
CIREBON — Sektor logistik dan rantai pasok material pembangunan di Jawa Barat mendapatkan dorongan energi baru. Langkah strategis ini terwujud setelah PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP Nonpetikemas) dan PT Global Bitumen Utama (GBU) secara resmi menandatangani Perjanjian Kerjasama (PKS) terkait pelayanan bongkar muat komoditas aspal curah dan aspal emulsi.
Prosesi penandatanganan kesepakatan bernilai strategis tersebut berlangsung khidmat di Hotel Patra, Cirebon, pada Kamis (10/9/2026). Sinergi kedua pihak diproyeksikan menjadi katalis utama dalam menghadirkan pelayanan bongkar muat komoditas aspal yang lebih terintegrasi, efisien, aman, dan ramah lingkungan di Pelabuhan Cirebon.
Acara penandatanganan dihadiri langsung oleh deretan manajemen puncak dari kedua belah pihak. Tampak hadir Direktur Utama PTP Nonpetikemas Indra Hidayat Sani, Wakil Direktur Utama Padot M Gultom, Branch Manager PTP Nonpetikemas Cabang Cirebon Hari Priyatna, serta General Manager PT Global Bitumen Utama Ika F.
Infrastruktur Jabar Makin Kokoh lewat Sinergi Rantai Pasok
Kerja sama ini lahir sebagai jawaban atas kebutuhan kepastian layanan kepelabuhanan yang prima bagi para pengguna jasa. Dengan arus pasokan aspal curah dan emulsi yang makin lancar, percepatan dan pemeliharaan proyek infrastruktur jalan di seluruh penjuru Jawa Barat dan sekitarnya diyakini dapat berjalan tanpa kendala logistik.
Melalui kemitraan ini, PTP Nonpetikemas dan GBU berkomitmen mengedepankan operasional berbasis operational excellence. Fokus utama penanganan barang difokuskan pada peningkatan standar keselamatan, keamanan kerja, kualitas layanan, efisiensi waktu sandar (dwelling time), serta kepatuhan ketat terhadap regulasi maritim yang berlaku.
Direktur Utama PTP Nonpetikemas, Indra Hidayat Sani, menegaskan bahwa penandatanganan kesepakatan ini merupakan wujud nyata komitmen perusahaan dalam memperkuat rantai pasok nasional.
“Kami terus berbenah dan berkomitmen meningkatkan kinerja operasional serta kualitas layanan kepelabuhanan. Langkah ini vital untuk memenuhi ekspektasi pelanggan sekaligus menjaga kelancaran distribusi pasokan logistik nasional,” tegas Indra di sela-sela kegiatan.
Ia menambahkan, Pelabuhan Cirebon memegang peranan kunci sebagai simpul distribusi barang untuk wilayah barat dan timur Jawa Barat. Penataan dan optimalisasi bongkar muat komoditas aspal di pelabuhan ini otomatis memangkas risiko kemacetan distribusi (bottlenecking) material di darat.
“Penerapan standar operasional dan prosedur keselamatan ketat menjadi prioritas utama kami dalam penanganan aspal curah maupun emulsi. Kami optimistis, sinergi ini tak hanya menguntungkan kedua perusahaan, tetapi juga memberi dampak domino yang positif bagi pertumbuhan ekonomi dan konektivitas infrastruktur daerah,” imbuhnya.
Kinerja Operasional Pelabuhan Cirebon Melonjak Lampaui Target
Langkah optimis memperkuat layanan logistik aspal ini didukung oleh performa operasional Pelabuhan Cirebon yang tengah menunjukkan tren sangat positif.
Branch Manager PTP Nonpetikemas Cabang Cirebon, Hari Priyatna, membeberkan bahwa sepanjang Januari hingga Agustus 2026, Pelabuhan Cirebon berhasil membukukan realisasi throughput (arus keluar-masuk barang) hingga mencapai 2,77 juta ton.
Capaian impresif tersebut mengalami lonjakan sebesar 11,12 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025 yang mencatatkan angka 2,49 juta ton. Bahkan, realisasi ini sukses melampaui target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) tahun 2026 sebesar 2,62 juta ton, atau setara dengan tingkat pencapaian 105,60 persen.
“Tren pertumbuhan positif ini merata di berbagai lini penanganan cargo, termasuk pada sektor kemasan curah cair. Hingga Agustus 2026, realisasi bongkar muat curah cair menembus 133,1 ribu ton, naik 12,4 persen dari capaian Agustus 2025 yang berada di angka 118,3 ribu ton,” terang Hari.
Meskipun komoditas batubara masih memegang porsi dominan dengan kontribusi sebesar 2,051 juta ton per Agustus 2026, diversifikasi penanganan komoditas seperti aspal dan produk cair lainnya terus dipacu untuk menyeimbangkan portofolio layanan pelabuhan.
Fasilitas Penghubung Strategis di Jantung Jawa Barat
Posisi geografis Pelabuhan Cirebon yang sangat strategis—terletak persis di koridor utama antara Jakarta dan Semarang—menjadikannya sebagai hub atau penghubung logistik regional yang amat krusial.
Pelabuhan ini dirancang ampuh untuk menangani berbagai karakteristik kargo, mulai dari:
Curah Kering: Batubara, pasir silika, clinker, semen, gypsum, dan jagung.
Curah Cair: Crude Palm Oil (CPO), biosolar, RBD olein, hingga aspal.
General Cargo: Alat berat (heavy equipment), project cargo, pipa besi, dan material konstruksi lainnya.
Guna mendukung kelancaran seluruh proses bongkar muat barang tersebut, PTP Nonpetikemas Cabang Cirebon dibekali dengan jajaran fasilitas infrastruktur penunjang yang andal:
Panjang Dermaga: Total mencapai 1.130,8 meter.
Area Penumpukan: Lapangan terbuka (open storage) seluas 2,3 hektar.
Gudang Penyimpanan: Luas total 6.450 meter persegi.
Armada Alat Berat: 6 unit excavator, 3 unit wheel loader, 2 unit forklift, serta 2 unit rampdoor.
Lewat kesiapan infrastruktur dan kemitraan baru bersama GBU, PTP Nonpetikemas optimistis mampu menjadikan Pelabuhan Cirebon sebagai gerbang utama pendukung percepatan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi Jawa Barat. (abd)















