
CIREBON – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Cirebon menunjukkan peningkatan. Hingga pekan ke-36 tahun 2026, tercatat sebanyak 205.928 kasus ISPA yang dilaporkan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cirebon.
Jumlah tersebut berada di atas angka pada periode yang sama tahun sebelumnya. Meski grafik kasus mengalami kenaikan, Dinkes Kabupaten Cirebon memastikan kondisi tersebut belum ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Cirebon, Mona Isabella Saragih, mengatakan perkembangan kasus ISPA terus dipantau melalui sistem kewaspadaan dini.
Menurut Mona, peningkatan kasus tidak hanya terjadi pada 2026. Pada periode yang sama tahun 2025, tren kenaikan kasus juga telah terlihat.
“Belum masuk dalam masa KLB. Kami punya sistem kewaspadaan dini respons wabah. Kalau dilihat dari tahun di minggu yang sama, yakni minggu ke-36, pada 2025 juga sudah terjadi kenaikan,” kata Mona.
Meski demikian, ia mengakui grafik kasus ISPA tahun ini memang lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kondisi tersebut menjadi perhatian Dinkes, terlebih peningkatan kasus terjadi bersamaan dengan fenomena influenza tipe A.
“Kalau dilihat dari grafiknya lebih tinggi dari tahun kemarin. Tapi tidak bisa kita bilang ini pengaruhnya abu vulkanik atau bukan, karena di samping itu juga ada fenomena influenza tipe A,” ujarnya.
Data 205.928 Kasus Bukan Jumlah Kunjungan Pasien
Mona menjelaskan, angka 205.928 kasus merupakan jumlah laporan yang masuk dari fasilitas pelayanan kesehatan melalui SKDR. Angka tersebut tidak bisa langsung disamakan dengan jumlah kunjungan pasien ke puskesmas maupun rumah sakit.
Bidang P2P Dinkes Kabupaten Cirebon memiliki mekanisme pencatatan penyakit tertentu untuk kepentingan pemantauan dan kewaspadaan dini.
Di antaranya adalah ISPA, pneumonia, tuberkulosis (TBC), serta sejumlah penyakit lain yang berkaitan dengan saluran pernapasan.
Sementara itu, data pelayanan kesehatan memiliki cakupan berbeda karena mencatat diagnosis pasien yang datang untuk mendapatkan pengobatan.
“Kalau di P2P batasannya hanya ISPA, pneumonia, TBC dan penyakit saluran pernapasan lainnya. Jadi kami tidak punya data diagnosis setiap pasien yang berkunjung ke puskesmas. Itu berbeda dengan data dari pelayanan kesehatan,” jelas Mona.
Karena itu, angka kasus yang tercatat dalam SKDR perlu dipahami sebagai data pelaporan penyakit untuk kepentingan surveilans dan kewaspadaan dini, bukan semata-mata jumlah seluruh pasien yang datang berobat.
Waspadai Dampak Abu Vulkanik
Selain memantau tren ISPA dan influenza tipe A, Dinkes Kabupaten Cirebon juga meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan dampak paparan abu vulkanik.
Pemkab Cirebon sebelumnya telah menerbitkan Surat Edaran Bupati mengenai kewaspadaan dini dan respons terhadap dampak abu vulkanik. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya antisipasi apabila terjadi gangguan kesehatan masyarakat akibat paparan abu.
Mona mengatakan fasilitas kesehatan, terutama puskesmas, telah diminta melakukan persiapan, termasuk memastikan ketersediaan obat-obatan.
“Untuk early warning system, kami sudah memiliki Surat Edaran Bupati tentang Kewaspadaan Dini Respons Abu Vulkanik. Puskesmas juga sudah kami imbau untuk mempersiapkan obat-obatan,” ungkapnya.
Masyarakat juga diminta tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan, terutama ketika mengalami batuk, pilek, sesak, atau keluhan lain yang mengganggu aktivitas.
Di lingkungan sekolah, anak yang sedang mengalami sakit dianjurkan beristirahat di rumah terlebih dahulu. Selain membantu proses pemulihan, langkah tersebut juga bertujuan mengurangi risiko penularan kepada siswa lainnya.
“Untuk anak sekolah, kalau sedang sakit sebisa mungkin tidak usah masuk sekolah dulu supaya tidak menularkan,” kata Mona.
Dinkes Imbau Warga Kembali Terapkan PHBS
Di tengah meningkatnya kasus ISPA, Dinkes Kabupaten Cirebon mengingatkan masyarakat untuk kembali memperkuat penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Beberapa langkah sederhana yang dianjurkan antara lain menggunakan masker ketika berada di lingkungan berisiko, rutin mencuci tangan, serta menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang mengalami gangguan pernapasan.
Sebaliknya, masyarakat yang sedang sakit juga diminta membatasi kontak dengan orang sehat untuk mengurangi kemungkinan terjadinya penularan.
Upaya pencegahan tersebut dinilai penting karena peningkatan kasus ISPA terjadi pada saat terdapat sejumlah faktor yang perlu diwaspadai, termasuk fenomena influenza tipe A dan potensi paparan abu vulkanik.
“Saluran pernapasan itu pertama menggunakan masker, kemudian sering cuci tangan dan menjauh dari orang yang sakit. Orang yang sakit juga untuk sementara dijauhkan dari orang-orang yang sehat,” pungkasnya. (den)















