CIREBON – Sampah organik rumah tangga ternyata bisa diolah menjadi produk yang bermanfaat sekaligus memiliki nilai ekonomi. Hal itu dibuktikan warga RW 12 Kompleks Perumahan Griya Sunyaragi Permai (GSP), Kelurahan Karyamulya, Kota Cirebon.
Sebanyak 32 warga mengikuti pelatihan pembuatan sabun cuci berbahan eco enzyme yang digelar Kementerian Ketenagakerjaan melalui Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Bandung.
Pelatihan berlangsung selama lima hari, mulai Senin hingga Jumat (7-11 September 2026). Kegiatan dipusatkan di Bank Sampah RW 12 GSP.
Selama mengikuti pelatihan, peserta tidak hanya mendapatkan materi mengenai pengelolaan sampah organik. Mereka juga diajak praktik langsung mengolah eco enzyme menjadi produk sabun pencuci yang dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya meningkatkan keterampilan masyarakat sekaligus mendorong pengelolaan sampah dari sumbernya.
Sub Koordinator Peningkatan Kompetensi Instruktur dan Tenaga Pelatihan BBPVP Bandung, Yogi Harsanto, mengatakan sampah rumah tangga masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan menjadi berbagai produk.
Menurutnya, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mengolah sampah organik menjadi eco enzyme. Hasil pengolahan tersebut kemudian dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk menghasilkan produk rumah tangga.
“Harapannya, peserta memahami konsep pengelolaan sampah organik dan mampu memanfaatkannya sehingga memberikan nilai guna bagi masyarakat,” kata Yogi.
Ia menjelaskan, keterampilan yang diberikan dalam pelatihan diharapkan tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Para peserta diharapkan mampu menerapkan pengetahuan tersebut di lingkungan masing-masing.
Selain itu, peserta juga diharapkan dapat membagikan keterampilan yang diperoleh kepada warga lainnya. Dengan begitu, pengelolaan sampah berbasis masyarakat dapat berkembang lebih luas.
Yogi menyebut BBPVP Bandung juga memiliki sejumlah program lain yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan dan pemanfaatan limbah.
Beberapa di antaranya adalah pelatihan pengolahan minyak jelantah, pembuatan lilin, hingga budi daya maggot.
Berbagai program tersebut diarahkan untuk mengurangi volume sampah rumah tangga yang berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA).
“Upaya tersebut sekaligus mendorong penerapan prinsip zero waste dan pengelolaan sampah yang berkelanjutan,” ujarnya.
Menurut Yogi, pengolahan sampah juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi produktif. Produk yang dihasilkan dari keterampilan tersebut dapat dikemas dan dipasarkan apabila kualitas serta proses produksinya terus dikembangkan.
Dengan demikian, manfaat pelatihan tidak hanya dirasakan dari sisi lingkungan. Masyarakat juga memiliki peluang mendapatkan tambahan penghasilan dari produk berbasis pengelolaan limbah rumah tangga.
Sementara itu, Ketua RT 01 RW 12 Mulya Sejahtera, Sumadi Chaniago, berharap keterampilan yang diperoleh warga dapat terus dipraktikkan setelah pelatihan berakhir.
“Setelah selesai pelatihan, peserta diharapkan bisa membuat sabun sendiri dan bisa menyebarkan ilmu kepada orang lain. Bahkan, kalau dikembangkan, bisa menjadi produk bernilai jual dan sumber penghasilan,” ujarnya.
Sumadi menilai pelatihan tersebut menjadi kesempatan bagi warga untuk memperoleh keterampilan baru sekaligus belajar mengelola sampah yang berasal dari lingkungan sendiri.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan sehingga kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah semakin meningkat.
Bagi warga RW 12 GSP, sampah yang sebelumnya dianggap sebagai persoalan lingkungan kini memiliki peluang untuk diubah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.
Melalui pengolahan eco enzyme, pengelolaan sampah tidak hanya diarahkan untuk mengurangi beban lingkungan, tetapi juga membuka peluang munculnya kegiatan ekonomi baru di tingkat masyarakat. (sud)
















