
CIREBON – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan pelajar Kota Cirebon di tingkat nasional. Felisa Louise, siswa SMAN 2 Kota Cirebon, berhasil meraih medali perunggu dalam Ekshibisi Kompetisi Kecerdasan Artifisial (EKKA) pada Olimpiade Sains Nasional (OSN) jenjang pendidikan menengah tahun 2026.
Kompetisi tersebut berlangsung pada 14-20 September 2026 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur. Felisa menjadi satu-satunya peserta perempuan yang berhasil membawa pulang medali dari bidang kecerdasan artifisial (AI) dalam ajang tersebut.
Perjalanan Felisa hingga mampu menembus persaingan nasional tidak berlangsung singkat. Siswa yang sejak usia dini menyukai matematika itu harus melewati serangkaian seleksi ketat sebelum akhirnya tampil di babak final EKKA OSN 2026.
Pada tahap awal, Felisa harus bersaing dengan 2.317 peserta. Dari ribuan pendaftar tersebut, hanya 100 siswa yang dinyatakan lolos untuk mengikuti tahapan berikutnya.
Persaingan kemudian kembali diperketat. Dari 100 peserta, seleksi mengerucut menjadi 26 siswa yang berhak mengikuti kompetisi OSN AI 2026. Selanjutnya, dari 26 peserta tersebut dipilih 12 siswa terbaik untuk memperebutkan medali emas, perak, dan perunggu.
Felisa berhasil masuk dalam jajaran 12 besar tersebut. Hasil akhirnya, siswa SMAN 2 Kota Cirebon itu meraih medali perunggu.
Prestasi tersebut semakin istimewa karena Felisa menjadi satu-satunya peserta perempuan yang berhasil meraih medali dalam kompetisi AI OSN 2026. Ia juga menjadi satu-satunya peserta dari Kota Cirebon yang tampil dalam kompetisi tersebut sekaligus berhasil membawa pulang medali tingkat nasional.
Dari Jawa Barat sendiri, terdapat empat pelajar yang mengikuti kompetisi tersebut. Felisa menjadi satu-satunya wakil Kota Cirebon yang berhasil menembus persaingan hingga meraih medali.
Felisa mengaku bersyukur dapat memperoleh kesempatan mengikuti ajang nasional tersebut. Baginya, tampil dalam EKKA OSN 2026 bukan hanya tentang mengejar medali, tetapi juga menjadi pengalaman penting untuk menguji kemampuan sekaligus mempelajari bidang baru.
“Alhamdulillah Mama menguatkan mental saya untuk terus tampil, dan bersyukur akhirnya bisa meraih medali,” ujar Felisa.
Sempat Stres Menghadapi Lawan dari Sekolah Ternama
Perjalanan Felisa di arena kompetisi juga tidak sepenuhnya berjalan mulus. Pada hari pertama pertandingan, ia mengaku sempat mengalami tekanan mental.
Salah satu penyebabnya adalah para peserta yang menjadi lawannya berasal dari sejumlah sekolah ternama. Kondisi tersebut sempat membuat Felisa merasa stres dan kurang percaya diri.
Namun, dukungan dari sang ibunda menjadi salah satu faktor yang membantunya kembali membangun kepercayaan diri. Felisa kemudian berusaha fokus menyelesaikan setiap tahapan kompetisi hingga akhirnya mampu bertahan dan lolos ke babak final.
Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan Felisa meraih medali perunggu di tingkat nasional.
Berawal dari Competitive Programming
Ketertarikan Felisa terhadap dunia teknologi sebenarnya bukan hal baru. Sebelumnya, ia telah memiliki pengalaman dalam bidang coding melalui Competitive Programming dengan menggunakan bahasa pemrograman C++.
Namun, mengikuti kompetisi kecerdasan artifisial menjadi tantangan yang berbeda. Dalam EKKA, Felisa harus menggunakan Python sekaligus mempelajari berbagai konsep yang berkaitan dengan kecerdasan artifisial.
Artinya, Felisa tidak hanya mengandalkan kemampuan coding yang sudah dimilikinya. Ia juga harus beradaptasi dengan materi dan pola penyelesaian masalah yang lebih spesifik pada bidang AI.
Meski menjadi pengalaman baru, Felisa tidak menjadikan keterbatasan pengalaman tersebut sebagai penghalang. Ia berusaha memahami setiap tahapan, mengerjakan soal dan tantangan yang diberikan secara maksimal, hingga akhirnya mampu lolos ke babak final dan meraih medali.
Bagi Felisa, ketertarikannya terhadap AI muncul karena teknologi tersebut tidak sebatas menggunakan aplikasi atau sistem yang sudah tersedia.
Menurutnya, kecerdasan artifisial juga menarik karena seseorang dapat mempelajari bagaimana sebuah teknologi bekerja, kemudian membuat model yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan tertentu.
AI Tak Sekadar Coding
Dalam kompetisi EKKA OSN 2026, peserta menghadapi tantangan yang lebih luas daripada sekadar kemampuan pemrograman.
Peserta dituntut mampu memahami permasalahan, mengolah data, menentukan metode yang sesuai, hingga membangun dan menerapkan model AI untuk menghasilkan solusi.
Kemampuan tersebut membuat kompetisi AI tidak hanya menguji pemahaman teori. Peserta juga dituntut memiliki kemampuan analisis, pemecahan masalah, kreativitas, serta kemampuan menerapkan pengetahuan secara langsung.
EKKA dalam OSN 2026 menjadi wadah bagi para pelajar untuk mengembangkan kemampuan sebagai problem solver, innovator, researcher, sekaligus AI builder.
Bagi Felisa Louise, pengalaman mengikuti kompetisi tersebut menjadi langkah penting untuk memperluas pengetahuan di bidang kecerdasan artifisial. Apalagi, sebelumnya ia lebih banyak berkecimpung dalam Competitive Programming.
Medali perunggu yang diraih Felisa sekaligus menjadi capaian tersendiri bagi Kota Cirebon. Ia membuktikan bahwa pelajar daerah mampu bersaing dengan siswa dari berbagai sekolah di tingkat nasional, termasuk dalam bidang teknologi yang terus berkembang seperti kecerdasan artifisial.
Prestasi Felisa juga menjadi gambaran bahwa ketertarikan terhadap matematika, kemampuan coding, keberanian mencoba bidang baru, serta dukungan keluarga dapat menjadi bekal dalam menghadapi kompetisi dengan tingkat persaingan tinggi.
Kini, pengalaman dari OSN AI 2026 menjadi modal berharga bagi Felisa untuk terus mengembangkan kemampuan di bidang teknologi dan kecerdasan artifisial. (abd)















