
CIREBON – Fakultas Pendidikan dan Sains (FPS) Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ) Cirebon sukses menyelenggarakan Gelar Karya Pendidikan Profesi Guru (PPG) Calon Guru Gelombang 1 Tahun 2026, Jumat (30/10/2026). Kegiatan yang berlangsung di Aula Kampus 2 UGJ, Jalan Perjuangan, Kota Cirebon, tersebut menjadi ajang bagi mahasiswa untuk memamerkan berbagai karya inovatif sekaligus menunjukkan hasil pembelajaran selama mengikuti program PPG.
Mengusung tema “Dari Ide Menjadi Aksi: Dari Karya Menebar Inspirasi”, kegiatan ini menampilkan beragam produk kreatif dan proyek inovasi pembelajaran yang dikembangkan mahasiswa PPG. Karya-karya tersebut merupakan hasil implementasi mata kuliah Proyek Kepemimpinan yang mendorong calon guru untuk mampu mengidentifikasi persoalan, merancang solusi, hingga menghasilkan aksi nyata yang bermanfaat bagi lingkungan pendidikan dan masyarakat.
Gelar karya tersebut dihadiri langsung Rektor UGJ Cirebon Prof Dr Achmad Faqih SP MM dan Dekan FPS UGJ Dr Endang Herawan MM. Keduanya memberikan apresiasi sekaligus motivasi kepada mahasiswa agar terus mengembangkan kompetensi dan kreativitas sebagai calon pendidik profesional.
Dalam sambutannya, Rektor UGJ Prof Dr Achmad Faqih menegaskan bahwa guru memiliki peran strategis yang tidak sebatas menyampaikan materi pelajaran. Lebih dari itu, guru merupakan pemimpin pembelajaran yang bertanggung jawab menuntun perkembangan pengetahuan, membangun karakter, serta menumbuhkan harapan dan potensi setiap peserta didik.
Menurutnya, tantangan seorang guru tidak hanya terletak pada penguasaan materi dan metode mengajar. Guru juga harus mampu memahami keberagaman karakter, kemampuan, serta latar belakang siswa yang ditemui di dalam kelas.
Sebab, setiap peserta didik memiliki kebutuhan dan proses belajar yang berbeda. Ada siswa yang cepat memahami materi, tetapi ada pula yang membutuhkan pendampingan lebih intensif. Begitu juga dengan tingkat kepercayaan diri siswa yang tidak selalu sama.
“Ada anak yang cepat memahami pembelajaran, ada yang memerlukan pendampingan lebih lama. Ada yang percaya diri, ada pula yang membutuhkan keberanian untuk sekadar mengangkat tangan. Di situlah kepemimpinan guru akan diuji,” ujarnya.
Karena itu, Achmad Faqih mengingatkan mahasiswa PPG agar mempersiapkan diri menjadi pendidik yang mampu menciptakan lingkungan belajar inklusif. Setiap anak harus mendapatkan penghargaan, kenyamanan, serta kesempatan yang sama untuk berkembang sesuai dengan potensi masing-masing.
Ia menilai kemampuan membangun suasana kelas yang positif menjadi salah satu kompetensi penting yang harus dimiliki guru masa depan. Dengan pendekatan pembelajaran yang tepat, guru tidak hanya membantu siswa memahami pelajaran, tetapi juga mendorong tumbuhnya karakter, keberanian, dan kreativitas.
Gelar Karya Harus Berangkat dari Persoalan Nyata
Selain menyoroti kepemimpinan guru di dalam kelas, Rektor UGJ juga memberikan arahan mengenai pentingnya merancang proyek inovasi pembelajaran berdasarkan kebutuhan nyata di sekolah maupun masyarakat.
Menurutnya, sebuah karya pendidikan tidak cukup hanya menarik secara konsep. Inovasi yang dikembangkan harus memiliki tujuan jelas dan mampu memberikan solusi terhadap persoalan yang benar-benar dihadapi di lapangan.
Ia mencontohkan persoalan rendahnya minat baca siswa. Dalam menghadapi kondisi tersebut, seorang guru tidak seharusnya langsung mengambil kesimpulan atau sekadar memberikan tambahan tugas membaca.
Guru perlu mengidentifikasi terlebih dahulu faktor penyebabnya. Apakah persoalan tersebut berkaitan dengan keterbatasan bahan bacaan, akses terhadap sumber belajar, metode pembelajaran yang kurang menarik, atau minimnya pendampingan dari lingkungan sekitar.
Dengan memahami akar persoalan, solusi yang dirancang akan lebih tepat sasaran dan memberikan dampak yang lebih besar bagi peserta didik.
“Guru diharapkan mampu mendengarkan kebutuhan lapangan serta mengidentifikasi penyebab utama dari suatu persoalan. Sebagai contoh, jika minat baca siswa rendah, guru perlu menganalisis apakah kendalanya ada pada bahan ajar, keterbatasan akses, atau belum adanya pendampingan yang nyata,” harapnya.
Achmad Faqih juga mengapresiasi berbagai produk dan proyek kreatif yang ditampilkan mahasiswa PPG Gelombang 1 Tahun 2026. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis, tetapi juga dilatih menghasilkan karya melalui proses perencanaan, kolaborasi, dan praktik langsung.
Ia menjelaskan, kegiatan Gelar Karya merupakan bagian dari implementasi mata kuliah Proyek Kepemimpinan. Dalam mata kuliah tersebut, mahasiswa didorong untuk mengembangkan kemampuan memimpin, bekerja sama lintas sektor, serta memberikan kontribusi nyata dalam menyelesaikan persoalan di masyarakat.
Pendekatan ini juga sejalan dengan arah pengembangan tata kelola pendidikan tinggi yang berorientasi pada kualitas lulusan. Melalui reformasi kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE), UGJ berupaya memastikan proses pembelajaran menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan dunia kerja dan perkembangan zaman.
Penerapan kurikulum tersebut turut mendorong keseimbangan antara pembelajaran teori dan praktik. Mahasiswa tidak hanya dibekali pemahaman konseptual di ruang perkuliahan, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung dalam mengerjakan proyek di lapangan.
“Mahasiswa dibiasakan untuk melaksanakan perkuliahan berbasis proyek, sehingga ketika mereka menjadi guru di kelas, mereka mampu mengarahkan anak didiknya untuk berpikir kreatif dan inovatif,” tandasnya.
FPS UGJ Telah Luluskan Lebih dari 6.000 Alumni PPG
Sementara itu, Dekan FPS UGJ Dr Endang Herawan MM mengungkapkan bahwa program Pendidikan Profesi Guru di lingkungan FPS UGJ terus menunjukkan perkembangan positif. Hal tersebut terlihat dari peningkatan kuota mahasiswa yang diterima dari tahun ke tahun.
Hingga saat ini, FPS UGJ telah meluluskan lebih dari 6.000 alumni melalui program PPG. Capaian tersebut menjadi bagian dari kontribusi UGJ dalam mendukung pemenuhan kebutuhan tenaga pendidik profesional, khususnya di wilayah Jawa Barat.
Untuk PPG Calon Guru Gelombang 1 Tahun 2026, tercatat sebanyak 116 mahasiswa prajabatan asal Jawa Barat mengikuti program pendidikan tersebut secara penuh.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa menjalani proses pembelajaran dengan skema yang memadukan kegiatan di sekolah induk dan sekolah mitra. Pola ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman langsung mengenai kondisi pembelajaran, karakter peserta didik, serta berbagai tantangan yang dihadapi guru di lingkungan sekolah.
Endang menjelaskan, Gelar Karya menjadi salah satu agenda penting sekaligus penutup rangkaian perkuliahan selama dua semester. Sebelum mencapai tahap tersebut, mahasiswa telah mengikuti sejumlah kegiatan pembekalan untuk memperkuat kompetensi akademik, karakter, dan profesionalisme.
Rangkaian pembelajaran tersebut meliputi wawasan kebangsaan, pelatihan penulisan karya tulis ilmiah, kegiatan kepramukaan, hingga pelaksanaan proyek kepemimpinan yang hasilnya ditampilkan dalam Gelar Karya.
“Rangkaian acara ini sekaligus menjadi penutup dari perkuliahan selama dua semester yang sebelumnya telah melalui berbagai tahapan penting, mulai dari wawasan kebangsaan, pelatihan penulisan karya tulis ilmiah, kepramukaan, hingga puncaknya pada gelaran karya proyek kepemimpinan ini,” kata Endang.
Ia berharap pengalaman belajar yang diperoleh selama mengikuti program PPG dapat menjadi bekal penting bagi mahasiswa ketika menjalankan tugas sebagai guru profesional.
Menurut Endang, pendidik masa depan harus memiliki kemampuan yang terus berkembang, terutama dalam mengintegrasikan teknologi dengan kompetensi pedagogik. Kedua aspek tersebut dinilai penting agar guru mampu menghadirkan pembelajaran yang relevan, adaptif, dan sesuai dengan kebutuhan generasi mendatang.
Melalui kegiatan Gelar Karya PPG Calon Guru Gelombang 1 Tahun 2026, FPS UGJ Cirebon berharap lahir guru-guru profesional yang tidak hanya unggul dalam penguasaan materi, tetapi juga memiliki jiwa kepemimpinan, kreativitas, dan kepedulian terhadap persoalan pendidikan.
Karya yang dihasilkan mahasiswa diharapkan tidak berhenti sebagai proyek perkuliahan. Lebih jauh, berbagai inovasi tersebut dapat diterapkan dan dikembangkan di sekolah sehingga memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kualitas pembelajaran.
Dengan pengalaman berbasis proyek dan praktik lapangan, lulusan PPG UGJ diharapkan mampu menjadi pendidik yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, memiliki kompetensi pedagogik yang kuat, serta berkontribusi dalam mencetak generasi unggul yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional. (abd)















