PWI Majalengka Gelar Doa Bersama untuk Lima Jurnalis Korban Erupsi Anak Krakatau

PWI Majalengka menggelar doa bersama untuk lima jurnalis dan tiga awak perahu yang hilang kontak saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau.

MAJALENGKA – Keprihatinan atas hilangnya lima jurnalis dan tiga awak perahu yang dilaporkan hilang kontak saat menjalankan tugas peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau menggugah solidaritas insan pers di Kabupaten Majalengka.

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Majalengka menggelar doa bersama dan aksi hening cipta untuk para korban, Sabtu (19/9/2026) malam.

Kegiatan berlangsung di halaman Kantor PWI Kabupaten Majalengka. Sejumlah insan pers, pekerja seni, serta masyarakat umum turut hadir dalam kegiatan yang digelar sebagai bentuk dukungan moral sekaligus doa bagi keselamatan para korban.

Suasana berlangsung khidmat. Rangkaian kegiatan diisi dengan zikir bersama, istigasah, doa keselamatan, hingga pembacaan puisi. Pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut menggambarkan besarnya dedikasi para jurnalis yang tetap menjalankan tugas di tengah kondisi yang penuh risiko.

Ketua PWI Kabupaten Majalengka, Pardi Supardi, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian dan rasa kebersamaan sesama pekerja media.

Pihaknya masih berharap lima jurnalis dan tiga awak perahu yang belum diketahui keberadaannya dapat ditemukan dalam kondisi selamat.

“Kami terus berharap saudara-saudara kita yang belum ditemukan masih dalam keadaan selamat. Kita bersama-sama mendoakan agar proses pencarian diberikan kemudahan,” ujar Pardi.

Menurutnya, ikhtiar pencarian harus terus dilakukan. Namun, di tengah ketidakpastian tersebut, masyarakat juga diminta menyerahkan hasil akhirnya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Bagi Pardi, musibah tersebut menjadi pengingat bahwa pekerjaan jurnalistik memiliki risiko yang tidak ringan. Di lapangan, wartawan kerap harus berada di lokasi dengan kondisi yang tidak menentu demi mendapatkan informasi dan menyampaikan fakta kepada masyarakat.

Risiko tersebut semakin besar ketika jurnalis menjalankan peliputan di wilayah yang berpotensi mengalami bencana alam.

“Ini menjadi cerminan bahwa tugas seorang jurnalis itu sangat berat dan bisa mengancam nyawa,” katanya.

Meski demikian, Pardi menilai kejadian tersebut tidak semestinya membuat insan pers kehilangan keberanian dalam menjalankan tugas jurnalistik.

Sebaliknya, pengalaman tersebut harus menjadi momentum untuk memperkuat profesionalisme sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap keselamatan kerja.

Ia mengingatkan para wartawan agar tidak mengabaikan aspek keselamatan ketika berada di lapangan. Keberanian dalam mencari informasi, menurutnya, harus tetap dibarengi dengan kewaspadaan dan perhitungan risiko.

“Namun, kejadian ini bukan alasan untuk membuat semangat kita kendor, melainkan menjadi pemicu untuk bekerja lebih profesional dan selalu memproteksi diri,” tegas Pardi.

Ia berharap tragedi tersebut menjadi pelajaran penting bagi seluruh insan pers. Standar keselamatan kerja harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan jurnalistik, terutama ketika wartawan ditugaskan meliput bencana atau berada di kawasan yang memiliki potensi bahaya.

PWI Majalengka juga mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama mendoakan keselamatan para jurnalis dan awak perahu yang masih dalam proses pencarian.

Solidaritas tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa di balik setiap berita yang sampai kepada masyarakat, terdapat kerja keras para jurnalis yang terkadang harus menghadapi situasi berisiko demi menjalankan tugasnya.

Kegiatan doa bersama di Kantor PWI Majalengka pun menjadi bentuk dukungan moral sekaligus penghormatan terhadap dedikasi para pekerja media yang menjalankan tugas jurnalistik di tengah ancaman bencana. (iim)