
CIREBON – Memiliki produk yang laris belum tentu membuat sebuah usaha siap berkembang. Bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), tantangan justru bisa semakin kompleks ketika bisnis mulai membesar.
Persoalan yang muncul bukan lagi sekadar bagaimana meningkatkan penjualan. Pelaku usaha juga harus memikirkan pencatatan keuangan, legalitas, strategi pemasaran, akses pembiayaan, hingga cara memperluas jaringan dan menemukan pasar baru.
Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam Regional Offline AKSARA (Akselerasi Wirausaha) Jawa Barat 2026 yang digelar di Kota Cirebon, Selasa (8/9/2026).
Sekitar 50 pelaku UMKM dari berbagai sektor mengikuti kegiatan tersebut. Mereka berasal dari beragam bidang, mulai makanan dan minuman, fesyen, ekonomi kreatif, bisnis digital, kesehatan, pendidikan, akomodasi, industri hingga pertanian.
Para peserta membawa produk dan pengalaman usaha masing-masing. Namun, kebutuhan mereka relatif sama, yakni mendapatkan pendampingan agar bisnis yang selama ini dijalankan secara rutin dapat berkembang lebih terarah dan profesional.
Wali Kota Cirebon Effendi Edo menilai, persoalan UMKM untuk naik kelas tidak selalu disebabkan keterbatasan modal.
Menurutnya, cukup banyak pelaku usaha yang sebenarnya telah memiliki produk berkualitas. Hanya saja, kualitas produk tersebut belum selalu didukung dengan sistem pengelolaan bisnis yang kuat.
“Persoalan UMKM untuk naik kelas tidak selalu berakar pada minimnya modal. Banyak pelaku usaha kita yang produknya berkualitas, tetapi belum ditopang oleh sistem bisnis yang kokoh,” ujar Edo.
Salah satu persoalan yang masih kerap ditemui adalah pengelolaan usaha yang sederhana. Keuangan pribadi masih bercampur dengan keuangan bisnis, pencatatan transaksi belum tertata, sementara perencanaan pengembangan usaha belum sepenuhnya berdasarkan perhitungan yang matang.
Padahal, ketika bisnis ingin berkembang, kemampuan mengelola keuangan menjadi salah satu fondasi penting.
Pelaku UMKM juga dituntut mampu membaca perubahan perilaku konsumen. Produk yang bagus tidak otomatis memiliki pasar luas apabila pemilik usaha tidak memahami target konsumennya, cara menjangkau pasar, maupun peluang kerja sama dengan mitra.
Karena itu, pengembangan UMKM dinilai tidak cukup hanya melalui pelatihan keterampilan produksi.
Pelaku usaha perlu mendapatkan pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai bisnis, mulai dari legalitas, manajemen keuangan, akses pembiayaan, pemasaran hingga pembangunan jejaring usaha.
“Kita ingin pelaku usaha bergeser dari sekadar menjalankan rutinitas transaksi harian menuju entitas ekonomi yang memiliki fondasi yang kuat, adaptif terhadap perubahan pasar, dan mempunyai proyeksi pertumbuhan yang terukur,” kata Edo.
Produk Lokal Cirebon Perlu Pasar Lebih Luas
Kota Cirebon memiliki sejumlah modal penting untuk mengembangkan sektor kewirausahaan. Letaknya strategis dan menjadi salah satu simpul perdagangan serta jasa di wilayah Ciayumajakuning.
Selain itu, Cirebon mempunyai kekuatan identitas lokal yang dapat dikembangkan menjadi nilai jual, terutama melalui sektor kuliner dan ekonomi kreatif.
Namun, potensi tersebut belum akan maksimal jika produk UMKM hanya berputar di pasar yang sama.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Barat Dedi Taufik mengatakan, tantangan berikutnya adalah mempertemukan produk UMKM dengan pasar yang lebih luas.
“Jadi bukan hanya memberikan materi, tetapi bagaimana kita sinkronisasikan produk yang sudah ada dengan market. Produk lokal dari Cirebon, Kuningan dan daerah lainnya harus bisa memiliki pasar yang lebih luas,” kata Dedi.
Menurut dia, proses pendampingan seharusnya tidak berhenti ketika kegiatan pelatihan selesai.
Narasumber maupun pendamping perlu membantu peserta mencari peluang pemasaran, termasuk membuka akses kepada calon pembeli dan mitra bisnis.
Dengan pola tersebut, kegiatan pengembangan UMKM tidak hanya menghasilkan tambahan pengetahuan, tetapi juga berpotensi menciptakan transaksi dan jaringan usaha baru.
Salah satu peluang yang dapat dimanfaatkan adalah pasar belanja pemerintah. Produk UMKM lokal berpeluang digunakan untuk memenuhi kebutuhan tertentu, termasuk suvenir atau merchandise dalam berbagai kegiatan.
Bagi pelaku usaha, masuk ke pasar tersebut dapat memberikan dua keuntungan sekaligus. Produk memperoleh pasar baru, sementara identitas produk lokal juga semakin dikenal masyarakat.
UMKM Didorong Ciptakan Lapangan Kerja
Penguatan UMKM pada akhirnya bukan hanya berbicara mengenai jumlah produk yang berhasil terjual setiap hari.
Lebih jauh, UMKM diharapkan mampu berkembang menjadi usaha yang menghasilkan keuntungan sehat, menyerap tenaga kerja, menciptakan sumber pendapatan baru, serta bertahan dalam jangka panjang.
Dedi mengatakan, pelaku usaha yang mengikuti AKSARA memiliki peluang untuk menjadi penggerak perekonomian di daerah masing-masing.
“Kita harus bangga dengan teman-teman yang hadir. Mereka bukan hanya menciptakan usaha untuk dirinya sendiri, tetapi diharapkan nantinya mampu menciptakan lapangan kerja baru,” tuturnya.
Ketika satu UMKM berkembang, dampaknya juga dapat dirasakan oleh lingkungan sekitar. Pertumbuhan usaha dapat meningkatkan kebutuhan tenaga kerja, memperluas jaringan pemasok, sekaligus membuka peluang bagi usaha lain.
Karena itu, pengembangan UMKM membutuhkan ekosistem yang saling terhubung. Pelaku usaha tidak bisa berjalan sendirian tanpa dukungan pemerintah, dunia usaha, mentor, lembaga pembiayaan, komunitas maupun akses pasar.
Pemkot Cirebon pun membuka ruang kolaborasi tersebut melalui dukungan informasi, legalitas, pembiayaan, pendampingan hingga akses pemasaran.
“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai agenda satu hari, tetapi menghasilkan jaringan bisnis baru, pengetahuan manajerial yang bisa diterapkan, serta keberanian untuk mengeksekusi rencana pengembangan usaha,” ungkap Edo.
Pada akhirnya, tantangan UMKM bukan semata-mata membuat produk yang berkualitas. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan produk tersebut menemukan pasar, menghasilkan keuntungan yang sehat, dikelola secara profesional, dan mampu berkembang secara berkelanjutan.
Melalui AKSARA Jabar 2026, pelaku UMKM diharapkan mulai mengubah cara pandang. Bukan lagi sekadar berjualan untuk bertahan, tetapi membangun bisnis yang memiliki fondasi kuat dan mampu tumbuh.
Dari Cirebon, langkah tersebut diharapkan berkembang menjadi jejaring usaha yang lebih besar sekaligus membuka jalan bagi produk-produk lokal untuk menembus pasar yang lebih luas. (cep/ade)















