CIREBON – Anak muda di Kota Cirebon didorong tidak bersikap apatis terhadap politik. Bukan sekadar mengikuti kontestasi pemilu atau aktivitas partai, generasi muda dinilai perlu memahami bagaimana kebijakan pemerintah memengaruhi kehidupan mereka sehari-hari.
Hal tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Cirebon Siti Farida Rosmawati saat menghadiri kegiatan Generasi Politik (Genpol) InterAksi Chapter Cirebon, Kamis (24/9).
Menurut Siti Farida, forum yang mempertemukan anak-anak muda untuk membahas politik dan persoalan publik merupakan ruang penting untuk membangun kesadaran politik generasi muda.
Ia menilai, kehadiran anak muda dalam forum diskusi politik menunjukkan bahwa generasi tersebut memiliki perhatian terhadap kondisi daerah dan masa depan pembangunan.
“Mengumpulkan anak-anak muda untuk duduk bersama membicarakan politik merupakan pencapaian yang luar biasa. Ini menunjukkan bahwa anak muda tidak apatis,” kata Siti Farida.
Menurut dia, kepedulian tersebut penting karena kebijakan pemerintah pada akhirnya akan bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat, termasuk generasi muda.
Ia mencontohkan berbagai kebijakan yang berkaitan dengan pembangunan infrastruktur, transportasi, pelayanan kesehatan, hingga pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta industri kreatif.
“Politik sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Ketika pemerintah memperbaiki jalan, menata kota, mengatur transportasi publik, memberikan pelayanan kesehatan, sampai membuka kemudahan bagi anak muda yang ingin mengembangkan UMKM dan industri kreatif, semuanya berkaitan dengan kebijakan yang lahir melalui proses politik,” ujarnya.
Anak Muda Tak Cukup Hanya Ikut Dinamika Politik
Siti Farida yang juga Ketua DPC PKB Kota Cirebon tersebut mengatakan, pemahaman politik di kalangan anak muda tidak cukup hanya dengan mengikuti dinamika politik atau mengetahui siapa yang sedang bertarung dalam kontestasi.
Lebih dari itu, generasi muda perlu memahami proses kebijakan publik secara utuh. Dengan pemahaman tersebut, anak muda dapat ikut melihat bagaimana sebuah kebijakan dirancang, diterapkan, sekaligus mengevaluasi dampaknya di tengah masyarakat.
Menurutnya, keterlibatan anak muda juga dibutuhkan untuk memberikan perspektif baru dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Sebab, pemerintah tidak selalu memiliki jawaban atas seluruh persoalan yang muncul di masyarakat. Bahkan, kebijakan yang terlihat baik dalam tahap perencanaan belum tentu berjalan tanpa kendala ketika diterapkan di lapangan.
“Sebagai bagian dari Pemerintah Kota Cirebon, saya harus jujur mengatakan bahwa birokrasi tidak bisa bekerja sendirian. Di sinilah anak-anak muda dapat memberikan perspektif dan masukan yang segar,” tuturnya.
Kritik Anak Muda Dibutuhkan Pemerintah
Karena itu, ia menilai kritik dari generasi muda tetap dibutuhkan sebagai bagian dari kontrol terhadap jalannya pemerintahan.
Namun, kritik tersebut diharapkan tidak berhenti pada komentar atau penolakan terhadap kebijakan. Anak muda juga didorong memiliki kemampuan membaca data dan memahami persoalan sebelum menyampaikan kritik.
“Kita membutuhkan generasi muda yang melek kebijakan publik, mampu menganalisis dan memahami bagaimana sebuah kebijakan dilaksanakan,” katanya.
Dengan cara tersebut, kata Siti Farida, suara generasi muda dapat menjadi masukan yang lebih konstruktif bagi pemerintah.
“Kritik yang disampaikan kepada pemerintah bisa menjadi kritik yang tajam, berbasis data, sekaligus solutif,” pungkasnya. (sep)
















