
CIREBON – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cirebon mulai meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim hujan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memetakan sejumlah titik rawan banjir dan genangan, terutama di wilayah yang memiliki potensi terdampak luapan sungai maupun pasang air laut atau rob.
Sedikitnya tiga kecamatan menjadi perhatian BPBD Kota Cirebon, yakni Harjamukti, Kesambi, dan Lemahwungkuk. Ketiga wilayah tersebut masuk dalam pemetaan karena memiliki karakteristik kerawanan yang berbeda, mulai dari aliran air kiriman dari wilayah hulu hingga pengaruh pasang air laut di kawasan pesisir.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Kota Cirebon, Eko Kuswantoro, mengatakan berbagai persiapan telah dilakukan untuk memastikan penanganan bencana dapat berjalan optimal ketika hujan dengan intensitas tinggi mulai terjadi.
Salah satu upaya awal adalah memeriksa seluruh peralatan kebencanaan yang dimiliki BPBD. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk memastikan setiap perlengkapan dapat digunakan sewaktu-waktu ketika terjadi keadaan darurat.
“Peralatan untuk penanganan kebencanaan sudah kami cek dan dalam kondisi siap,” ujar Eko, belum lama ini.
Selain memeriksa peralatan, BPBD Kota Cirebon juga menyiapkan agenda pemantauan sejumlah sungai dan lokasi yang berpotensi menimbulkan banjir. Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung mulai pekan ini hingga pekan depan.
Pemantauan lapangan menjadi bagian penting dalam proses pemetaan titik rawan banjir. Melalui kegiatan tersebut, petugas dapat mengetahui kondisi terkini aliran sungai, mengidentifikasi potensi hambatan aliran air, serta menentukan lokasi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Langkah ini juga ditujukan untuk mengantisipasi kemungkinan meluapnya sungai ketika terjadi hujan berintensitas tinggi. Dengan mengetahui kondisi lapangan lebih awal, penanganan diharapkan bisa dilakukan sebelum genangan berkembang menjadi banjir yang berdampak terhadap aktivitas masyarakat.
Tiga Kecamatan di Kota Cirebon Masuk Pemetaan Rawan Banjir
Dalam pemetaan yang dilakukan BPBD, Harjamukti, Kesambi, dan Lemahwungkuk menjadi tiga kecamatan yang mendapat perhatian khusus.
Lemahwungkuk memiliki potensi kerawanan yang berkaitan dengan aliran sungai dan kondisi pasang air laut. Ketika debit sungai meningkat, sementara permukaan air laut sedang mengalami pasang, aliran air menuju laut dapat mengalami hambatan.
Situasi tersebut berpotensi menyebabkan air tertahan dan meluap ke daratan, terutama di kawasan yang memiliki elevasi rendah atau sistem drainase yang kurang optimal.
Sementara itu, Harjamukti dan Kesambi juga masuk dalam daftar wilayah yang perlu diantisipasi. BPBD akan terus melakukan pemantauan untuk mengetahui titik-titik yang berpotensi mengalami genangan maupun luapan air saat hujan deras.
Eko menjelaskan, ancaman banjir di Kota Cirebon tidak semata-mata dipengaruhi oleh curah hujan yang turun di wilayah perkotaan. Kondisi sungai di daerah hulu juga memiliki pengaruh besar terhadap peningkatan debit air yang masuk ke wilayah Kota Cirebon.
Artinya, meskipun hujan tidak turun dengan intensitas tinggi di dalam kota, peningkatan debit air dari wilayah hulu tetap dapat memicu kenaikan permukaan air sungai.
Risiko tersebut semakin besar apabila peningkatan debit sungai terjadi bersamaan dengan pasang air laut. Kombinasi kedua faktor ini dapat menghambat pembuangan air menuju laut sehingga meningkatkan potensi banjir di kawasan tertentu.
BPBD Perkuat Koordinasi dengan DPUTR dan DPRKP
Untuk mengurangi risiko banjir, BPBD Kota Cirebon juga memperkuat koordinasi dengan sejumlah perangkat daerah, khususnya Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) serta Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP).
Koordinasi tersebut berkaitan dengan penanganan saluran drainase, pemeliharaan infrastruktur pengairan, hingga normalisasi sungai di lokasi yang membutuhkan penanganan.
Sinergi antarinstansi dinilai penting karena penanggulangan banjir tidak cukup hanya mengandalkan kesiapan petugas dan peralatan kebencanaan. Kondisi saluran air, kapasitas sungai, serta kelancaran aliran menuju muara juga menjadi faktor yang menentukan.
BPBD berharap hasil pemantauan dan pemetaan dapat menjadi dasar bagi instansi terkait untuk menentukan prioritas penanganan, terutama di lokasi yang memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi.
Dengan demikian, upaya mengurangi risiko banjir dapat dilakukan secara lebih terarah dan tidak hanya bersifat responsif ketika bencana sudah terjadi.
BPBD Kota Cirebon pun mengimbau agar kesiapsiagaan terus ditingkatkan selama musim hujan. Terlebih, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai dan kawasan pesisir perlu memperhatikan perkembangan kondisi cuaca maupun kenaikan permukaan air.
Melalui pemeriksaan peralatan, pemantauan sungai, pemetaan wilayah rawan, serta koordinasi lintas instansi, BPBD berharap dampak banjir di Kota Cirebon dapat ditekan.
Pengawasan lapangan juga akan menjadi perhatian, khususnya ketika hujan lebat terjadi bersamaan dengan peningkatan debit sungai dan pasang air laut. Dengan langkah antisipasi sejak dini, risiko bencana diharapkan dapat diminimalkan sehingga keselamatan masyarakat tetap terjaga. (ade)















