
KUNINGAN – Rangkaian peringatan Hari Jadi ke-528 Kabupaten Kuningan diawali dengan napak tilas sejarah dan ziarah ke makam para leluhur pendiri daerah.
Bupati Kuningan DR H Dian Rachmat Yanuar MSi memimpin langsung kegiatan ziarah tersebut di Kelurahan Winduherang, Kecamatan Cigugur, Senin (31/8).
Ziarah pertama dilakukan di kompleks makam Pangeran Rama Jaksa Patikusuma. Di tempat tersebut, Bupati Dian bersama rombongan memanjatkan doa sebagai bentuk penghormatan terhadap para tokoh pendahulu yang dinilai memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah Kuningan.
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari rangkaian seremonial Hari Jadi Kuningan, tetapi juga menjadi momentum untuk mengenang nilai-nilai perjuangan, kepemimpinan, pendidikan, dan spiritualitas yang diwariskan para leluhur.
Usai prosesi doa, Bupati Dian menyampaikan bahwa napak tilas sejarah menjadi momentum refleksi bagi masyarakat Kuningan. Menurutnya, perjalanan para tokoh pendahulu mengandung nilai yang masih relevan untuk diterapkan dalam kehidupan dan pembangunan daerah saat ini.
Pangeran Rama Jaksa Patikusuma, kata Dian, memberikan teladan mengenai keseimbangan antara kepemimpinan, ketegasan sebagai seorang panglima, serta kedalaman spiritual sebagai ulama.
“Spirit perjuangan dan pengabdian tanpa pamrih inilah yang harus kita jadikan pijakan moril dalam membangun Kuningan hari ini dan di masa depan,” tegas Dian.
Berdasarkan penuturan juru pelihara makam, Andi, Pangeran Rama Jaksa Patikusuma yang juga bergelar Ki Gedeng Kemuning memiliki tiga peran strategis pada masanya.
Ia dikenal sebagai seorang raja, panglima, sekaligus ulama. Perannya tidak hanya berkaitan dengan pemerintahan dan pertahanan, tetapi juga dalam penyebaran syiar Islam serta pendidikan masyarakat.
Pangeran Rama Jaksa Patikusuma juga disebut menjadi pendidik dan pengasuh Surangga Jaya atau Pangeran Arya Kamuning, salah satu tokoh sentral dalam sejarah kelahiran Kuningan.
Dari kompleks makam Pangeran Rama Jaksa Patikusuma, rombongan kemudian melanjutkan napak tilas ke makam Pangeran Arya Adipati Ewangga yang masih berada di kawasan tersebut.
Rangkaian ziarah selanjutnya ditutup dengan kunjungan ke kompleks Makam Sunan Gunung Jati di Cirebon.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya menelusuri kembali keterkaitan sejarah antara Kuningan dan Cirebon, khususnya dalam perkembangan pemerintahan, penyebaran agama Islam, serta hubungan antartokoh pada masa lampau.
Napak tilas tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa peringatan Hari Jadi Kuningan bukan sekadar perayaan bertambahnya usia daerah. Momentum ini juga menjadi kesempatan untuk menggali kembali sejarah dan nilai perjuangan para pendahulu sebagai pijakan dalam membangun Kuningan ke depan. (iim)















