
INDRAMAYU – Penyaluran Makanan Bergizi Gratis (MBG) untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita di Kabupaten Indramayu memasuki pola baru. Pemerintah meminta makanan tidak sekadar dibagikan, tetapi diantar langsung sampai ke rumah penerima manfaat.
Instruksi tersebut disampaikan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) RI Wihaji saat menghadiri Temu Kader Tim Pendamping Keluarga (TPK) Kabupaten Indramayu di Gedung Dakwah, Kecamatan Karangampel, Kamis (17/9/2026) sore.
Sekitar 4.000 kader TPK di Kabupaten Indramayu diminta mengambil peran langsung dalam distribusi MBG 3B. Mereka tidak hanya bertugas melakukan pendampingan keluarga, tetapi juga memastikan paket makanan bergizi benar-benar diterima dan dikonsumsi oleh kelompok sasaran.
Wihaji mengatakan, kebijakan tersebut merupakan bagian dari tugas TPK sebagaimana diatur dalam Perpres Nomor 115. Salah satu fokusnya adalah memastikan program MBG 3B tepat sasaran.
“TPK mendapat tugas baru mendistribusikan MBG 3B yang menyasar khusus ibu hamil, ibu menyusui, dan balita,” kata Wihaji.
Menurut dia, pola distribusi harus disesuaikan dengan kondisi penerima. Ibu hamil, misalnya, tidak perlu datang ke Posyandu hanya untuk mengambil makanan. Kader yang harus mendatangi rumah penerima.
“Jangan ibu hamil yang datang ke Posyandu. Khusus MBG 3B ini, kader kita yang mendistribusikan langsung ke rumah, baik jalan kaki maupun menggunakan motor,” ujarnya.
Kebijakan tersebut bukan tanpa alasan. Pemerintah menemukan adanya potensi makanan bantuan tidak dikonsumsi oleh penerima yang menjadi target utama.
Dalam sebuah keluarga, makanan yang seharusnya diperuntukkan bagi ibu hamil, ibu menyusui, atau balita bisa saja ikut dikonsumsi anggota keluarga lainnya. Kondisi tersebut dinilai dapat mengurangi efektivitas program dalam memenuhi kebutuhan gizi kelompok sasaran.
Karena itu, pengantaran hingga ke rumah diharapkan membuat distribusi lebih tepat sasaran. Di sisi lain, kedatangan kader ke rumah juga menjadi kesempatan untuk memberikan edukasi mengenai kebutuhan gizi dan pola pengasuhan kepada keluarga penerima.
Kader Dapat Insentif Rp1.000 per Paket
Tugas tambahan tersebut juga diikuti pemberian insentif kepada kader. Pemerintah menyiapkan insentif sebesar Rp1.000 untuk setiap paket MBG 3B yang didistribusikan.
Insentif tersebut akan diberikan secara berkala, yakni setiap 10 hari.
Wihaji menyebut pelaksanaan MBG 3B di Kabupaten Indramayu sejauh ini berjalan cukup baik. Tingkat realisasi distribusinya disebut telah mencapai sekitar 80 hingga 90 persen.
“Sejauh ini progres pendistribusian MBG 3B di Indramayu telah berjalan optimal dengan tingkat realisasi mencapai 80 hingga 90 persen,” ungkapnya.
Meski demikian, Wihaji mengingatkan para kader agar tidak hanya berfokus pada pemberian makanan bergizi. Upaya menekan masalah stunting membutuhkan pendampingan yang lebih luas.
Indramayu sendiri disebut telah mencatat angka stunting sebesar 9,8 persen. Namun, capaian tersebut tetap harus diikuti dengan upaya berkelanjutan karena masih terdapat sejumlah persoalan yang berkaitan dengan tumbuh kembang anak.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah angka pernikahan dini di Kabupaten Indramayu.
“Indramayu sudah bagus, stunting-nya 9,8 persen. Tapi tugas kader tidak berhenti, harus terus mendampingi karena angka pernikahan dini di sini masih lumayan tinggi,” jelas Wihaji.
Ia menegaskan, persoalan stunting tidak dapat diselesaikan hanya melalui pemberian makanan bergizi. Kondisi rumah, ketersediaan air bersih, edukasi keluarga, hingga sanitasi juga memiliki peran penting.
“Selain asupan gizi, penyelesaian stunting juga butuh rumah layak, air bersih, edukasi, dan sanitasi yang memadai,” tambahnya.
Wihaji Minta Kader Tak Terjebak Seremonial
Dalam kunjungan kerjanya ke Karangampel, Wihaji juga meminta kader dan jajaran kementerian lebih banyak bekerja langsung di tengah masyarakat.
Menurut dia, persoalan keluarga dan pembangunan manusia tidak cukup diselesaikan melalui rapat, seminar, maupun diskusi di ruang pertemuan. Kader justru menjadi ujung tombak karena berhadapan langsung dengan keluarga.
Wihaji menyebut kunjungannya ke Indramayu merupakan bagian dari implementasi arahan Presiden RI agar jajaran pemerintah tidak hanya bekerja dari belakang meja.
“Saya sebagai pembantu Presiden diminta oleh Bapak Presiden, jangan hanya di kantor, jangan hanya seminar atau diskusi. Sekarang saatnya terjun ke lapangan, selesaikan masalah,” tegasnya.
Ia pun meminta para kader yang berasal dari unsur Posyandu, PKK, maupun program KB untuk menjalankan tugas dengan semangat dan penuh keikhlasan.
Dengan pola pengantaran langsung tersebut, distribusi MBG 3B diharapkan tidak berhenti pada persoalan jumlah paket yang tersalurkan. Lebih dari itu, makanan bergizi harus benar-benar sampai kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang menjadi sasaran utama program. (tar)















