
KUNINGAN – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Barat mendorong penguatan sinergi pariwisata antardaerah di Wilayah III Cirebon. Langkah tersebut dinilai penting untuk menghadapi tantangan penurunan tingkat okupansi hotel sekaligus menjaga geliat industri restoran dan sektor pariwisata.
Dorongan PHRI perkuat sinergi wisata tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) BPC PHRI se-Wilayah III Cirebon yang berlangsung di Hotel Santika Kuningan, Kamis (10/9).
Rakorwil diikuti pengurus PHRI dari Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, serta Kuningan sebagai tuan rumah. Pertemuan menjadi momentum konsolidasi untuk menyusun langkah bersama dalam mengembangkan potensi pariwisata di kawasan Ciayumajakuning.
Ketua BPD PHRI Jawa Barat Dodi Ahmad Sofiandi mengatakan, kondisi industri perhotelan dan restoran saat ini membutuhkan strategi bersama. Menurut dia, masing-masing daerah tidak bisa berjalan sendiri jika ingin meningkatkan kunjungan wisatawan dan memperpanjang lama tinggal wisatawan.
Salah satu strategi yang didorong adalah membangun konektivitas antardestinasi melalui paket wisata terpadu.
Dengan konsep tersebut, wisatawan yang datang ke salah satu daerah di Wilayah III Cirebon diarahkan untuk melanjutkan perjalanan ke destinasi lain di daerah sekitarnya. Pola ini dinilai dapat membuat manfaat ekonomi dari aktivitas pariwisata tersebar lebih luas.
“Harus kompak. Misalnya, Cirebon mengadakan acara, lalu paket kunjungan wisatanya diarahkan ke Kuningan atau kabupaten lain di Wilayah III,” kata Dodi.
Menurutnya, integrasi promosi dan paket perjalanan dapat menjadi salah satu cara untuk memperkuat daya saing pariwisata Wilayah III Cirebon. Event yang digelar di satu daerah tidak hanya menjadi magnet bagi daerah tersebut, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan destinasi lain.
Karena itu, diperlukan visi dan misi pariwisata yang terintegrasi. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menciptakan ekosistem wisata yang saling menguntungkan, termasuk bagi pelaku hotel, restoran, transportasi, hingga usaha mikro dan ekonomi kreatif.
PHRI Soroti Kepastian RTRW
Selain persoalan promosi dan konektivitas wisata, PHRI Jawa Barat juga menyoroti pentingnya kepastian Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.
Kejelasan tata ruang dinilai memiliki kaitan erat dengan pengembangan kawasan pariwisata dan minat investor untuk menanamkan modal.
Dodi mengatakan, investor membutuhkan kepastian hukum sebelum membangun fasilitas pendukung pariwisata. Karena itu, kawasan yang memang diperuntukkan bagi pengembangan wisata harus memiliki status dan arah pemanfaatan ruang yang jelas.
“Investor memerlukan kepastian hukum. Jika RTRW jelas dan peruntukan kawasan wisatanya tegas, investor akan merasa aman untuk menanamkan modal dan membangun fasilitas pariwisata,” ujarnya.
Sebaliknya, ketidakjelasan tata ruang berpotensi membuat investor menahan rencana investasinya. Padahal, tambahan investasi dibutuhkan untuk memperkuat infrastruktur, akomodasi, maupun fasilitas pendukung destinasi wisata.
Event Internasional di Kota Cirebon
Di tengah upaya memperkuat kolaborasi, BPC PHRI Kota Cirebon juga menyampaikan rencana penyelenggaraan event pariwisata berskala internasional pada November mendatang.
Kegiatan tersebut ditargetkan mampu menarik hingga 10 ribu pengunjung. Sejumlah peserta dari luar negeri, di antaranya Korea Selatan, Malaysia, dan Myanmar, disebut telah mengonfirmasi keikutsertaan.
Kehadiran event berskala internasional tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi industri perhotelan dan restoran.
Bagi PHRI, momentum tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan destinasi wisata di Wilayah III Cirebon secara lebih luas. Wisatawan yang datang untuk mengikuti event dapat diarahkan menikmati berbagai destinasi di Cirebon, Kuningan, Majalengka, maupun Indramayu.
Melalui Rakorwil tersebut, PHRI berharap sinergi antar-BPC semakin kuat. Wilayah III Cirebon diharapkan tidak lagi dipasarkan sebagai destinasi yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan sebagai satu kawasan wisata dengan beragam pilihan pengalaman.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari strategi PHRI perkuat sinergi wisata untuk meningkatkan arus wisatawan, memperluas manfaat ekonomi, serta membantu mendorong pemulihan industri perhotelan dan restoran di Jawa Barat. (ags)















