Abu Vulkanik Anak Krakatau Melintasi Cirebon, BPBD Minta Warga Waspada

BPBD Kota Cirebon meminta warga mewaspadai abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau yang melintasi Cirebon

CIREBON – Masyarakat Kota Cirebon diminta meningkatkan kewaspadaan menyusul sebaran abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau yang sempat melintasi wilayah Cirebon dan bergerak menuju Jawa Tengah.

Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cirebon, Eko Kuswantoro, menjelaskan sebaran abu vulkanik tersebut perlu diwaspadai meskipun rangkaian letusan utama dilaporkan telah mereda pada malam sebelumnya.

Menurut Eko, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih perlu dipantau. Karena itu, masyarakat diminta tetap mengikuti informasi dan imbauan resmi terkait perkembangan aktivitas vulkanik.

“Abu vulkanik yang disemburkan bukanlah abu biasa karena mengandung material yang dapat membahayakan kesehatan tubuh,” ujar Eko saat ditemui Radar Cirebon di ruang kerjanya.

Ia menjelaskan, paparan abu vulkanik dapat menimbulkan sejumlah gangguan kesehatan. Salah satunya adalah gangguan pernapasan akibat iritasi pada saluran pernapasan.

Kondisi tersebut juga dapat memperburuk kesehatan masyarakat yang memiliki riwayat asma maupun penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Selain gangguan pernapasan, abu vulkanik juga berpotensi menyebabkan iritasi pada kulit dan mata. Paparan material vulkanik dalam jumlah tertentu juga dapat menimbulkan gangguan kesehatan lainnya.

Untuk mengantisipasi risiko tersebut, BPBD Kota Cirebon mengimbau masyarakat, termasuk para pelajar di lingkungan sekolah, untuk meningkatkan kewaspadaan dan memahami langkah perlindungan diri apabila terjadi sebaran abu vulkanik.

Salah satu langkah yang perlu dilakukan adalah menggunakan alat pelindung diri saat beraktivitas di luar ruangan. Masyarakat disarankan mengenakan masker dan kacamata untuk mengurangi risiko abu masuk ke saluran pernapasan maupun mengenai mata.

“Gunakan masker dan kacamata saat beraktivitas di luar ruangan,” katanya.

Eko juga mengingatkan masyarakat agar tidak menyapu abu vulkanik dalam kondisi kering. Abu sebaiknya terlebih dahulu dibasahi dengan air atau disemprot menggunakan selang agar tidak beterbangan dan terhirup.

Langkah perlindungan diri tersebut, lanjut dia, juga perlu dikenalkan kepada anak-anak dan seluruh anggota keluarga. Dengan demikian, masyarakat dapat mengetahui tindakan yang harus dilakukan ketika berada di rumah maupun tempat umum.

“Status resmi kebencanaan nantinya akan terus dievaluasi dan ditentukan oleh pimpinan daerah bersama BPBD sambil memantau perkembangan aktivitas vulkanik,” tandasnya.

Sebagai bagian dari mitigasi bencana, BPBD Kota Cirebon juga telah melakukan pengecekan terhadap kesiapsiagaan perbekalan kesehatan, termasuk ketersediaan stok masker.

Jika kondisi meningkat dan membutuhkan penanganan lebih lanjut, masker tersebut akan didistribusikan secara berkala ke sejumlah puskesmas di Kota Cirebon.

Eko menegaskan, kewaspadaan masyarakat menjadi langkah penting untuk mengantisipasi kemungkinan dampak abu vulkanik maupun potensi perkembangan aktivitas gunung api.

Sikap waspada, kata dia, jauh lebih baik sebagai langkah antisipasi terhadap berbagai kemungkinan yang dapat terjadi. (abd)