Kopi Java Buana Ciremai, dari Sejarah Panjang Menuju Pasar Global

Kopi Java Buana Ciremai kini dilirik 28 negara

KUNINGAN – Udara sejuk lereng Gunung Ciremai menyambut pagi. Di antara hamparan kebun dan terasering yang hijau, tanaman kopi tumbuh menyimpan cerita panjang tentang sejarah, perjuangan petani, hingga harapan baru untuk menembus pasar dunia.

Kopi bukan komoditas baru bagi masyarakat di lereng Ciremai. Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Buana Ciremai, Taufik Hernawan, menyebut tanaman kopi mulai ditanam di wilayah Kuningan sekitar 1852, ketika pemerintah kolonial Hindia Belanda menerapkan sistem tanam paksa atau cultuurstelsel.

Pada masa itu, kopi menjadi salah satu komoditas yang dieksploitasi besar-besaran. Hasil perkebunan dari wilayah Kuningan dikirim melalui Pelabuhan Cirebon sebelum dipasarkan ke Eropa.

Namun, keuntungan dari perdagangan kopi tidak dinikmati masyarakat lokal. Sistem tersebut justru meninggalkan luka sosial dan ekonomi. Setelah Indonesia merdeka, sebagian kebun kopi peninggalan masa kolonial perlahan terbengkalai.

Lebih dari 150 tahun kemudian, kopi lereng Ciremai mulai menemukan kembali momentumnya.

Komoditas yang dahulu identik dengan eksploitasi kini didorong menjadi sumber penghidupan sekaligus penggerak ekonomi masyarakat. Perubahannya tidak hanya dilakukan melalui perbaikan budidaya, tetapi juga dengan mengubah cara pandang terhadap profesi petani.

Taufik menilai pekerjaan bertani selama ini masih kerap dipandang sebagai pekerjaan konvensional dan kurang menjanjikan bagi generasi muda.

“Pola pikir petani kita itu diasumsikan budayanya masih konvensional. Padahal secara tidak langsung, banyak orang tua petani yang bisa menyekolahkan hingga menguliahkan anaknya dari hasil kopi,” kata Taufik, Kamis (10/9).

Menurutnya, persoalan lain muncul karena pengelolaan perkebunan belum sepenuhnya menerapkan manajemen industri. Kondisi tersebut membuat sebagian generasi muda memilih meninggalkan kampung halaman dan mencari pekerjaan di kota besar.

Dampaknya, sejumlah kebun kopi warisan keluarga terbengkalai, bahkan sebagian tanaman kopi menghilang. Kondisi tersebut mencapai titik memprihatinkan sekitar 2015, ketika perhatian masyarakat terhadap potensi kopi lokal menurun.

Kini kondisi mulai berubah.

Petani didorong mengelola kebun secara lebih modern dan berkelanjutan. Salah satunya melalui penggunaan sekitar 80 persen pupuk organik berbahan kotoran kambing yang telah difermentasi melalui kolaborasi dengan peternak lokal, serta 20 persen pupuk kimia NPK sesuai kebutuhan tanaman dan kondisi tanah.

Selain menghasilkan komoditas bernilai ekonomi, tanaman kopi juga memiliki fungsi ekologis. Sistem perakarannya membantu memperkuat struktur tanah, mengurangi erosi, sekaligus membantu menjaga kawasan terasering di lereng Ciremai.

Bangkit Melalui Indikasi Geografis

Perjalanan menuju pengakuan identitas kopi Ciremai tidak lepas dari keresahan petani terhadap praktik perdagangan selama bertahun-tahun.

Kopi dari Kuningan dan Majalengka kerap dibeli dengan harga rendah oleh tengkulak dari luar daerah. Setelah itu, kopi tersebut dikemas dan dipasarkan menggunakan identitas daerah lain.

Situasi tersebut mendorong petani membangun perlindungan terhadap identitas dan legalitas produk. Salah satu langkah pentingnya adalah mendorong sertifikasi Indikasi Geografis (IG).

Perjuangan itu berlangsung hampir enam tahun. Keterbatasan biaya menjadi salah satu kendala, terutama untuk menghadirkan peneliti dan pemulia tanaman dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Jember hingga pakar kopi dari Gayo.

Titik balik terjadi ketika Bank Indonesia (BI) Cirebon memberikan pendampingan.

Kepala Perwakilan BI Cirebon Wihujeng Ayu Rengganis mengatakan kopi lereng Ciremai memiliki karakteristik yang kuat, baik dari sisi cita rasa maupun sejarahnya.

“Kopi lereng Ciremai memiliki keunikan karakteristik flavor dan histori yang sangat kuat. Pendampingan yang kami lakukan—mulai dari fasilitasi proses Indikasi Geografis hingga penguatan kapasitas pascapanen—merupakan komitmen Bank Indonesia untuk mendorong komoditas lokal naik kelas,” ujarnya.

Pendampingan tersebut mencakup legalitas, penguatan kelembagaan, standardisasi kualitas hingga pengembangan pasar.

Dalam proses tersebut, Buana Ciremai disepakati sebagai nama organisasi penjamin perlindungan, sedangkan Java Buana Ciremai menjadi nama resmi produk kopi.

Penggunaan nama Java juga memiliki akar sejarah dalam identitas kopi Jawa Barat, seperti Java Preanger, Java Bogor, dan Java Sukapura. Java Buana Ciremai sekaligus merepresentasikan kawasan penghasil kopi yang berada di wilayah Kuningan dan Majalengka, di sekitar Gunung Ciremai.

Pesanan dari 28 Negara

Perjuangan panjang tersebut mulai menunjukkan hasil.

Kapasitas produksi Kopi Arabika Java Buana Ciremai saat ini berada di bawah 200 ton dalam satu kali panen tahunan untuk skala komersial sebelum proses sortasi.

Meski produksinya masih dilakukan secara bertahap, peluang pasar yang tersedia cukup besar.

Melalui program business matching yang difasilitasi BI Cirebon bersama berbagai pemangku kepentingan, potensi pembeli dari 28 negara telah teridentifikasi. Negara-negara tersebut antara lain Taiwan, Hong Kong, Malaysia, Belanda hingga sejumlah negara di kawasan Jazirah Arab.

Total potensi permintaan tersebut diperkirakan mencapai Rp81 miliar.

Sejumlah pengiriman bahkan sudah terealisasi. Java Buana Ciremai telah dikirim sebanyak 2 ton ke Amerika Serikat dan 3 ton ke Taiwan.

Bagi BI Cirebon, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa kopi lokal mampu memenuhi persyaratan pasar internasional. Namun, ekspansi global juga harus dibarengi konsistensi kualitas dan keberlanjutan pasokan.

Tantangan tidak hanya berada di pasar ekspor. Di pasar lokal, penyerapan kopi dari petani masih perlu diperkuat.

Pertumbuhan kedai kopi di wilayah Cirebon Raya memang cukup pesat. Namun, sekitar separuh kedai kopi disebut belum menyerap produk kopi lokal karena masih terbatasnya pemahaman mengenai standar kualitas internasional, termasuk cupping score.

Karena itu, MPIG Buana Ciremai bersama BI Cirebon terus membangun ekosistem dari hulu hingga hilir. Upayanya dilakukan melalui kontes kopi, penyusunan SOP pascapanen hingga business matching yang mempertemukan petani dengan pelaku usaha kedai kopi.

Transformasi itu perlahan mengubah wajah petani kopi lereng Ciremai.

Kebun yang dahulu ditinggalkan mulai kembali digarap. Profesi petani perlahan tidak lagi dipandang sebagai pekerjaan tertinggal, tetapi sebagai bagian dari industri yang memiliki nilai ekonomi dan masa depan.

Dari biji kopi merah yang dipetik di lereng Gunung Ciremai, Java Buana Ciremai kini membawa misi yang lebih besar: menjaga identitas kopi lokal, membuka akses pasar dunia, sekaligus meningkatkan martabat dan kesejahteraan petani di Kuningan dan Majalengka. (wan)