahwa sejarah sebuah daerah tidak hanya dibangun melalui pembangunan fisik, tetapi juga oleh gagasan, pendidikan, nilai keagamaan, dan keteladanan yang diwariskan lintas generasi.

Bupati Kuningan, Dr H Dian Rachmat Yanuar, mengatakan Haul Syekh Maulana Akbar menjadi momentum untuk bertafakur dan bermuhasabah sekaligus mengingat kembali akar sejarah daerah.

“Atas nama pribadi, keluarga, dan pemerintah, saya menyampaikan selamat memperingati Hari Jadi Kuningan yang ke-528 kepada seluruh warga masyarakat Kabupaten Kuningan,” ujarnya.

Menurut Dian, pembangunan daerah tidak boleh hanya berorientasi pada pembangunan fisik. Peningkatan kualitas sumber daya manusia, moral, kehidupan keagamaan, dan kepedulian sosial harus berjalan beriringan.

“Kemajuan sebuah bangsa tidak akan memiliki makna apabila tidak dibarengi dengan akhlak atau karakter yang mulia,” tegasnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk menjaga kondusivitas daerah dan tidak mudah terpecah oleh isu-isu yang menyesatkan. Perbedaan, menurutnya, harus menjadi kekuatan untuk mempererat persaudaraan.

Dian menegaskan, pemerintah tidak dapat berjalan sendiri. Pembangunan Kuningan membutuhkan kebersamaan antara pemerintah, ulama, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen masyarakat.

Bupati juga mengapresiasi kehadiran Ustaz Solmed yang memberikan tausiah dalam Tabligh Akbar. Ia berharap pesan keagamaan yang disampaikan dapat membuka hati dan pikiran masyarakat serta menjadi bekal untuk meningkatkan kualitas kehidupan.

Rangkaian kegiatan di Astana Gede kemudian ditutup dengan Tabligh Akbar bersama Ustaz Solmed. Seluruh agenda menyatukan ziarah, doa, istighosah, refleksi sejarah, dan tausiah keagamaan sebagai bagian dari peringatan Hari Jadi ke-528 Kuningan. (ags)