CIREBON – Kota Cirebon bersiap menjadi panggung pertemuan seni topeng dari berbagai belahan dunia. Sebanyak lima maestro topeng dari Malaysia, Singapura, Korea Selatan, Ekuador, dan Jerman dijadwalkan tampil dalam Cirebon Mask Festival (CMF) 2026 yang akan berlangsung di Balai Kota Cirebon pada 15–16 November 2026.
Kehadiran para maestro mancanegara tersebut menjadi daya tarik utama penyelenggaraan CMF 2026. Festival yang memasuki seri ketiga ini tidak hanya menjadi ajang pertunjukan seni, tetapi juga diharapkan mampu memperkuat pelestarian budaya topeng sekaligus meningkatkan daya tarik pariwisata Kota Udang.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cirebon, Agus Sukmanjaya, mengatakan penyelenggaraan festival tahun ini dirancang lebih istimewa dibandingkan dua edisi sebelumnya. Sejak pertama kali digelar pada 2024, CMF terus dikembangkan agar memiliki jangkauan lebih luas dan dikenal sebagai agenda budaya berskala internasional.
Menurut Agus, Pemkot Cirebon menggandeng Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) untuk memperkuat penyelenggaraan festival. Kolaborasi tersebut juga membuka peluang bagi sektor pariwisata dan perhotelan untuk ikut mengambil manfaat dari kedatangan pengunjung selama acara berlangsung.
“Sejak 2024 kita gelar, tapi tahun ini kita ingin menghadirkan yang berbeda. Kita menggandeng PHRI. Bukan hanya nasional, event nanti akan bertaraf internasional, bersama dengan International Mask Festival (IMF) di Solo,” ungkap Agus, Selasa (13/10).
Maestro dari Lima Negara Jadi Daya Tarik Utama
Salah satu pembeda CMF 2026 adalah kehadiran delegasi seni dari lima negara. Masing-masing delegasi akan membawa tradisi, sejarah, serta karakter pertunjukan topeng yang berkembang di negara asalnya.
Pertemuan berbagai tradisi tersebut diharapkan menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal keragaman seni topeng dunia. Pengunjung tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk memahami nilai budaya yang terkandung di balik bentuk, karakter, dan penggunaan topeng.
Di sisi lain, festival ini tetap menempatkan Topeng Cirebon sebagai bagian penting dari identitas budaya daerah. Keterlibatan seniman lokal menjadi upaya untuk memperkenalkan kekayaan seni tradisional Cirebon kepada audiens yang lebih luas, termasuk para tamu dari luar negeri.
Agus menjelaskan, CMF 2026 juga dirancang sebagai sarana edukasi dan interaksi masyarakat. Melalui kegiatan tersebut, generasi muda diharapkan semakin mengenal tradisi daerah dan memiliki kepedulian untuk menjaga keberlangsungannya.
“Festival ini mendorong masyarakat untuk kembali mengenal tradisi,” ujarnya.
Penyelenggaraan festival juga akan melibatkan berbagai unsur pelaku seni dan pegiat pelestarian Topeng Cirebon. Mereka antara lain dalang, nayaga atau pemain musik pengiring, penari, perajin topeng, hingga penjahit kostum.
Keterlibatan banyak pelaku tersebut memperlihatkan bahwa seni topeng tidak berdiri sendiri. Di balik sebuah pertunjukan, terdapat proses kreatif dan keterampilan yang melibatkan berbagai profesi, mulai dari pembuatan topeng hingga penyajian pertunjukan di atas panggung.
Ada Kirab Budaya hingga Pasar Seni dan Kuliner
Ketua PHRI Kota Cirebon sekaligus Ketua CMF 2026, Imam Reza Hakiki, mengatakan festival ini memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar menyelenggarakan pertunjukan seni. Kegiatan tersebut juga diharapkan dapat mendorong peningkatan kunjungan wisatawan ke Kota Cirebon.
Menurut dia, momentum festival internasional perlu dimanfaatkan untuk memperkenalkan potensi daerah, mulai dari seni budaya, kuliner, hingga layanan akomodasi bagi wisatawan.
Karena itu, pihaknya mengajak berbagai pemangku kepentingan untuk berkolaborasi menyukseskan acara. Dukungan dari pelaku usaha, komunitas seni, pemerintah, serta masyarakat dinilai penting agar penyelenggaraan CMF 2026 memberikan manfaat yang lebih luas.
Imam yang akrab disapa Kiki itu menyebut pelaku usaha perhotelan juga telah menyiapkan rencana paket khusus selama festival berlangsung. Dengan demikian, wisatawan yang datang untuk menikmati pertunjukan dapat memperoleh pilihan layanan akomodasi yang mendukung perjalanan mereka.
“Teman-teman perhotelan juga siap menyediakan paket khusus selama gelaran event ini. Jadi, yang lain juga mari ikut menyukseskan,” kata Kiki.
Selain pertunjukan topeng dari lima negara dan penampilan Topeng Cirebon, panitia telah mengonsep beragam kegiatan pendukung. Agenda tersebut meliputi pasar seni dan kuliner, kirab budaya, dialog budaya, serta lokakarya atau workshop mengenai topeng, batik, dan kuliner.
Festival juga akan diisi kegiatan table top, gala dinner, dan berbagai perlombaan. Rangkaian kegiatan itu diharapkan dapat mempertemukan pelaku seni, komunitas budaya, sektor pariwisata, serta pihak-pihak yang berpotensi menjalin kerja sama.
Melalui agenda yang beragam, pengunjung diharapkan memiliki lebih banyak pilihan aktivitas selama berada di lokasi festival. Sementara itu, pelaku seni dan usaha kreatif lokal berpeluang memperkenalkan karya maupun produk mereka kepada pengunjung.
Targetkan CMF Semakin Dikenal
Bagi penyelenggara, CMF 2026 menjadi langkah penting untuk memperluas pengenalan festival topeng Cirebon di tingkat nasional maupun internasional. Kehadiran maestro dari lima negara diharapkan menjadi awal bagi penyelenggaraan dengan skala dan gaung yang lebih besar pada tahun-tahun berikutnya.
Kiki mengatakan, penyelenggaraan tahun ini menjadi momentum awal untuk membangun daya tarik CMF melalui keterlibatan seniman mancanegara dan kolaborasi berbagai pihak.
“Intinya tahun ini kita mengawali dengan menghadirkan maestro dari lima negara. Tahun depan mudah-mudahan gaungnya semakin besar dan semakin dikenal,” paparnya.
Dengan menggabungkan pertunjukan seni, edukasi budaya, lokakarya, hingga kegiatan yang melibatkan sektor pariwisata, Cirebon Mask Festival 2026 diharapkan mampu menjadi ruang pertemuan budaya sekaligus memperkuat posisi Kota Udang sebagai destinasi wisata berbasis seni dan tradisi.
Masyarakat dan wisatawan dapat menantikan rangkaian acara pada 15–16 November 2026 di Balai Kota Cirebon. Selain menyaksikan pertunjukan dari para maestro mancanegara, pengunjung juga berkesempatan mengenal lebih dekat kekayaan Topeng Cirebon beserta ekosistem seni yang menjaganya tetap hidup. (sep)
















