KUNINGAN – Diklat Sepakbola Kuningan atau DSK kembali menghadirkan ajang pembinaan sepak bola usia dini melalui DSK Mini Fun Festival 2, Laga Silaturahmi Antar SSB 2026. Digelar selama 2 hari, Sabtu-Minggu, 15-16 Agustus 2026, di Lapangan Sindang Sari, Kecamatan Sindangagung, Kabupaten Kuningan, festival ini mempertemukan talenta muda dari sejumlah sekolah sepak bola di Kuningan, Cirebon dan Majalengka.
Bukan hanya mengejar gelar juara, festival yang menjadikan DSK sebagai tuan rumah ini dirancang sebagai ruang silaturahmi, evaluasi pembinaan sekaligus pengalaman bertanding bagi pemain usia dini. Pada kategori U-10, pertandingan menggunakan format 2 grup dengan jalur Gold dan Silver, sementara kategori U-12 diikuti 6 SSB dengan sistem liga atau single round robin, total 15 pertandingan.
Sejumlah pemain turut mendapat penghargaan individual dalam kompetisi ini. Dimulai dari Afi, pemain nomor punggung 9 dari SSB Bintang Rajawali, meraih kategori Top Score sebagai pencetak gol terbanyak. Nadif dari SSB Lakemba nomor punggung 13 dinobatkan sebagai Best Player, sedangkan Faiz dari DSK nomor punggung 20 meraih penghargaan Best Goal Keeper.
Pelatih SSB Diklat Sepakbola Kuningan, Coach Satria Nurzaman, mengatakan DSK Mini Fun Festival menjadi agenda yang diarahkan untuk terus digelar setiap tahun. Pelatih berlisensi B PSSI yang dalam setahun terakhir dipercaya sebagai head coach Persindra Indramayu ini menyebut penyelenggaraan tahun kedua mendapat respons positif dari peserta.
“Alhamdulillah hari ini kita di hari kedua untuk usia 12 tahun kelahiran 2014-2015. Kemarin kita sudah melaksanakan U-10 dan hari ini U-12. Semua pemain bermain, semua happy, semua enjoy,” ujar Satria. Menurutnya, pada kategori U-12 terdapat 15 pertandingan dengan durasi 2 kali 10 menit. Hasil akhir menempatkan SSB Lakemba dari Kadugede sebagai juara pertama, disusul SSB Bintang Rajawali dari Cirebon sebagai peringkat kedua, sementara Diklat Sepakbola Kuningan berada di posisi ketiga.
Untuk kategori U-10 yang digelar sehari sebelumnya, jalur Gold menempatkan SSB Persikas Kasuri dari Cikijing, Majalengka, SSB Alas dan Diklat Sepakbola Kuningan sebagai tiga peraih posisi teratas. Format pertandingan dirancang agar setiap pemain mendapatkan kesempatan bermain sekaligus merasakan atmosfer kompetisi secara langsung.
Satria menegaskan, pembinaan sepak bola usia dini tidak semestinya hanya berorientasi pada kemenangan. Setiap SSB, menurut dia, perlu menjaga sportivitas, rasa hormat dan fair play karena tujuan utama kompetisi usia dini adalah membentuk pemain sekaligus karakter anak.
“Pembinaan atau development ini bukan hanya fokus mencari juara, tapi menjaga respect dan fair play. Apabila sudah didaftarkan untuk mengikuti satu festival, otomatis ada data-data yang valid, data-data yang akurat yang sudah di-cross check. Jangan sampai hal-hal ini menjadi alasan utama yang membuat kompetisi menjadi rumit,” tegas Satria.
Baca Juga: Astry Cup 2026 di Cibingbin Jadi Ruang Pembinaan Atlet Muda, Aris Boby Dorong Turnamen Berkelanjutan
Ia juga mengingatkan pengelola SSB untuk menciptakan suasana kompetisi yang sehat dan edukatif. Anak-anak, menurutnya, perlu mendapatkan pengalaman bertanding yang menyenangkan agar proses pembinaan tidak hanya menghasilkan pemain dengan kemampuan teknis, tetapi juga membentuk karakter positif.
“Sepak bola itu indah, sepak bola itu enjoy. Apalagi untuk anak-anak, kita berikan edukatif yang baik dan positif. Kita lihat mereka sangat bergembira, sangat senang dan merasa enjoy. Mereka semua menunggu dari kita untuk bisa lebih baik lagi dalam memberikan sistem pembinaan kepada mereka,” katanya.
DSK juga memastikan festival ini bukan kegiatan yang berhenti pada satu penyelenggaraan. Satria menyampaikan rencana untuk kembali menggelarnya pada tahun berikutnya, bahkan membuka kemungkinan menghadirkan kategori usia yang lebih tinggi seperti U-13 dan U-15.
“Insyaallah akan selalu kita gelar tiap tahun. Setelah ini mungkin kita juga akan gelar di usia 13 ataupun 15. Nantikan gebrakan-gebrakan selanjutnya,” ucapnya.
Bagi orang tua peserta, keberadaan DSK bukan hanya memberi ruang bagi anak untuk bermain sepak bola, tetapi juga membantu proses pembentukan karakter. Tiara, orang tua Bintang dan Tio, mengaku sudah memasukkan anaknya ke DSK selama sekitar 3 tahun dan melihat perkembangan yang cukup signifikan sejak awal bergabung.
Ia menyebut anak-anaknya yang sebelumnya belum memahami permainan sepak bola kini mampu berkembang dan bermain di sejumlah posisi. Menurut Tiara, proses latihan di DSK juga memberikan perubahan dalam keseharian anak, terutama dalam hal kedisiplinan dan tanggung jawab.
“Di sini bukan hanya anak-anak diajarkan bermain bola, tentunya diajarkan melatih mental, terutama karakter pribadi mereka. Anak saya jadi lebih disiplin dan punya rasa tanggung jawab. Berangkat latihan juga tidak mau terlambat,” tutur Tiara.
Ia berharap DSK terus konsisten memperkuat pembinaan dan menjadi wadah positif bagi anak-anak untuk berkembang sesuai proses masing-masing. Bagi para orang tua, hasil akhir pertandingan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan, melainkan bagaimana anak mendapatkan pengalaman, disiplin, percaya diri dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik melalui olahraga. (Bubud Sihabudin)
















