CIREBON — Jalan rusak di Kampung Kutasirap, RW 14, Kelurahan Pegambiran, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, kembali dikeluhkan warga. Kondisi jalan yang dipenuhi lubang dinilai membahayakan keselamatan pengguna jalan, terlebih sejumlah pengendara disebut telah menjadi korban kecelakaan.
Ironisnya, persoalan tersebut belum kunjung tertangani meski sejumlah perusahaan swasta di sekitar lokasi disebut telah menyatakan kesediaan membantu memperbaiki atau menambal jalan yang rusak.
Keresahan warga kembali mengemuka dalam pertemuan yang digelar di depan Bapermas RW 14 Kutasirap, Minggu (16/8/2026) siang. Dalam pertemuan itu, warga mempertanyakan lambannya tindak lanjut dari pihak kelurahan dan RW terhadap upaya perbaikan jalan.
Tokoh masyarakat Kelurahan Pegambiran, Supriyan Prawiroharjo, mengatakan persoalan tersebut bermula dari banyaknya warga yang mengeluhkan kondisi jalan berlubang.
Menurut pria yang akrab disapa Iyan itu, warga sebelumnya telah meminta dirinya membantu memediasi persoalan tersebut dengan pengurus RW. Dari komunikasi yang dilakukan, sejumlah perusahaan di sekitar lokasi bahkan menyatakan siap membantu perbaikan jalan.
Namun, bantuan tersebut membutuhkan administrasi sederhana berupa proposal atau surat resmi sebagai dasar pencatatan pengeluaran perusahaan.
“Syarat dari pihak perusahaan sangat sederhana, yakni hanya meminta dokumen atau proposal tertulis sebagai landasan pencatatan administrasi manajemen perusahaan,” ujar Iyan.
Persoalan kemudian dibahas dalam pertemuan di tingkat kelurahan. Dalam rapat tersebut, pihak Bina Marga menyampaikan bahwa kondisi APBD Kota Cirebon yang mengalami defisit membuat perbaikan Jalan Kutasirap belum menjadi prioritas anggaran.
Di tengah keterbatasan anggaran pemerintah, sejumlah perusahaan justru menyatakan kesanggupannya untuk membantu secara mandiri. Iyan menyebut, di antaranya PT Japfa Comfeed dan Bhirawa.
“Perusahaan hanya kembali menegaskan perlunya selembar proposal atau surat keterangan resmi dari kelurahan atau manajemen agar pengeluaran tersebut tercatat secara legal,” katanya.
Namun, menurut Iyan, proposal yang menjadi syarat pencairan bantuan tersebut tak kunjung dibuat. Ia menilai proses yang berlarut-larut membuat solusi yang sebenarnya sudah tersedia tidak segera terealisasi.
Ia pun mengaku telah berulang kali mengingatkan agar kerusakan jalan segera ditangani sebelum menimbulkan korban.
Kekhawatiran tersebut, kata Iyan, mulai terbukti. Sejumlah warga disebut mengalami kecelakaan setelah terperosok ke lubang di lokasi tersebut.
“Ini masalahnya bukan apa-apa, Pak Lurah segera harus bertindak. Jangan sampai menimbulkan permasalahan baru. Hari Minggu kemarin sudah ada korban dua orang warga RW 10 Pegambiran. Pagi-pagi buta ke pasar, kegeglug di situ, jatuh dan kabarnya patah tulang,” ungkapnya.
Iyan menyayangkan lambannya respons aparatur wilayah. Ia menilai persoalan keselamatan warga semestinya menjadi prioritas karena risiko kecelakaan sudah nyata.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan perlunya peningkatan kepekaan atau sense of crisis dari pihak kelurahan dan pengurus RW.
“Solusinya sebenarnya sudah ada. Perusahaan-perusahaan di sekitar sudah membuka diri untuk membantu. Tinggal administrasinya yang harus segera dipenuhi,” tegasnya.
Warga Keluhkan Kecelakaan Berulang
Keluhan serupa disampaikan warga Kampung Kutasirap, Supardi. Ia mengatakan kerusakan jalan telah berlangsung cukup lama dan lubang yang menganga sangat membahayakan pengendara.
Supardi menyebut kecelakaan di lokasi tersebut bukan hanya terjadi sekali. Salah satu insiden terjadi sekitar pukul 04.00 WIB ketika seorang warga hendak berbelanja dan terjatuh setelah masuk ke lubang jalan.
“Insiden Minggu dini hari, kecelakaan terjadi sekitar pukul 04.00 WIB ketika seorang warga hendak pergi berbelanja dan terjatuh di lubang jalan,” katanya.
Kecelakaan lainnya disebut terjadi pada Jumat malam menjelang waktu Magrib. Kondisi jalan yang rusak juga membuat pengendara dari arah berlawanan harus saling menghindar.
Menurut Supardi, situasi tersebut berpotensi memicu kecelakaan yang lebih serius karena pengendara kerap mengambil jalur alternatif untuk menghindari lubang.
Warga, kata dia, telah berulang kali menyampaikan keluhan kepada pengurus RW, kelurahan hingga kecamatan. Bahkan, pihak kelurahan dan kecamatan telah meninjau langsung kondisi jalan tersebut.
“Warga berharap perbaikan jalan, khususnya penutupan lubang-lubang yang membahayakan, dapat segera direalisasikan secepat mungkin demi keamanan, kenyamanan, dan keselamatan umum para pengguna jalan,” ujarnya.
Kecamatan Sudah Surati Bina Marga
Camat Lemahwungkuk, Catur Wulan Anggraeni, membenarkan adanya keluhan warga terkait kerusakan jalan di Kampung Kutasirap.
Catur mengatakan pihak kecamatan telah turun langsung ke lokasi bersama Lurah Pegambiran serta perangkat RT dan RW untuk melihat kondisi jalan.
“Kami turun ke lapangan dan lihat langsung memang kondisi jalannya rusak,” kata Catur.
Setelah melakukan pengecekan, pihak kecamatan kemudian menyampaikan kondisi tersebut kepada Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kota Cirebon.
Namun, berdasarkan jawaban dari Bina Marga, keterbatasan anggaran APBD membuat perbaikan jalan tersebut belum dapat menjadi prioritas.
“Saya sudah kirim surat beberapa kali ke Bina Marga. Oleh Bina Marga tidak masuk prioritas karena kondisi anggaran APBD yang tidak memungkinkan,” ujarnya.
Meski demikian, Catur mengatakan pihak kecamatan telah mendorong adanya alternatif penanganan melalui bantuan perusahaan swasta yang berada di sekitar wilayah Pegambiran.
Ia bahkan telah meminta Lurah Pegambiran mengecek kembali kepada pengurus RW terkait proposal pengajuan bantuan kepada perusahaan.
“Saya sudah minta ke Lurah untuk segera memprosesnya. Kalau RW belum bisa membuat proposal, Lurah Pegambiran untuk bisa membantu pembuatan proposal sehingga bisa segera selesai,” pungkasnya.
Warga kini berharap persoalan administrasi tersebut tidak kembali berlarut-larut. Sebab, di tengah keterbatasan anggaran pemerintah, bantuan perusahaan yang telah terbuka justru dinilai menjadi solusi darurat untuk menutup lubang-lubang yang mengancam keselamatan pengguna jalan.
Jika tidak segera ada penyelesaian, perwakilan warga menyatakan berencana mengadukan persoalan tersebut langsung kepada Wali Kota Cirebon. Warga juga meminta kinerja aparatur wilayah dievaluasi agar penanganan persoalan infrastruktur dan keselamatan masyarakat dapat dilakukan lebih responsif. (abd)
















