
MAJALENGKA – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Sindang Kasih Cabang Majalengka menggembleng 34 mahasiswa melalui Latihan Kader I (LK I) atau Basic Training yang berlangsung pada 16–18 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya organisasi dalam membentuk kader muda yang memiliki wawasan keislaman, semangat kebangsaan, serta kemampuan berorganisasi.
Pelatihan yang berlangsung di kampus Universitas Sindang Kasih (USK) Majalengka tersebut diikuti mahasiswa dari Universitas Sindang Kasih dan Universitas Majalengka (Unma). Pembukaan kegiatan dilaksanakan pada Sabtu (17/10/2026) oleh Ketua Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MD KAHMI) Kabupaten Majalengka, Dr Muaz MPd.
Melalui LK I, para peserta diperkenalkan pada nilai-nilai dasar organisasi sekaligus didorong untuk mengembangkan potensi diri. Pelatihan ini juga menjadi langkah awal bagi mahasiswa yang ingin mengenal lebih jauh sejarah, tujuan, dan peran HMI dalam perjalanan gerakan mahasiswa di Indonesia.
Ketua HMI Komisariat Sindang Kasih Majalengka, Faisal Yahya, mengatakan bahwa LK I merupakan program rutin organisasi yang memiliki peran penting dalam memperluas proses kaderisasi di lingkungan perguruan tinggi.
Menurut Faisal, keikutsertaan 34 mahasiswa dalam pelatihan tersebut menjadi kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai organisasi sekaligus mempersiapkan generasi muda agar mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
“Alhamdulillah, jajaran pengurus HMI Komisariat Sindang Kasih Majalengka dapat melaksanakan pembukaan LK I tahun 2026. Kegiatan kali ini diikuti 34 peserta dari mahasiswa Universitas Sindang Kasih Majalengka dan Universitas Majalengka,” kata Faisal.
Bekali Mahasiswa dengan Keislaman, Organisasi, dan Wawasan Kebangsaan
Selama tiga hari pelaksanaan, peserta mendapatkan berbagai materi yang berkaitan dengan dasar-dasar perkaderan HMI. Materi tersebut meliputi keislaman, sejarah HMI, dasar-dasar organisasi, wawasan kebangsaan, Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP), tujuan organisasi, serta fungsi dan peran mahasiswa dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Rangkaian materi tersebut dirancang untuk memperluas pemahaman peserta mengenai tanggung jawab mahasiswa, baik sebagai insan akademis maupun bagian dari masyarakat.
Faisal menegaskan, kaderisasi tidak semata-mata berorientasi pada penambahan jumlah anggota. Lebih dari itu, proses pengaderan diharapkan mampu membentuk karakter, menumbuhkan kepedulian sosial, serta meningkatkan kepekaan mahasiswa terhadap persoalan yang berkembang di lingkungan sekitarnya.
Ia menilai, mahasiswa perlu memiliki kemampuan berpikir kritis agar tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi juga mampu memahami persoalan, menganalisis berbagai sudut pandang, dan merumuskan gagasan yang bermanfaat.
“Mahasiswa memiliki tugas dan fungsi sebagai agent of change. Karena itu, mereka perlu ditempa melalui pengaderan seperti ini,” ujarnya.
Menurut Faisal, organisasi mahasiswa dapat menjadi ruang pembelajaran di luar kelas. Melalui berbagai aktivitas organisasi, mahasiswa berkesempatan melatih kepemimpinan, kemampuan berkomunikasi, kerja sama tim, hingga keterampilan menyelesaikan persoalan.
Meski demikian, ia mengingatkan agar para peserta tetap menjaga keseimbangan antara aktivitas akademik dan organisasi. Keduanya dinilai dapat berjalan beriringan selama mahasiswa mampu mengatur waktu, menentukan prioritas, dan menjalankan tanggung jawab dengan baik.
Setelah menyelesaikan LK I, peserta diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan semata. Mereka didorong untuk terus mengembangkan kemampuan melalui diskusi, kajian ilmiah, pembelajaran keislaman, dan keterlibatan aktif dalam berbagai program organisasi.
KAHMI Dorong Kader HMI Kembangkan Kompetensi dan Kepemimpinan
Sementara itu, Ketua MD KAHMI Kabupaten Majalengka, Dr Muaz MPd, menilai HMI dapat menjadi wadah strategis bagi mahasiswa untuk meningkatkan kapasitas diri, terutama dalam aspek kepemimpinan, pengembangan wawasan, dan kemampuan berorganisasi.
Menurut Muaz, pengalaman berorganisasi merupakan salah satu bekal penting bagi mahasiswa dalam menghadapi tantangan setelah menyelesaikan pendidikan tinggi. Selain kompetensi akademik sesuai bidang studi, mahasiswa juga membutuhkan keterampilan komunikasi, kemampuan membangun relasi, serta kecakapan beradaptasi dengan lingkungan profesional.
Ia menyebutkan, alumni HMI telah berkiprah di berbagai sektor, mulai dari pemerintahan, lembaga legislatif, dunia akademik, hingga perusahaan nasional dan internasional.
“Dengan menjadi kader HMI, mahasiswa sedang menyiapkan diri untuk mencapai kesuksesan pada masa depan. Mereka tidak hanya dipersiapkan menjadi profesional sesuai bidang pendidikannya, tetapi juga dibekali kemampuan untuk mengembangkan diri di berbagai bidang lainnya,” kata Muaz, yang juga dosen Universitas Sindang Kasih Majalengka.
Muaz menambahkan, HMI bersama MD KAHMI Majalengka membuka ruang bagi mahasiswa untuk meningkatkan kompetensi melalui kegiatan nyata, diskusi, dan kajian keilmuan. Berbagai aktivitas tersebut diharapkan dapat mempertemukan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah dengan pengalaman praktis di tengah masyarakat.
Ia juga mendorong kader HMI membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah, perusahaan, badan usaha milik daerah (BUMD), badan usaha milik negara (BUMN), serta berbagai lembaga lainnya.
Kolaborasi tersebut dinilai berpotensi memperluas pengalaman mahasiswa sekaligus membuka kesempatan untuk mengembangkan kreativitas, jejaring profesional, dan kemampuan kepemimpinan.
Melalui Latihan Kader I 2026, HMI Komisariat Sindang Kasih Majalengka berharap dapat melahirkan kader muda yang memiliki fondasi keislaman dan kebangsaan yang kuat, mampu berpikir kritis, serta mempunyai kepedulian terhadap persoalan sosial.
Dengan bekal tersebut, para kader diharapkan tidak hanya berkembang dalam bidang akademik, tetapi juga mampu mengambil peran nyata dalam kehidupan bermasyarakat dan berkontribusi terhadap pembangunan daerah.
Pelaksanaan LK I ini sekaligus menegaskan pentingnya proses kaderisasi sebagai ruang pembentukan karakter dan pengembangan kapasitas mahasiswa. Ke depan, keberlanjutan pembinaan menjadi salah satu faktor penting agar nilai-nilai yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan dalam aktivitas organisasi maupun kehidupan sehari-hari. (bae)














