CIREBON – Kemampuan menyanyikan lagu daerah tidak dimiliki semua orang. Selain membutuhkan kemampuan vokal, sejumlah lagu daerah memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Salah satunya pupuh Sunda yang dikenal memiliki cengkok khas dan membutuhkan ketekunan untuk menguasainya.
Tantangan tersebut justru berhasil dijawab dua siswa SMP Negeri 3 Kota Cirebon, Cecillia Naomi Jasmine dan Yanuar Anelson Halim. Keduanya tidak hanya menekuni lagu-lagu pop, tetapi juga berani mempelajari dan membawakan lagu daerah, termasuk pupuh Sunda.
Siswi kelas 9 SMPN 3 Kota Cirebon, Cecillia Naomi Jasmine, mengaku telah menyukai dunia tarik suara sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.
“Pokoknya dari SD sih, dari kecil sudah suka nyanyi,” ujarnya saat ditemui Rakyat Cirebon.
Kecintaannya terhadap dunia tarik suara kemudian mendorong Cecillia untuk berani tampil di depan umum. Ia tercatat pernah mengikuti sejumlah perlombaan, seperti Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) dan Festival Lomba Seni (FLS), serta tampil dalam berbagai kegiatan di sekolah.
“Pas sudah umur segini akhirnya memberanikan diri untuk tampil-tampil,” katanya.
Kemampuan Cecillia pun tidak hanya terbatas pada lagu pop. Ia pernah mengikuti FTBI dengan membawakan pupuh Sunda.
“Awalnya nyoba dulu. Ternyata kalau dilatih lama-lama bisa,” tuturnya.
Menurut Cecillia, tantangan utama dalam membawakan pupuh Sunda terletak pada penguasaan cengkok. Untuk menguasainya, ia harus berulang kali mendengarkan contoh lagu dan mencoba mengikuti teknik vokalnya.
“Yang susah itu cengkoknya,” ungkapnya.
Untuk mengasah kemampuannya, Cecillia berlatih hampir setiap hari, baik di rumah maupun di sekolah.
“Latihan di rumah hampir setiap hari, di sekolah juga hampir setiap hari,” tambahnya.
Selain rutin berlatih, Cecillia juga berusaha menjaga kondisi suaranya. Ia mengaku mengurangi konsumsi makanan berminyak dan minuman es berwarna karena dinilai dapat memengaruhi kondisi tenggorokan.
“Kalau suara kan sensitif. Gorengan sedikit, suara bisa batuk-batuk. Paling mengurangi makanan yang berminyak sama es yang berwarna,” pungkasnya.
Sementara itu, siswa kelas 9 SMPN 3 Kota Cirebon, Yanuar Anelson Halim, juga memiliki ketertarikan terhadap lagu daerah. Ia pernah mengikuti perlombaan bahasa Sunda dan bahasa Cirebon dalam ajang Festival Tunas Bahasa Ibu.
Ketertarikannya terhadap dunia tarik suara bermula dari lingkungan keluarga.
“Awalnya dari keluarga yang suka nyanyi, jadi saya ikut nyanyi,” ujarnya.
Dari kegemarannya tersebut, Yanuar kemudian mulai mengikuti berbagai perlombaan. Pada 2024, ia pernah meraih juara pertama tingkat Kota Cirebon dalam perlombaan yang berkaitan dengan bahasa daerah.
Dalam perlombaan terbaru yang diikutinya, Yanuar kembali menorehkan prestasi dengan meraih juara dua tingkat Kota Cirebon.
“Terbaru juara dua tingkat kota,” ungkapnya.
Menurut Yanuar, menyanyikan lagu Sunda maupun lagu berbahasa Cirebon memiliki tantangan tersendiri dibandingkan lagu berbahasa Indonesia. Penguasaan cengkok menjadi salah satu bagian yang paling membutuhkan latihan.
“Paling ya harus ada cengkoknya,” tambahnya.
Untuk menguasainya, Yanuar berlatih secara rutin setiap hari. Salah satu metode yang dilakukannya adalah mendengarkan lagu secara berulang-ulang, kemudian mencoba menirukan bagian-bagian tertentu.
“Belajarnya dari dengarin, dengerin, terus dicoba. Lama-lama bisa,” tuturnya.
Yanuar pun masih berkeinginan melanjutkan prestasinya ke tingkat yang lebih tinggi. Ia mengaku pernah mencoba bersaing hingga tingkat provinsi, meski belum berhasil meraih hasil terbaik.
“Belum rezeki,” katanya singkat.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan sekaligus Guru Bahasa Sunda SMP Negeri 3 Kota Cirebon, Dadang Nasuha, menjelaskan pupuh Sunda memang memiliki karakteristik yang berbeda dengan lagu pop.
“Kalau berbicara pupuh Sunda, identiknya dengan lagu-lagu Sunda yang punya ciri khas dengan cengkok yang agak susah juga,” jelasnya.
Menurut Dadang, tantangan tersebut semakin terasa karena mayoritas siswa SMPN 3 Kota Cirebon lebih terbiasa menggunakan bahasa Cirebon dalam kehidupan sehari-hari.
“Mayoritas anak-anak kita bahasanya bahasa Cirebon, mungkin tidak susah, tapi memang ada tantangan juga,” katanya.
Meski demikian, Dadang menilai kemampuan dasar dalam olah vokal dapat menjadi modal penting bagi siswa untuk mempelajari pupuh Sunda.
“Yang penting anak ini punya dasar, punya basic diolah suara,” ujarnya.
Dadang melihat Cecillia memiliki kemampuan vokal yang cukup baik sekaligus kemauan kuat untuk terus belajar.
“Kebetulan pas saya lihat, bagus juga nih di olah suaranya. Anak ini memang pengin belajar dan mau belajar,” ungkapnya.
Dalam proses latihan, Dadang mengakui dirinya tidak selalu menguasai seluruh teknik menyanyikan lagu Sunda. Karena itu, proses pembelajaran juga memanfaatkan media digital sebagai sarana pendukung.
“Saya sendiri memang tidak terlalu bisa untuk nyanyi Sunda. Tapi mungkin dengan bantuan kita lihat dari media, YouTube, dan juga mengikuti sesi latihan di rumah,” sambungnya.
Menurut Dadang, latihan yang dilakukan secara konsisten akhirnya membuahkan hasil. Kemampuan siswa dalam membawakan lagu Sunda terus berkembang.
Untuk menghadapi FTBI 2026 tingkat Kota Cirebon yang direncanakan berlangsung pada September mendatang, SMPN 3 Kota Cirebon mulai melakukan pendataan dan seleksi terhadap siswa yang memiliki potensi di berbagai bidang.
“Dari sekarang kita mulai pendataan lagi ke anak-anak. Karena sebenarnya tidak hanya lomba pupuh Sunda saja, tetapi macam-macam,” tegasnya.
Ia mengatakan, latihan bagi siswa yang dipersiapkan mengikuti perlombaan juga akan diintensifkan. Sekolah akan menyusun pola dan jadwal latihan yang dapat dilakukan baik di sekolah maupun di rumah.
“Untuk pola latihannya nanti kita akan bikin jadwal latihan, baik itu di rumah maupun di sekolah,” kata Dadang.
Selain mempersiapkan siswa untuk menghadapi perlombaan, sekolah juga mulai memikirkan proses regenerasi. Pasalnya, Cecillia dan Yanuar saat ini telah duduk di kelas 9 dan akan segera menyelesaikan pendidikan di SMPN 3 Kota Cirebon.
Karena itu, proses seleksi tidak hanya dilakukan terhadap siswa kelas 9. Siswa kelas 7 dan 8 juga diberikan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan mereka.
“Memang kita libatkan anak tidak hanya dari kelas 9 saja, tetapi kelas 7 dan 8 pun kita ikut sertakan karena memang ada seleksi di awal,” jelasnya.
Dalam ajang FTBI, sekolah nantinya akan memilih satu siswa putra dan satu siswa putri sebagai perwakilan.
“Mana yang terbaik itu yang akan mewakili sekolah. Sedangkan yang belum terpilih mungkin akan menjadi bibit-bibit berikutnya,” tandasnya.
Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen SMPN 3 Kota Cirebon dalam mengembangkan bakat siswa sekaligus menjaga keberadaan bahasa dan seni daerah di kalangan generasi muda.
Bagi Cecillia dan Yanuar, mempelajari pupuh Sunda bukan sekadar untuk mengikuti perlombaan. Keduanya membuktikan bahwa kesenian daerah dengan tingkat kesulitan tinggi tetap dapat dipelajari dan dikuasai generasi muda melalui kemauan, latihan rutin, dan keberanian untuk mencoba. (its)













