Nelayan Citemu Cirebon Hadapi Paceklik Rajungan, Biaya Melaut Capai Rp4 Juta

Paceklik rajungan membuat nelayan Citemu, Kabupaten Cirebon, mengurangi aktivitas melaut

CIREBON – Masa paceklik rajungan membuat nelayan di Desa Citemu, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, harus mengurangi aktivitas melaut. Penurunan hasil tangkapan selama Agustus hingga Oktober 2026 berdampak langsung terhadap pendapatan nelayan, terlebih biaya operasional kapal tetap tinggi meski hasil yang diperoleh tidak menentu.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi masyarakat pesisir yang menggantungkan penghasilan dari penangkapan rajungan. Sebagian nelayan memilih membatasi frekuensi melaut karena khawatir hasil penjualan tidak mampu menutup biaya bahan bakar, kebutuhan kapal, dan upah awak.

Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Wenang Bahari Jaya, Sutirno, mengatakan, penurunan hasil tangkapan pada periode tersebut merupakan siklus musiman yang biasa dihadapi nelayan di wilayah Citemu.

Menurutnya, hasil tangkapan rajungan umumnya mulai meningkat ketika memasuki musim pada November hingga Desember. Sementara itu, selama Agustus, September, dan Oktober, jumlah rajungan yang diperoleh nelayan cenderung lebih sedikit dibandingkan saat musim ramai.

“Bulan-bulan sekarang musim lagi berkurang. Ketika bulan delapan, sembilan, sepuluh, penghasilannya berkurang, hanya sedikit,” kata Sutirno.

Biaya Melaut Tinggi, Hasil Tangkapan Belum Tentu Menguntungkan

Bagi nelayan Citemu, masa paceklik bukan sekadar persoalan berkurangnya hasil tangkapan. Mereka juga harus menghadapi tingginya biaya operasional yang tidak selalu sebanding dengan pendapatan dari penjualan rajungan.

Tekanan ekonomi tersebut terutama dirasakan nelayan yang menggunakan bubu atau perangkap rajungan. Alat tangkap ini membutuhkan waktu cukup lama dalam satu kali perjalanan, bahkan nelayan dapat menghabiskan waktu hingga tiga hari di laut.

Sutirno menjelaskan, biaya operasional kapal pengguna bubu dalam sekali perjalanan bisa mencapai Rp4 juta. Kapal tersebut biasanya membawa empat hingga lima orang awak.

Besarnya biaya itu membuat nelayan harus memperhitungkan potensi hasil tangkapan sebelum memutuskan berangkat. Ketika rajungan sedang melimpah, hasil penjualan dari kapal pengguna bubu dapat mencapai Rp10 juta hingga Rp15 juta dalam satu kali perjalanan.

Namun, angka tersebut sangat bergantung pada kondisi musim dan banyaknya rajungan yang berhasil ditangkap. Ketika hasil tangkapan menurun, pendapatan yang diperoleh bisa jauh lebih kecil, sementara kebutuhan operasional tetap harus dipenuhi.

Sementara itu, nelayan yang menggunakan jaring disebut dapat memperoleh hasil penjualan sekitar Rp1 juta. Perbedaan hasil tersebut menunjukkan bahwa jenis alat tangkap, biaya operasional, dan kondisi perairan turut menentukan pendapatan nelayan.

Karena itu, mengurangi aktivitas melaut menjadi salah satu pilihan untuk menekan risiko kerugian selama masa paceklik. Nelayan perlu memastikan bahwa biaya yang dikeluarkan tidak lebih besar daripada potensi pendapatan yang bisa dibawa pulang.

Nelayan Menunggu Musim Rajungan, Cuaca Tetap Jadi Pertimbangan

Harapan nelayan Citemu untuk kembali mendapatkan penghasilan lebih baik tertuju pada November hingga Desember. Pada periode tersebut, peluang memperoleh rajungan dalam jumlah lebih banyak biasanya mulai terbuka.

Meski demikian, peningkatan hasil tangkapan bukan satu-satunya hal yang harus diperhatikan. Nelayan juga perlu mempertimbangkan perubahan cuaca dan kondisi gelombang laut, terutama ketika memasuki Januari hingga Februari.

Sutirno mengingatkan, periode angin barat berpotensi memicu gelombang tinggi yang membahayakan aktivitas penangkapan ikan. Dalam kondisi tertentu, tinggi gelombang bahkan disebut dapat mencapai tiga hingga lima meter.

Situasi tersebut membuat nelayan harus lebih berhati-hati dalam menentukan waktu keberangkatan. Potensi pendapatan yang lebih besar tidak boleh mengesampingkan keselamatan awak kapal selama berada di laut.

Bagi nelayan tradisional, keputusan melaut kerap menjadi pertimbangan yang tidak mudah. Di satu sisi, mereka membutuhkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Di sisi lain, kondisi cuaca yang tidak bersahabat dapat meningkatkan risiko kecelakaan sekaligus menambah beban ekonomi apabila terjadi kerugian.

Oleh sebab itu, pemantauan informasi cuaca dan kondisi perairan menjadi bagian penting dalam menentukan aktivitas melaut, terutama saat memasuki periode gelombang tinggi.

Kelestarian Laut dan Penghasilan Nelayan Perlu Berjalan Bersama

Selain menghadapi paceklik rajungan, nelayan Citemu juga dihadapkan pada persoalan penggunaan alat tangkap yang berpotensi merusak ekosistem laut.

Sutirno mengungkapkan, upaya memberikan pemahaman kepada nelayan mengenai pentingnya menjaga kelestarian laut terkadang menimbulkan perselisihan. Sebagian nelayan memandang penggunaan alat tangkap tertentu sebagai cara untuk memenuhi kebutuhan hidup di tengah tekanan ekonomi.

Menurutnya, persoalan tersebut perlu diselesaikan melalui pendekatan yang mempertimbangkan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat pesisir. Upaya menjaga lingkungan laut akan lebih efektif apabila berjalan beriringan dengan perlindungan mata pencaharian nelayan.

Pasalnya, keberlanjutan usaha penangkapan rajungan sangat bergantung pada ketersediaan sumber daya laut. Apabila ekosistem terus mengalami kerusakan, nelayan berisiko menghadapi persoalan yang lebih besar, termasuk berkurangnya hasil tangkapan dalam jangka panjang.

Karena itu, edukasi mengenai alat tangkap yang ramah lingkungan perlu disertai pendampingan dan dukungan bagi nelayan agar mereka tetap memiliki kesempatan memperoleh penghasilan secara berkelanjutan.

Sekitar 900 Orang Terlibat dalam Aktivitas Melaut di Citemu

Sementara itu, Kuwu Desa Citemu, Herintiyano, mengatakan, pemerintah desa terus berkoordinasi dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Cirebon serta instansi terkait untuk mendukung kebutuhan masyarakat nelayan.

Sejumlah upaya dilakukan melalui pembentukan kelompok usaha bersama, sosialisasi kepemilikan Kartu Pelaku Usaha Kelautan dan Perikanan (Kusuka), serta perlindungan nelayan melalui program asuransi.

Menurut Herintiyano, Desa Citemu memiliki sekitar 300 perahu nelayan yang masih aktif beroperasi. Dengan perkiraan tiga awak pada setiap perahu, terdapat sekitar 900 orang yang terlibat langsung dalam aktivitas melaut.

Jumlah tersebut belum termasuk anggota keluarga nelayan maupun pekerja yang terlibat dalam pengolahan rajungan. Artinya, perubahan hasil tangkapan tidak hanya berdampak terhadap nelayan yang pergi ke laut, tetapi juga berpengaruh terhadap perputaran ekonomi masyarakat pesisir.

Ketika pasokan rajungan menurun, pendapatan nelayan berpotensi berkurang dan aktivitas usaha yang bergantung pada hasil laut juga dapat ikut terdampak.

“Ketika tangkapan menurun, nelayan harus lebih cermat mengatur pengeluaran sembari menunggu musim rajungan kembali ramai,” ujar Herintiyano.

Bagi masyarakat Desa Citemu, masa paceklik menjadi periode untuk menyesuaikan pengeluaran, menghitung biaya operasional, dan menunggu kondisi perairan kembali mendukung penangkapan rajungan.

Dukungan pemerintah, perlindungan bagi nelayan, serta upaya menjaga kelestarian laut diharapkan dapat membantu masyarakat pesisir menghadapi perubahan musim. Dengan begitu, keberlangsungan usaha perikanan dan penghasilan keluarga nelayan dapat tetap terjaga di tengah ketidakpastian hasil tangkapan. (awr)