Penyediaan Benih untuk Swasembada Gula, Ribuan Hektare Lahan Tebu Dikembangkan di Jabar

Koperasi SEMAR menyediakan benih berkualitas untuk mendukung swasembada gula

CIREBON – Upaya memperkuat produksi tebu sebagai bahan baku industri gula terus digencarkan di Jawa Barat. Salah satu langkah yang dilakukan yakni memperkuat penyediaan benih untuk swasembada gula melalui penggunaan benih tebu unggul yang telah bersertifikat dan berlabel.

Koperasi SEMAR menjadi salah satu pihak yang mengambil peran dalam penyediaan benih tebu unggul untuk mendukung pengembangan komoditas tebu di Jawa Barat.

Benih tersebut disiapkan untuk mendukung program hilirisasi tebu, termasuk kegiatan bongkar ratoon serta perluasan areal tanam. Penggunaan benih berkualitas diharapkan dapat membantu petani mendapatkan tanaman tebu dengan produktivitas yang lebih baik.

Salah satu rangkaian program tersebut ditandai dengan tanam perdana benih tebu unggul bersertifikat dan berlabel di Desa Karangsembung, Kecamatan Karangsembung, Kabupaten Cirebon, Kamis, 6 Agustus 2026.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ketersediaan benih berkualitas bagi petani sekaligus mendorong peningkatan produksi tebu di sejumlah wilayah Jawa Barat.

Ketua Koperasi SEMAR, Rahmat Taufik, mengatakan benih yang disiapkan merupakan benih unggul bersertifikat dan berlabel. Benih tersebut nantinya disalurkan untuk mendukung program pengembangan tanaman tebu di sejumlah kabupaten.

“Penyaluran benih tersebut menyasar sejumlah wilayah, di antaranya Kabupaten Cirebon, Kuningan, Majalengka, Indramayu hingga Subang,” ujarnya.

Menurut Rahmat, penyediaan benih menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan areal tanaman tebu. Ketersediaan benih unggul diharapkan dapat memperkuat sektor hulu sehingga pasokan bahan baku untuk industri gula ikut meningkat.

Ribuan Hektare Disiapkan untuk Pengembangan Tebu

Program pengembangan tersebut menyasar lahan dalam skala cukup luas. Total lahan yang telah disiapkan untuk penanaman benih tebu unggul mencapai ribuan hektare.

Kabupaten Cirebon menjadi salah satu wilayah dengan alokasi lahan terbesar, yakni sekitar 1.423 hektare. Sementara itu, Kabupaten Kuningan mendapat alokasi sekitar 131 hektare, Kabupaten Indramayu 156 hektare, dan Kabupaten Subang sekitar 16 hektare.

Pengembangan tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan luas tanam, tetapi juga memberikan dampak terhadap produktivitas tebu dan ketersediaan bahan baku bagi pabrik gula.

“Semoga benih berkualitas mampu membantu petani memperoleh tanaman dengan produktivitas yang lebih baik,” kata Rahmat.

Selain penyediaan benih, kegiatan bongkar ratoon juga menjadi bagian dari strategi pengembangan tanaman tebu. Program tersebut diarahkan untuk memperbaiki kondisi tanaman dan mendukung peningkatan produktivitas lahan.

Rahmat menilai kombinasi antara penggunaan benih unggul, bongkar ratoon, serta perluasan areal tanam dapat menjadi langkah penting dalam memperkuat produksi tebu di Jawa Barat.

Kolaborasi Lintas Sektor Diperkuat

Pelaksanaan tanam perdana di Cirebon juga mendapat dukungan dan pembinaan dari sejumlah pihak. Kolaborasi tersebut melibatkan unsur TNI AU, Danlanud Sukani, Pemerintah Kabupaten Cirebon, Administratur Perhutani Kuningan, hingga General Manager Pabrik Gula se-Jawa Barat.

Keterlibatan berbagai pihak dinilai penting untuk memastikan pengembangan tanaman tebu berjalan secara lebih terarah, mulai dari penyediaan benih hingga penguatan produksi bahan baku untuk industri gula.

Dengan adanya sinergi antara koperasi, pemerintah daerah, TNI, Perhutani, dan pabrik gula, pengembangan komoditas tebu di Jawa Barat diharapkan semakin kuat.

Pada akhirnya, penyediaan benih untuk swasembada gula tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan tanam bagi petani. Program tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai produksi gula dari sektor hulu, meningkatkan produksi tebu, serta mendukung target swasembada gula nasional.

Langkah tersebut diharapkan dapat memberikan fondasi yang lebih kuat bagi pengembangan perkebunan tebu di Jawa Barat sekaligus mendorong peningkatan produksi gula secara berkelanjutan. (*)