Tradisi Muludan Pengguron Pegajahan Cirebon Digelar Khidmat, Mijil Hayataan Jadi Sorotan

Pengguron Pegajahan gelar muludan memperingati Maulid Nabi

CIREBON – Lantunan Mijil Hayataan mengalun di Ruang Utama Pengguron Tharekat Agama Islam Pegajahan Cirebon, Senin (31/8/2026). Lantunan tersebut menjadi bagian dari tradisi muludan dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Peringatan Maulid Nabi di Pengguron Pegajahan berlangsung khidmat. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum mempererat silaturahmi antara jamaah, keluarga besar Kesultanan Cirebon, dan masyarakat sekitar.

Sejumlah pihak hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya jamaah Pengguron Pegajahan, keluarga besar Kesultanan Cirebon, khususnya Kesultanan Kanoman dan Kacirebonan, Pengguron Kaprabonan, serta masyarakat sekitar.

Bagi Pengguron Pegajahan Cirebon, Mijil Hayataan tidak sekadar menjadi bagian dari rangkaian acara muludan. Tradisi tersebut merupakan salah satu khazanah budaya Cirebon yang mempertemukan nilai-nilai Islam dengan warisan leluhur yang telah berlangsung secara turun-temurun.

Pengasuh Pengguron Pegajahan Cirebon, Elang Bagoes Candra Kusuma Ningrat, mengatakan peringatan Maulid Nabi menjadi momentum untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus menanamkan kecintaan kepada Rasulullah kepada generasi penerus.

“Muludan ini menjadi momentum untuk mengingat kelahiran Nabi Muhammad SAW, mengenal perjuangan beliau, serta menanamkan kecintaan kepada Rasulullah kepada keluarga, jamaah, dan generasi muda,” ujar Elang Bagoes.

Menurutnya, keberadaan tradisi yang diwariskan para leluhur perlu terus dijaga. Namun, pelestarian tersebut harus disertai pemahaman terhadap nilai dan pesan yang terkandung di dalamnya.

Dengan demikian, generasi muda tidak hanya mengetahui bentuk atau prosesi sebuah tradisi, tetapi juga memahami nilai keagamaan dan kebaikan yang menjadi dasar pelaksanaannya.

“Mijil Hayataan adalah bagian dari kekayaan tradisi yang harus kita jaga. Tradisi boleh berkembang mengikuti zaman, tetapi nilai kebaikan dan pesan yang diwariskan para leluhur harus tetap dipertahankan,” katanya.

Selain menjadi bagian dari kegiatan keagamaan, muludan di Pengguron Pegajahan juga menjadi ruang perjumpaan berbagai elemen masyarakat. Jamaah, keluarga besar kesultanan, pengguron, dan masyarakat sekitar dapat berkumpul dalam suasana penuh kebersamaan.

Kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa tradisi budaya Cirebon masih memiliki tempat penting dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat.

Elang Bagoes berharap tradisi muludan di Pengguron Pegajahan dapat terus dilaksanakan secara berkesinambungan. Menurutnya, kegiatan tersebut bukan hanya tentang mempertahankan sebuah tradisi, tetapi juga menjaga persaudaraan dan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

“Yang paling penting adalah bagaimana tradisi ini tetap memiliki ruh. Kita berkumpul, bershalawat, mengenang Rasulullah dan menjaga silaturahmi. Nilai-nilai itulah yang harus terus diwariskan kepada generasi penerus,” pungkasnya. (cep)