Hidupkan Kembali Pesona Majalengka, Gunung Karang Disiapkan Jadi Destinasi Wisata Baru

Gungung Karang, Hidupkan Kembali Pesona Majalengka

MAJALENGKA – Festival Gunung Karang yang digelar Pemerintah Kabupaten Majalengka pada akhir pekan lalu menjadi penanda dimulainya kembali upaya menghidupkan kawasan wisata Gunung Karang di Kelurahan Babakanjawa, Kecamatan Majalengka.

Objek wisata yang sempat terbengkalai tersebut kini kembali mendapat perhatian. Pemerintah Kabupaten Majalengka berkomitmen melakukan penataan secara bertahap agar Gunung Karang kembali menjadi salah satu destinasi yang mampu memperkuat daya tarik pariwisata daerah.

Bupati Majalengka, Drs. H. Eman Suherman, MM, mengatakan kebangkitan sektor pariwisata membutuhkan kerja bersama. Gunung Karang menjadi salah satu kawasan yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena menawarkan keindahan alam sekaligus nilai sejarah dan budaya.

Menurutnya, langkah awal yang dilakukan pemerintah daerah adalah membenahi kondisi kawasan agar lebih bersih, indah, dan nyaman bagi masyarakat maupun wisatawan.

“Langkah penataan kebersihan sudah dimulai pada hari Jumat kemarin melalui program Geber Jumat. Semua OPD saya kerahkan ke sini,” ujar Eman.

Selain persoalan kebersihan, pemerintah daerah juga menaruh perhatian pada akses menuju kawasan wisata tersebut. Infrastruktur jalan dinilai menjadi salah satu pekerjaan rumah utama yang harus segera dibenahi secara bertahap.

“Selain kebersihan, pekerjaan rumah utama yang harus dibenahi secara bertahap adalah aksesibilitas jalan masuk dan fasilitas pendukung lainnya,” katanya.

Saat ini, sejumlah jalur menuju Gunung Karang masih membutuhkan perhatian. Beberapa rute, di antaranya dari Pancurendang, Pancurendang Landeuh, Simpur, Jorendang, hingga Wates, dinilai masih sempit dan kondisinya belum optimal.

Perbaikan dan pelebaran akses jalan diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi wisatawan yang ingin berkunjung. Di sisi lain, pembangunan infrastruktur tersebut juga diyakini akan mendukung aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat di kawasan sekitar.

Gunung Karang, Kawasan Batu Purba dan Seribu Gua

Potensi Gunung Karang tidak hanya terletak pada panorama alamnya. Kawasan ini juga menyimpan kekayaan sejarah, budaya, serta bentang geologi yang menarik.

Aktivis budaya, seni, dan tradisi Majalengka, Nana Rohmana, yang juga Ketua Group Madjalengka Baheula atau Grumala, mengatakan Gunung Karang dalam catatan sejarah dan budaya dikenal pula dengan sebutan Gunung Karang Seribu Gua.

Sebutan tersebut muncul karena di kawasan itu terdapat sejumlah rongga dan gua alami yang terbentuk di antara tumpukan batuan berukuran besar.

Menurut Nana, batu-batu purba raksasa dengan ukuran rata-rata sekitar dua meter menjadi salah satu pemandangan khas di kawasan Gunung Karang. Rongga-rongga besar di sela bebatuan itu membentuk formasi alam yang unik dan memiliki daya tarik tersendiri.

“Destinasi wisata di lokasi Gunung Karang memang sarat akan nilai sejarah dan legenda, ditambah banyak sekali batuan purba yang menarik untuk diteliti,” ujarnya.

Kondisi tersebut, lanjut Nana, menjadikan Gunung Karang tidak hanya menarik bagi wisatawan umum. Kawasan ini juga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai lokasi edukasi, penelitian, serta wisata minat khusus.

“Sehingga lokasi ini sangat mempesona, baik bagi wisatawan, arkeolog maupun pencinta budaya dan seni,” tambahnya.

Pengembangan Gunung Karang pun diharapkan tidak sekadar berorientasi pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan. Pelestarian nilai sejarah, budaya, dan kondisi alam menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan agar identitas kawasan tetap terjaga.

Legenda Sangkuriang yang Masih Hidup di Masyarakat

Selain cerita mengenai batuan purba dan gua alami, Gunung Karang juga menyimpan legenda yang hingga kini masih berkembang di tengah masyarakat.

Salah seorang warga sekitar, Agus Sudirja (34), mengatakan terdapat cerita turun-temurun yang mengaitkan kawasan tersebut dengan legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbi.

Menurut cerita yang berkembang di kampungnya, batu-batu besar yang berserakan di kawasan Gunung Karang diyakini memiliki kaitan dengan kisah Sangkuriang yang berusaha membendung sungai sebagai syarat untuk mempersunting Dayang Sumbi.

“Nah, batu-batu yang berserakan itulah yang diyakini masyarakat sebagai material bendungan yang ditinggalkan oleh para makhluk halus setelah Dayang Sumbi berhasil mengelabui mereka,” kata Agus.

Legenda tersebut menjadi bagian dari kekayaan cerita rakyat yang memberikan warna tersendiri bagi Gunung Karang. Perpaduan antara keunikan bentang alam, bebatuan purba, gua alami, sejarah, dan cerita rakyat dinilai dapat menjadi kekuatan utama dalam pengembangan kawasan wisata ini.

Festival Gunung Karang diharapkan menjadi langkah awal, bukan sekadar kegiatan seremonial. Penataan kawasan, perbaikan akses jalan, pembangunan fasilitas pendukung, serta promosi wisata perlu dilakukan secara berkelanjutan agar potensi yang dimiliki Gunung Karang benar-benar dapat memberi manfaat.

Jika dikelola dengan baik, Gunung Karang berpeluang kembali menjadi salah satu ikon wisata Majalengka. Lebih dari itu, kebangkitan kawasan ini juga diharapkan mampu membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar sekaligus menghidupkan kembali pesona Majalengka melalui kekayaan alam, sejarah, dan budayanya. (pai)