CIREBON – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cirebon memperluas pelacakan atau tracing tuberkulosis (TBC) untuk menemukan penderita yang belum terdeteksi. Hingga November 2026, sedikitnya 464 lokus menjadi sasaran pemeriksaan.
Perluasan tracing dilakukan di tengah masih tingginya temuan kasus TBC di Kabupaten Cirebon. Berdasarkan data penanganan tahun sebelumnya, dari sekitar 50.000 warga yang menjalani pemeriksaan, sebanyak 4.296 orang dinyatakan positif TBC dan mendapat pengobatan.
Kepala Dinkes Kabupaten Cirebon, Hj Eni Suhaeni SKM MKes mengatakan, perluasan tracing menjadi bagian dari upaya mempercepat penemuan kasus sekaligus memutus mata rantai penularan TBC.
“Yang kita tracing adalah kontak erat, baik keluarga maupun tetangga yang pernah berinteraksi dengan pasien,” kata Eni, Jumat (28/8/2026).
Tracing TBC kini mulai diintegrasikan dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dilaksanakan sejak 3 Agustus 2026.
Hingga saat ini, sekitar 1.096 orang telah masuk dalam data pemeriksaan. Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah karena proses input data dilakukan secara bertahap setelah pemeriksaan di lapangan.
Sebelumnya, tracing yang dilakukan di enam Puskesmas berhasil menemukan 158 warga yang masuk kategori terduga TBC. Mereka kemudian menjalani pemeriksaan dan mendapatkan penanganan melalui Puskesmas.
Warga yang dinyatakan positif TBC diwajibkan menjalani pengobatan dan kontrol secara berkala untuk memastikan proses penyembuhan berjalan optimal.
“Yang 158 terdeteksi TBC langsung diintervensi dan diobati. Setiap bulan mereka harus kontrol ke Puskesmas,” ujarnya.
Sasar 464 Lokus
Dinkes Kabupaten Cirebon selanjutnya memperluas sasaran tracing hingga 464 lokus. Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung hampir setiap hari hingga November 2026.
Lokus yang menjadi sasaran meliputi desa dan kelurahan. Selain itu, tracing juga menyasar populasi khusus, seperti pondok pesantren dan lembaga pemasyarakatan.
Setiap lokus ditargetkan mampu menjaring sedikitnya 100 orang untuk menjalani screening TBC.
“Harapannya satu lokus satu kali gerak bisa dilakukan screening sebanyak 100 orang,” katanya.
Screening dilakukan melalui pemeriksaan berdasarkan gejala dan mobile X-ray. Pelaksanaan pemeriksaan juga diintegrasikan dengan layanan CKG untuk memperluas jangkauan masyarakat yang dapat diperiksa.
Petugas menggunakan pendekatan by name by address untuk menelusuri warga yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC. Jika warga yang menjadi sasaran tidak dapat datang ke Puskesmas, petugas akan melakukan kunjungan langsung.
Dinkes juga melibatkan kader kesehatan desa untuk membantu menjangkau masyarakat. Selain membantu proses pelacakan, kader memberikan edukasi mengenai gejala, cara penularan dan langkah pencegahan TBC.
Kejar Target Penurunan TBC 50 Persen
Perluasan tracing dilakukan untuk mendukung target pemerintah menurunkan kasus TBC hingga 50 persen pada 2029.
Eni menyebut terdapat empat indikator utama yang harus dicapai untuk mewujudkan target tersebut.
Pertama, menemukan kasus TBC sebanyak-banyaknya. Kedua, memastikan penderita yang ditemukan segera mendapatkan pengobatan. Ketiga, memastikan pasien menyelesaikan pengobatan hingga tuntas.
Keempat, memberikan terapi pencegahan TBC kepada orang-orang yang memiliki risiko tertular.
“Empat indikator ini kalau berhasil, diharapkan kasus TBC bisa turun 50 persen pada 2029,” kata Eni.
Berdasarkan data tahun sebelumnya, dari 4.296 pasien yang dinyatakan positif TBC, sebanyak 1.069 orang dinyatakan sembuh. Sebanyak 2.301 orang menyelesaikan pengobatan, 540 orang putus berobat, 232 orang meninggal dunia dan 10 orang mengalami gagal pengobatan.
Data tersebut menunjukkan penanganan TBC tidak berhenti pada penemuan kasus. Pasien harus dipastikan menjalani pengobatan sampai selesai karena penderita yang putus berobat berpotensi kembali menjadi sumber penularan.
“Keberhasilan penanganan TBC bukan hanya soal menemukan pasien, tetapi memastikan mereka menyelesaikan pengobatan sampai tuntas,” tegasnya.
Selain pasien, Dinkes juga menyasar keluarga dan kontak erat untuk diperiksa guna mengetahui kemungkinan terjadinya penularan.
Bagi warga yang memenuhi kriteria risiko, terapi pencegahan TBC dapat diberikan sebagai bagian dari upaya mencegah berkembangnya penyakit.
Eni mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu sampai mengalami gejala berat untuk melakukan pemeriksaan, terutama bagi warga yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC.
“Semakin cepat ditemukan dan diobati, semakin besar peluang penularan TBC dapat ditekan,” pungkasnya. (zen)
















