Lonjakan Pasien di Cirebon Disorot DPRD Jabar, George Edwin Desak BPJS Lebih Fleksibel

George Edwin soroti lonjakan pasien di rumah sakit Cirebon

CIREBON – Lonjakan jumlah pasien di sejumlah rumah sakit di wilayah Cirebon mendapat perhatian dari DPRD Provinsi Jawa Barat. Kondisi tersebut disebut terjadi bersamaan dengan peralihan musim dari kemarau menuju musim penghujan.

Anggota DPRD Jawa Barat, George Edwin Sugiharto SIP, mengatakan dirinya menerima laporan mengenai meningkatnya jumlah pasien di sejumlah fasilitas kesehatan di wilayah Cirebon.

Menurut George, perubahan cuaca menjadi salah satu faktor yang membuat masyarakat lebih rentan mengalami gangguan kesehatan. Kondisi itu kemudian berdampak terhadap meningkatnya beban pelayanan rumah sakit.

“Peralihan musim banyak warga yang sakit dan rumah sakit sudah overload,” ujar George kepada Radar Cirebon.

Ia menuturkan, fasilitas kesehatan di sejumlah daerah sebenarnya telah melakukan berbagai langkah antisipasi untuk menghadapi peningkatan jumlah pasien. Namun, kondisi di lapangan tetap membutuhkan perhatian, terutama ketika kapasitas pelayanan rumah sakit mulai terbatas.

George juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan kondisi kesehatan selama masa peralihan musim. Menurutnya, upaya pencegahan dan menjaga daya tahan tubuh menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko penyakit.

Soroti Aturan Ruang Perawatan BPJS

Selain persoalan lonjakan pasien, George menyoroti aturan terkait penggunaan ruang perawatan bagi peserta BPJS Kesehatan.

Ia menyebut masih ditemukan kondisi ketika rumah sakit memiliki kamar atau tempat tidur yang kosong, tetapi penggunaannya terkendala aturan peruntukan ruang perawatan yang berlaku dalam sistem BPJS Kesehatan.

Menurut George, persoalan tersebut perlu dicarikan solusi agar aturan administratif tidak menghambat masyarakat memperoleh pelayanan ketika membutuhkan perawatan.

Ia berharap BPJS Kesehatan dapat mempertimbangkan aspek kemanusiaan dalam menghadapi situasi tertentu di lapangan.

“Keselamatan satu nyawa dinilai jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti ketentuan formal,” tegasnya.

George mengatakan, persoalan tersebut juga telah disampaikannya kepada Wakil Menteri Kesehatan. Ia berharap komunikasi antara BPJS Kesehatan dan manajemen rumah sakit dapat semakin intensif sehingga persoalan pelayanan maupun mekanisme pembiayaan dapat dicarikan jalan keluar.

“Upaya ini diharapkan dapat menjaga kestabilan cash flow rumah sakit sekaligus memastikan pelayanan kesehatan masyarakat tidak terganggu,” tandasnya.

Dorong Penguatan Fasilitas Kesehatan

George juga menyinggung pentingnya penguatan fasilitas kesehatan untuk menghadapi kebutuhan pelayanan masyarakat yang terus berkembang.

Ia menyebut program pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto yang berkaitan dengan optimalisasi sumber daya negara diharapkan dapat memberikan dampak terhadap peningkatan fasilitas kesehatan.

Salah satunya melalui penguatan sarana dan prasarana kesehatan serta penambahan rumah sakit umum daerah (RSUD) di berbagai wilayah.

Menurutnya, peningkatan kapasitas rumah sakit menjadi penting agar fasilitas kesehatan mampu menghadapi lonjakan pasien, terutama ketika terjadi peningkatan kasus penyakit akibat perubahan kondisi lingkungan dan cuaca.

Di sisi lain, masyarakat juga diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit selama masa peralihan musim.

Langkah sederhana seperti menjaga pola hidup bersih dan sehat, memperhatikan kondisi tubuh, serta segera memeriksakan diri ketika mengalami keluhan kesehatan dinilai penting untuk mencegah kondisi semakin berat.

George menegaskan, persoalan keterbatasan ruang perawatan dan aturan pelayanan kesehatan perlu menjadi perhatian bersama.

“Dilema aturan BPJS dan rumah sakit, terdapat kendala operasional terkait ketersediaan kamar atau bed kosong di rumah sakit yang terkendala oleh aturan ketat dari BPJS Kesehatan. Dalam hal ini, unsur kemanusiaan dan keselamatan satu nyawa harus diprioritaskan di atas aturan yang kaku,” pungkasnya. (abd)