Ratusan Warga Indramayu Mandi Grujug di Sumur Kramat

Ratusan warga melakukan mandi grujug di sumur kramat

INDRAMAYU – Tepat tengah malam, Selasa (25/8) dini hari WIB, ratusan warga memadati pelataran Masjid Pusaka Baiturrahmah Dermayu. Mereka datang untuk mengikuti tradisi Mandi Grujug, sebuah ritual yang dilakukan masyarakat setempat setiap 12 Rabiul Awal dalam kalender Hijriah, bertepatan dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Tradisi tersebut dilakukan dengan mandi menggunakan air dari sumur yang berada di lingkungan Masjid Pusaka Baiturrahmah Dermayu. Oleh masyarakat setempat, sumur tersebut juga dikenal dengan sebutan Sumur Pengantin.

Sejak malam hari, warga berdatangan secara bergantian untuk mengikuti tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut. Mereka datang dengan berbagai harapan, mulai dari memohon kesehatan hingga keberkahan dalam menjalani kehidupan.

Budayawan Kabupaten Indramayu, Nang Sadewo, mengatakan Mandi Grujug merupakan salah satu kekayaan ritus masyarakat pesisir yang memadukan tradisi lokal dengan nilai-nilai Islam. Menurutnya, ritual tersebut biasanya dilakukan pada momentum tertentu, seperti hari-hari besar Islam, Jumat, maupun Jumat Kliwon.

“Warga datang dengan membawa harapannya masing-masing. Ini merupakan naluri masyarakat. Mereka datang tanpa diundang karena percaya akan keberkahannya,” ujarnya.

Sadewo mengungkapkan, Masjid Pusaka Baiturrahmah Dermayu diperkirakan telah dibangun sekitar tahun 1510. Sementara sumur yang berada di lingkungan masjid tersebut diperkirakan sudah ada sejak sekitar tahun 1470-an.

Adapun tradisi Mandi Grujug diperkirakan telah berlangsung sejak zaman Wali Songo dan berkaitan dengan perjalanan penyebaran Islam di wilayah tersebut.

“Yang istimewa, air di sumur Masjid Pusaka Dermayu ini tidak pernah kering ketika musim kemarau dan saat musim hujan juga tidak pernah meluap. Airnya segitu saja. Ini menjadi simbol bahwa Islam adalah agama rahmatan lil alamin,” jelasnya.

Keberadaan sumur tersebut semakin dikenal karena berkembangnya berbagai cerita di tengah masyarakat. Sejumlah warga mengaku memperoleh kesembuhan dari penyakit hingga dimudahkan dalam urusan jodoh setelah menggunakan air dari sumur tersebut.

Cerita-cerita itu kemudian membuat sumur di lingkungan Masjid Pusaka Dermayu semakin populer. Tidak sedikit warga yang datang, terutama pada momentum tertentu, untuk mengikuti tradisi Mandi Grujug.

Namun, Pengurus DKM Masjid Pusaka, Fuad, meluruskan berbagai mitos yang berkembang di tengah masyarakat. Ia menjelaskan, secara fisik sumur tersebut tidak mendapatkan perlakuan khusus dan pihak DKM juga tidak mengeramatkannya secara berlebihan.

Menurut Fuad, di balik kepercayaan masyarakat yang mengikuti tradisi Mandi Grujug terdapat pesan yang diwariskan oleh para orang tua terdahulu. Keberkahan dari keberadaan sumur tersebut diyakini tidak dapat dipisahkan dari ibadah, khususnya melaksanakan salat di masjid.

“Keberkahan sesungguhnya adalah hasil dari doa yang dikabulkan Allah saat salat di masjid, sementara air sumur hanyalah bentuk ikhtiar,” ujarnya.

Sementara itu, salah seorang warga, Ahmad (53), mengaku sengaja datang ke Masjid Pusaka Dermayu tepat tengah malam untuk mengikuti tradisi tersebut. Ia ingin merasakan langsung mandi menggunakan air dari sumur yang berada di lingkungan masjid.

“Intinya ingin diberikan kesehatan dan mendapat barokahnya, itu saja,” ujarnya. (oni)