CIREBON – Prestasi membanggakan ditorehkan Muhammad Azka Safaraz, siswa SMP Al Hikmah 2 Dukupuntang, Kabupaten Cirebon. Santri Pesantren Tahfidz Qur’an Terpadu (PTQT) Al Hikmah tersebut berhasil meraih medali perak dalam ajang Festival Olimpiade Sains Nasional bidang Matematika.
Pencapaian ini menjadi bukti bahwa pendidikan pesantren mampu mendorong santri berkembang tidak hanya dalam bidang keagamaan, tetapi juga akademik. Azka menunjukkan bahwa menghafal Al-Qur’an dan berprestasi dalam kompetisi sains dapat berjalan beriringan.
Di tengah kesibukannya menjalani pendidikan dan kegiatan pesantren, remaja yang bercita-cita menjadi programmer tersebut juga telah menghafal empat juz Al-Qur’an. Prestasi ini menjadi capaian tersendiri setelah Azka menjalani kehidupan sebagai santri di PTQT Al Hikmah Dukupuntang, Cirebon, selama sekitar dua tahun.
Azka lahir di Indramayu pada 10 Januari 2012. Ia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, putra pasangan Mohamad Fathul Amri, M.Sos., yang bertugas sebagai ASN di BKD Indramayu, dan Dian Agustina, S.P., ASN di Dinas Sosial Indramayu.
Selain menyukai matematika dan memiliki cita-cita berkarier di bidang teknologi, Azka juga mempunyai hobi menulis cerita pendek. Ia memegang semboyan, “Jack of all trades, master of none, but sometimes better than master of one.” Ungkapan tersebut menggambarkan semangatnya untuk terus belajar dan mengembangkan berbagai kemampuan.
Tinggalkan Rumah di Indramayu demi Menuntut Ilmu
Perjalanan Azka menjadi santri dimulai ketika ia meninggalkan rumahnya di Indramayu, yang dikenal sebagai Kota Mangga, untuk menempuh pendidikan di Pesantren Tahfidz Qur’an Terpadu Al Hikmah, Dukupuntang, Kabupaten Cirebon.
Selama kurang lebih dua tahun menjalani kehidupan di pesantren, Azka mendapatkan pengalaman belajar sekaligus pembinaan karakter. Ia mengaku tidak menyangka dapat menghafal empat juz Al-Qur’an, sesuatu yang sebelumnya terasa sulit untuk diwujudkan.
Pencapaian tersebut tidak terlepas dari dukungan keluarga dan pendampingan para pembimbing di pesantren. Doa, motivasi, serta bimbingan yang diberikan secara konsisten menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikannya.
Azka pun menyampaikan rasa terima kasih kepada kedua orang tuanya yang terus memberikan dukungan. Ia juga mengapresiasi para pembimbing yang dengan tekun mendampinginya hingga mampu meraih prestasi akademik sekaligus mengembangkan hafalan Al-Qur’an.
Di luar aktivitas belajar, Azka diketahui mengagumi pembalap Max Emilian Verstappen. Berbagai minat yang dimilikinya menjadi bagian dari proses pengembangan diri selama menempuh pendidikan di lingkungan pesantren.
Orang Tua Bangga atas Prestasi Azka
Keberhasilan putranya meraih medali perak Olimpiade Matematika sekaligus menghafal empat juz Al-Qur’an disambut penuh kebanggaan oleh Mohamad Fathul Amri, M.Sos.
Menurutnya, capaian tersebut merupakan buah dari kerja keras, ketekunan, kedisiplinan, dan doa yang terus dipanjatkan. Ia berharap prestasi yang diraih Azka menjadi awal dari perjalanan panjang dalam menuntut ilmu dan membentuk kepribadian yang baik.
Fathul Amri juga berharap putranya dapat menuntaskan hafalan Al-Qur’an, memperoleh kemudahan dalam belajar, serta tumbuh menjadi pribadi yang saleh dan bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Ia ingin keberhasilan tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan keluarga, tetapi juga membawa keberkahan dan manfaat bagi agama, keluarga, serta bangsa.
Sekolah Dorong Prestasi Akademik dan Tahfidz
Kepala SMP Al Hikmah 2 Dukupuntang, Sudomo, Lc., didampingi Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Muhammad Faris Al Muhajir, S.Pd., turut menyampaikan harapan agar Azka terus mengembangkan potensinya.
Prestasi berupa medali perak Olimpiade Matematika diharapkan menjadi motivasi untuk terus belajar, meningkatkan kemampuan akademik, dan berani mengikuti berbagai kompetisi pada masa mendatang.
Pihak sekolah juga berharap Azka dapat menyelesaikan hafalan Al-Qur’an hingga 30 juz selama menempuh pendidikan di lingkungan Al Hikmah. Bekal tersebut diharapkan dapat mendukung perjalanan hidupnya, baik dalam bidang pendidikan maupun ketika memasuki dunia kerja kelak.
Selama tinggal di pesantren, Azka dinilai menunjukkan perkembangan karakter yang positif. Ia tumbuh menjadi santri yang mandiri, kreatif, disiplin, dan bertanggung jawab.
Pembinaan karakter tersebut menjadi bagian penting dari proses pendidikan yang dijalani santri. Dengan keseimbangan antara ilmu pengetahuan, nilai-nilai keagamaan, dan keterampilan pribadi, santri diharapkan mampu menghadapi tantangan masa depan.
Al Hikmah Kembangkan Potensi Santri
Ketua Yayasan Al Hikmah Bobos, Dukupuntang, Cirebon, Nina Nurohmah, M.Si., Al-Hafidzah, menjelaskan bahwa Yayasan Al Hikmah bergerak di bidang dakwah, sosial, dan pendidikan.
Lembaga tersebut menaungi sejumlah jenjang pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga madrasah aliyah (MA).
Khusus siswa SMP dan MA, yayasan menerapkan sistem pendidikan berasrama dengan kegiatan yang dijalankan selama 24 jam di lingkungan pesantren. Pola pendidikan ini dirancang untuk mendukung pembelajaran akademik sekaligus membangun kebiasaan positif, kedisiplinan, dan kemandirian.
Menurut Nina, pihak yayasan berupaya memfasilitasi potensi setiap santri agar dapat berkembang secara optimal. Harapannya, santri tidak hanya memiliki kedekatan dengan Al-Qur’an dan kemampuan menghafalnya, tetapi juga mampu menunjukkan prestasi akademik serta mengembangkan bakat dan minat masing-masing.
Prestasi Muhammad Azka Safaraz menjadi salah satu gambaran dari tujuan tersebut. Keberhasilannya meraih medali perak Olimpiade Matematika dan menghafal empat juz Al-Qur’an memperlihatkan bahwa pendidikan agama dan pencapaian akademik dapat saling melengkapi.
Capaian Azka sekaligus menjadi motivasi bagi santri lainnya untuk terus berusaha, mengenali potensi diri, dan mengembangkan kemampuan melalui proses belajar yang tekun dan berkelanjutan. (abd)
















