
CIREBON – Sejumlah mahasiswa internasional Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) mendapat pengalaman berbeda saat mengunjungi Museum Cakrabuana di Sumber, Kabupaten Cirebon, Rabu (29/9/2026).
Satu per satu koleksi museum mereka amati. Sesekali langkah terhenti ketika menemukan benda yang menarik perhatian, sebelum kembali melanjutkan perjalanan menyusuri ruang pamer.
Lukisan kaca, topeng khas Cirebon, batik, pakaian, ornamen, hingga berbagai benda yang berkaitan dengan kesenian, pertanian, peralatan rumah tangga, manuskrip dan objek budaya lainnya menjadi bagian dari pengalaman mereka.
Bagi Fatou Bajinka, mahasiswa asal The Gambia, kunjungan tersebut bukan sekadar agenda melihat koleksi museum. Momen itu menjadi kesempatan pertamanya mengenal budaya Cirebon secara langsung.
“Ini pertama kalinya saya mengunjungi museum di Cirebon. Saya melihat banyak budaya yang menarik. Semuanya saya suka,” ujar Fatou.
Indonesia juga menjadi negara pertama yang dikunjunginya. Karena itu, kesempatan melihat langsung keragaman budaya Indonesia menjadi pengalaman yang menurutnya sangat berkesan.
Berbagai koleksi yang ada di Museum Cakrabuana membuat Fatou bisa melihat secara langsung bagaimana budaya Cirebon ditampilkan melalui karya seni dan benda-benda peninggalan maupun keseharian masyarakat.
“Bisa melihat budaya Indonesia secara langsung merupakan pengalaman yang sangat luar biasa bagi saya,” katanya.
Pengalaman serupa dirasakan tiga mahasiswa asal Sudan, yakni Naden Nader, Muntisir Yousof Zakaria Mohamed, dan Obai Saif Eldin Mohammed Osman.
Bagi mereka, kunjungan ke Museum Cakrabuana juga menjadi pengalaman pertama mengunjungi museum. Padahal, mereka sudah beberapa bulan tinggal di Cirebon untuk menjalani aktivitas sebagai mahasiswa internasional.
Kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi mereka untuk melihat lebih dekat budaya dan kesenian Cirebon. Perbedaan budaya antara Cirebon dan Sudan justru membuat rasa ingin tahu mereka semakin besar.
Berbagai koleksi museum menjadi pintu masuk untuk mengenal tradisi masyarakat Cirebon. Mereka mengaku ingin mempelajari budaya Indonesia lebih dalam, khususnya budaya Cirebon yang memiliki karakter berbeda dengan budaya di negara asal mereka.
Kendala bahasa memang masih menjadi tantangan. Kemampuan bahasa Indonesia para mahasiswa tersebut belum sepenuhnya lancar. Namun, kondisi itu tidak menyurutkan keinginan mereka untuk memahami penjelasan dan mengenali koleksi yang ada.
Menariknya, selama berada di museum, perhatian para mahasiswa internasional juga beberapa kali tertuju kepada siswa SMP yang tengah berada di lokasi.
Para siswa bahkan beberapa kali mengajak mahasiswa internasional tersebut berfoto bersama. Interaksi sederhana itu turut membuat suasana kunjungan menjadi lebih hangat.
Pembina mahasiswa internasional UMC, Vicky Melwani MBA, mengatakan kunjungan tersebut dilakukan atas undangan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon.
“Kami mengajak 12 mahasiswa internasional UMC dari The Gambia, Ghana, dan Sudan untuk mengunjungi Museum Cakrabuana,” kata Vicky.
Menurutnya, kegiatan tersebut penting agar mahasiswa internasional tidak hanya mengenal Cirebon dari lingkungan kampus.
Mereka juga dapat melihat secara langsung budaya dan kesenian yang berkembang di tengah masyarakat.
Vicky menambahkan, meski kemampuan bahasa Indonesia para mahasiswa masih terbatas, ketertarikan mereka terhadap budaya Cirebon cukup tinggi.
“Walaupun dari segi bahasa mereka belum lancar, mereka tertarik untuk mempelajari budaya Cirebon,” ujarnya.
Kunjungan ke Museum Cakrabuana itu mungkin hanya berlangsung selama beberapa jam. Namun, bagi para mahasiswa internasional tersebut, pengalaman itu menjadi salah satu cara untuk mengenal tempat yang kini menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka.
Di balik lukisan kaca, bentuk topeng, motif batik, manuskrip hingga berbagai ornamen yang mereka lihat, tersimpan potongan cerita tentang Cirebon yang perlahan mereka kenali dari dekat. (awr)















