Serapan Gabah Bulog Indramayu Tembus Target 2026, Tapi Harga Gabah Jadi Tantangan

Bulog Indramayu mengklaim bahwa serapan gabah yang mereka lakukan tembus terget 2026

INDRAMAYU – Serapan beras Bulog Cabang Indramayu sepanjang 2026 telah melampaui target yang ditetapkan. Namun, capaian tersebut berlangsung di tengah tingginya harga gabah yang membuat pengusaha penggilingan padi menghadapi tekanan biaya produksi.

Kondisi itu menjadi salah satu pembahasan dalam rapat evaluasi pengadaan beras antara Bulog Cabang Indramayu dan para pengusaha penggilingan padi yang tergabung dalam Perpadi Kabupaten Indramayu, Selasa (15/9).

Pimpinan Cabang Bulog Indramayu Apip Wijaya mengatakan, peran mitra penggilingan sangat penting dalam menjaga kelancaran pengadaan beras sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.

“Kami mengapresiasi komitmen para pengusaha penggilingan yang tetap aktif mengolah dan menyuplai beras ke gudang Bulog guna menjaga ketahanan pangan nasional,” kata Apip.

Menurutnya, para pengusaha penggilingan saat ini menghadapi tantangan berupa kenaikan harga gabah di tingkat petani. Harga tersebut bahkan berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang ditetapkan sebesar Rp6.500 per kilogram.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak menghentikan upaya Bulog untuk melakukan penyerapan.

Apip menyebutkan, target pengadaan beras Bulog Cabang Indramayu pada 2026 ditetapkan sebesar 174.000 ton setara beras. Hingga pertengahan September, realisasinya telah mencapai lebih dari 100 persen.

“Alhamdulillah, untuk target tahun 2026 sebesar 174.000 ton setara beras, kita sudah mencapai lebih dari 100 persen. Walau ada dinamika harga, kami di Bulog Indramayu tetap melakukan optimalisasi penyerapan gabah dan beras hingga akhir tahun,” ujarnya.

Apip menegaskan, Bulog memiliki tugas untuk menjaga penyerapan gabah agar harga di tingkat petani tidak jatuh di bawah standar pemerintah.

Gabah dan beras yang berhasil diserap kemudian dapat menjadi bagian dari Cadangan Pangan Pemerintah (CPP). Cadangan tersebut memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan pangan sekaligus membantu stabilisasi harga di tingkat konsumen.

Harga Gabah Tembus Rp9.200 per Kilogram

Sementara itu, Ketua DPC Perpadi Kabupaten Indramayu Oktavian Gatra Barbehen Sagala mengungkapkan persoalan yang dihadapi pengusaha penggilingan saat ini.

Menurut Gatra, harga gabah di lapangan telah jauh melewati HPP. Berdasarkan keluhan yang diterima dari para pengusaha penggilingan, harga gabah bahkan mencapai Rp9.200 per kilogram.

Kondisi tersebut membuat margin usaha penggilingan semakin tertekan. Sebab, harga jual beras harus berhadapan dengan biaya pembelian gabah, proses produksi hingga transportasi.

“Untuk harga tertinggi yang kami dapati dari keluh kesah pengusaha penggiling itu bisa sampai Rp9.200 per kilogram. Kalau diolah jadi beras dengan HET Rp14.900 per kilogram, jelas rugi karena tidak sebanding dengan biaya olah dan transpor. Namun, kami berikrar tetap beroperasi dan bersinergi dengan pemerintah,” kata Gatra.

Ia menyebut tingginya harga gabah dipengaruhi sejumlah faktor. Salah satunya dampak musim kemarau panjang akibat El Nino. Selain itu, Gatra juga menyebut adanya dugaan permainan dalam tata niaga gabah yang perlu mendapat perhatian.

Menurutnya, diperlukan titik harga gabah yang lebih ideal agar kepentingan petani dan keberlangsungan usaha penggilingan sama-sama terjaga.

Gatra menilai harga sekitar Rp7.000 per kilogram dapat menjadi salah satu angka yang lebih ideal untuk menciptakan keseimbangan tersebut.

Di sisi lain, Perpadi mendorong Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengkaji fleksibilitas Harga Eceran Tertinggi (HET) beras. Perpadi juga mengapresiasi langkah pemerintah pusat yang menurunkan Satgas Pangan untuk melakukan pemantauan di lapangan.

Mitra Penggilingan Berkomitmen Jaga Pengadaan Beras

Dalam rapat tersebut, para mitra penggilingan padi dan beras di Kabupaten Indramayu juga menyatakan komitmennya untuk tetap mendukung program pengadaan beras nasional.

Komitmen itu dituangkan melalui deklarasi pengadaan beras nasional di Kabupaten Indramayu yang dibacakan bersama oleh para mitra penggilingan.

Kegiatan tersebut turut disaksikan sejumlah stakeholder, di antaranya Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DKPP) Kabupaten Indramayu, Polres Indramayu, serta Kodim Indramayu.

Deklarasi tersebut menjadi bentuk sinergi antara Bulog, pengusaha penggilingan, dan pemerintah untuk menjaga kelancaran pengadaan beras.

Dengan capaian serapan yang telah melampaui target, Bulog Indramayu memastikan optimalisasi pengadaan tetap dilanjutkan hingga akhir 2026, di tengah dinamika harga gabah dan tantangan yang dihadapi pelaku usaha penggilingan. (oni)