Yayasan Islamic Centre Kabupaten Cirebon dan Al-Bahjah Jajaki Kerja Sama Ekonomi

Penjajakan kerjasama ekonomi dilakukan oleh Yayasan Islamic Center dengan Al Bahjah

CIREBON – Yayasan Islamic Centre Kabupaten Cirebon mulai membuka peluang kolaborasi dengan Yayasan Al-Bahjah. Langkah tersebut diawali dengan kunjungan silaturahmi yang dipimpin Ketua Yayasan Islamic Centre Kabupaten Cirebon, Drs H Halim Falatehan MM ME.

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya Islamic Centre membangun komunikasi yang lebih luas dengan lembaga-lembaga Islam di Kabupaten Cirebon.

Halim mengatakan, banyak lembaga Islam memiliki potensi dan sumber daya yang sebenarnya dapat saling melengkapi. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya terhubung dalam bentuk kerja sama antarlembaga.

“Kita ini sebagai komponen-komponen pejuang Islam di lembaga-lembaga terasa belum ada bekerja sama, belum ada saling mengenal, belum ada saling membantu. Kalau pun ada memang belum banyak,” ujar Halim, kemarin.

Menurut dia, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Islamic Centre mulai menjajaki komunikasi dengan sejumlah lembaga Islam yang dinilai memiliki pengalaman serta perkembangan di berbagai sektor.

Halim menyebut, peluang kerja sama tidak hanya terbatas pada bidang keagamaan. Pendidikan, dakwah, sosial, hingga ekonomi juga dinilai memiliki ruang untuk dikembangkan secara bersama.

Namun, Islamic Centre Kabupaten Cirebon ingin menjadikan sektor ekonomi sebagai salah satu bidang yang lebih dahulu dijajaki.

“Kami mengakui, sangat lemah di bidang ekonomi. Walaupun bidang pendidikan atau bidang sosial juga belum begitu maju, tapi Islamic Center ingin ekonomi itu didahulukan,” katanya.

Salah satu gagasan yang dibahas adalah kemungkinan membuat program bersama antara Islamic Centre dan Al-Bahjah. Termasuk menjajaki pengembangan usaha di sektor-sektor yang selama ini telah dikembangkan Al-Bahjah.

Kerja sama juga berpotensi dilakukan dalam pengelolaan gedung pertemuan milik Islamic Centre. Dalam skema tersebut, tenaga ahli dan pengelola kegiatan dari kedua lembaga dapat dilibatkan sesuai kebutuhan.

Halim menegaskan, konsep kolaborasi yang dibicarakan bukan untuk memindahkan sumber daya manusia atau tenaga ahli dari satu lembaga ke lembaga lainnya.

Sebaliknya, masing-masing lembaga tetap mempertahankan sumber daya dan keahlian yang dimiliki. Potensi tersebut kemudian dapat dipertemukan dalam program yang dikerjakan secara bersama.

Meski demikian, Halim memastikan pertemuan dengan Al-Bahjah belum menghasilkan bentuk kerja sama konkret.

“Untuk sekarang ini, memang baru ketemu sekarang. Baru penjajakan,” ujarnya.

Islamic Centre, kata Halim, masih akan melihat berbagai peluang yang realistis untuk dikembangkan bersama Al-Bahjah. Komunikasi juga akan terus dibangun sebelum menentukan program yang akan dijalankan.

Al-Bahjah menjadi salah satu lembaga yang lebih dahulu dikunjungi karena dinilai memiliki perkembangan cukup pesat, khususnya dalam bidang ekonomi dan pendidikan.

Halim mencontohkan perkembangan AB Chicken yang disebut telah memiliki lebih dari 90 titik. Selain itu, jaringan pendidikan dan pesantren Al-Bahjah juga telah berkembang hingga ke luar negeri.

“Kami 51 tahun di Islamic Center, ternyata masih ketinggalan. Jadi kami mengutamakan ke sini dulu untuk belajar,” katanya.

Menurut Halim, pengalaman Al-Bahjah tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran bagi Islamic Centre Kabupaten Cirebon, khususnya dalam mengembangkan kemandirian ekonomi lembaga.

Ke depan, ia berharap penjajakan tersebut tidak berhenti pada hubungan antara Islamic Centre dan Al-Bahjah. Kolaborasi diharapkan dapat berkembang dengan melibatkan lebih banyak lembaga Islam di Kabupaten Cirebon.

Halim menilai, kekuatan lembaga-lembaga Islam akan semakin besar apabila potensi, pengalaman, serta sumber daya yang dimiliki masing-masing dapat dipertemukan dalam program yang saling mendukung.

Dengan komunikasi yang lebih intensif, ia berharap terbuka lebih banyak peluang kerja sama yang dapat memberikan manfaat bagi pengembangan lembaga maupun masyarakat Kabupaten Cirebon. (zen)