MAJALENGKA – Kabupaten Majalengka bersiap menjadi pusat perhatian nasional melalui peluncuran program Gentengisasi yang dijadwalkan dihadiri Presiden Prabowo Subianto, Minggu (8/11/2026). Kegiatan tersebut rencananya berlangsung di Lapangan Pasar Lama, Kelurahan Majalengka Wetan.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Majalengka mulai mematangkan berbagai persiapan untuk menyambut agenda tersebut. Selain menjadi momentum kunjungan kepala negara, peluncuran program Gentengisasi diharapkan mampu membangkitkan kembali industri genteng Jatiwangi yang selama ini menjadi salah satu identitas ekonomi masyarakat Majalengka.
Persiapan kegiatan dibahas dalam rapat koordinasi yang dipimpin langsung Bupati Majalengka Drs H Eman Suherman MM di Gedung Yudha Karya. Rapat tersebut melibatkan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), organisasi perangkat daerah (OPD), para camat, serta sejumlah pihak terkait.
Bupati Eman Suherman mengatakan, rencana kehadiran Presiden Prabowo menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Majalengka. Terlebih, agenda tersebut berpotensi membuka peluang lebih besar bagi para pelaku industri genteng Jatiwangi untuk mendapatkan perhatian dan dukungan pemerintah pusat.
Menurut Eman, industri genteng Jatiwangi memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Industri berbasis kerajinan rumahan tersebut mulai berkembang sejak 1905 dan diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat.
Industri ini bahkan pernah mengalami masa kejayaan pada akhir 1990-an. Saat itu, tercatat sekitar 720 pabrik genteng beroperasi dan menjadi sumber penghidupan bagi banyak keluarga.
Namun, kondisi tersebut kini mengalami perubahan cukup signifikan. Dari ratusan pabrik yang pernah berjaya, saat ini hanya sekitar 200 pabrik yang masih mampu bertahan.
” Dari sekitar 720 pabrik yang pernah beroperasi pada masa kejayaannya, saat ini hanya tersisa kurang lebih 200 pabrik yang masih bertahan,” ungkap Eman.
Industri Genteng Jatiwangi Hadapi Persaingan Produk Modern
Menyusutnya jumlah pabrik genteng Jatiwangi tidak terlepas dari berbagai tantangan yang dihadapi para pelaku usaha. Salah satu persoalan utama adalah semakin terbatasnya ketersediaan bahan baku tanah liat sebagai material dasar pembuatan genteng.
Di sisi lain, industri genteng tradisional juga harus menghadapi persaingan dengan berbagai produk atap modern. Genteng berbahan metal dan multiroof menjadi alternatif yang semakin banyak digunakan masyarakat karena menawarkan karakteristik dan pilihan produk yang beragam.
Persaingan tersebut membuat sebagian pengusaha kesulitan mempertahankan kegiatan produksi. Tidak sedikit pabrik yang akhirnya berhenti beroperasi karena tekanan biaya produksi, keterbatasan bahan baku, hingga perubahan permintaan pasar.
Selain persoalan produksi dan pemasaran, kualitas produk juga menjadi perhatian penting dalam upaya mengembangkan kembali industri genteng Jatiwangi.
Dari sekitar 200 pabrik yang masih beroperasi, sebanyak 34 pabrik disebut telah lolos seleksi dan mengantongi sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI). Sementara itu, 116 pabrik lainnya masih belum memiliki sertifikasi tersebut.
Eman menilai perhatian Presiden Prabowo terhadap penggunaan genteng berstandar SNI harus dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk meningkatkan kualitas produksi.
Dengan demikian, program Gentengisasi tidak hanya mendorong peningkatan permintaan, tetapi juga menjadi pemicu bagi pengusaha lokal untuk memperbaiki standar mutu dan daya saing produk.
2,4 Juta Genteng Jatiwangi Disiapkan untuk Program Gentengisasi
Salah satu bagian penting dalam program Gentengisasi adalah rencana pendistribusian sekitar 2,4 juta genteng produksi Jatiwangi.
Untuk mendukung distribusi tersebut, diperkirakan dibutuhkan sekitar 600 truk yang akan mengangkut genteng ke sejumlah daerah penerima bantuan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) dari Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP).
Rencana tersebut menjadi peluang besar bagi industri genteng lokal. Sebab, keterlibatan produk Jatiwangi dalam program pemerintah berpotensi membuka pasar baru sekaligus meningkatkan aktivitas produksi pabrik yang masih bertahan.
Bagi para pengusaha, kepastian permintaan dalam jumlah besar tentu dapat memberikan dorongan terhadap keberlangsungan usaha. Dampaknya juga berpotensi dirasakan para pekerja, pemasok bahan baku, hingga masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari industri genteng.
“Ini merupakan kebahagiaan dan kehormatan bagi kami. Saya berharap program Gentengisasi dapat menjadi momentum bagi para pengusaha genteng Jatiwangi untuk kembali berkembang,” ujar Eman.
Peluncuran program tersebut juga direncanakan dihadiri Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait bersama sejumlah pihak terkait.
Pemkab Majalengka Matangkan Pengamanan dan Rekayasa Lalu Lintas
Menjelang pelaksanaan kegiatan, Pemkab Majalengka terus mengoordinasikan berbagai kebutuhan teknis. Persiapan meliputi kesiapan lokasi acara, pengamanan, pengaturan mobilitas kendaraan, hingga rekayasa lalu lintas di sekitar kawasan Lapangan Pasar Lama.
Koordinasi lintas instansi diperlukan agar seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan tertib dan lancar, mengingat agenda tersebut direncanakan dihadiri Presiden Republik Indonesia.
Bupati Eman berharap peluncuran program Gentengisasi tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial atau sekadar agenda kunjungan pejabat negara.
Lebih dari itu, pemerintah daerah menginginkan adanya dampak ekonomi jangka panjang bagi masyarakat, khususnya para pelaku usaha genteng di wilayah Jatiwangi.
Program tersebut diharapkan mampu memperluas jangkauan pemasaran, meningkatkan kualitas produk, mempertahankan lapangan pekerjaan, serta memperkuat kesejahteraan masyarakat.
Dengan dukungan pemerintah pusat dan peningkatan daya saing industri, genteng Jatiwangi diharapkan kembali menemukan masa kejayaannya.
Bagi Kabupaten Majalengka, kebangkitan industri genteng bukan sekadar persoalan bisnis. Industri yang telah tumbuh lebih dari satu abad itu juga merupakan warisan ekonomi, keterampilan, dan identitas masyarakat yang perlu dipertahankan untuk generasi mendatang. (ono)
















