Jatiwangi art Factory Rayakan 21 Tahun Perjalanan Kebudayaan

Jatiwangi art Factory telah berusia 21 tahun dan kini telah terhubung dengan 50 negara

MAJALENGKA – Dari kawasan yang lekat dengan industri genteng dan tanah liat, sebuah gerakan kebudayaan tumbuh dan berkembang hingga menembus berbagai belahan dunia.

Gerakan tersebut adalah Jatiwangi art Factory (JaF), komunitas seni dan kebudayaan yang kini memasuki usia 21 tahun. Berawal dari kegelisahan untuk menyuarakan identitas lokal Kecamatan Jatiwangi, perjalanan JaF berkembang menjadi jejaring kebudayaan yang menjangkau masyarakat internasional.

Selama lebih dari dua dekade, JaF tidak hanya membawa karya seni ke berbagai negara, tetapi juga membangun dialog dan pertukaran pengetahuan dengan komunitas seni di berbagai penjuru dunia.

Pendiri JaF, Ginggi Syarief Hasim, mengatakan perjalanan panjang tersebut tidak selalu berlangsung mudah. Menurutnya, menjaga konsistensi gerakan kebudayaan membutuhkan ketekunan dan kemampuan untuk terus beradaptasi.

Ia masih mengingat nasihat seniman Sawung Jabo pada masa awal berdirinya JaF yang hingga kini menjadi salah satu prinsip komunitas tersebut.

“Kadang bisa berlari, kadang bisa berjalan kaki, kadang merayap. Tetapi jangan berhenti,” kenang Ginggi.

Prinsip itu pula yang membuat para seniman JaF terus bergerak. Mereka melakukan perjalanan kebudayaan ke Amerika, Eropa, Afrika, Asia, hingga Australia.

Perjalanan tersebut tidak sekadar menjadi aktivitas berkesenian, tetapi berkembang menjadi bentuk diplomasi kebudayaan yang dilakukan secara organik. Narasi tentang Jatiwangi dan Indonesia dibawa melalui karya, pertemuan, serta pertukaran gagasan dengan masyarakat internasional.

Hingga kini, jejaring JaF telah terhubung dengan lebih dari 50 negara. Dialog kebudayaan juga dibangun bersama para pelaku seni dari sejumlah wilayah, termasuk Iran dan Palestina.

Menjadi Laboratorium Sosial dan Seni

Di Jatiwangi, JaF tetap menjaga markasnya sebagai ruang bertemunya seni, masyarakat, dan berbagai gagasan baru.

Beragam inisiatif kemudian lahir untuk memperkuat ekosistem kebudayaan tersebut. Salah satunya Ruang Kosmik, yang menjadi wadah interaktif untuk pameran seni rupa, pertunjukan musik, hingga ruang diskusi.

JaF juga memiliki program Artist in Residence (AiR). Melalui program tersebut, seniman dari berbagai negara diundang untuk tinggal dan berinteraksi langsung dengan masyarakat Jatiwangi.

Para seniman tidak hanya berbagi pengalaman berkarya, tetapi juga berdiskusi mengenai metode kerja, keterampilan, hingga aspek ekonomi dalam dunia seni.

Program lainnya yang cukup menonjol adalah Perhutana. Gerakan ini membawa gagasan sederhana mengenai upaya mewariskan ruang hijau bagi generasi mendatang.

Melalui Perhutana, masyarakat dapat bergotong royong membeli petak tanah berukuran 4×4 meter. Petak-petak tersebut kemudian dihimpun menjadi kawasan hutan bersama yang selanjutnya dihibahkan kepada negara untuk dijadikan kawasan lindung.

Menariknya, gerakan yang berangkat dari komunitas lokal tersebut justru mendapat dukungan besar dari masyarakat internasional.

Sekitar 70 persen pemilik atau donatur petak tanah dalam program tersebut berasal dari luar Indonesia.

Menyiapkan Regenerasi

Memasuki usia ke-21, JaF mulai mengarahkan perhatian lebih besar pada keberlanjutan gerakan dan proses regenerasi.

Ginggi mengatakan, tantangan JaF saat ini bukan lagi sekadar memperluas jejaring ke berbagai negara. Hal yang tidak kalah penting adalah memastikan gerakan kebudayaan tersebut dapat diteruskan oleh generasi muda.

“Memasuki usia ke-21, fokus JaF kini bergerak menuju masa depan. Tantangan terbesar saat ini bukan lagi sejauh mana melangkah di peta dunia, melainkan bagaimana memastikan estafet gerakan ini berpindah dengan mulus ke tangan anak-anak muda,” tegasnya.

Di tingkat lokal, hubungan JaF dengan Pemerintah Kabupaten Majalengka juga semakin terbuka.

Komunikasi dan kolaborasi antara komunitas dengan pemerintah daerah mulai terbangun lebih harmonis. Pemerintah daerah turut membuka ruang kerja sama dan memberikan kesempatan yang lebih luas bagi berbagai gagasan kreatif dari komunitas.

Perjalanan 21 tahun JaF menunjukkan bahwa identitas lokal tidak harus menjadi batas. Dari tanah liat Jatiwangi, gerakan kebudayaan mampu berkembang menjadi jejaring internasional.

Dengan prinsip untuk terus bergerak—berlari, berjalan, ataupun merayap—JaF berupaya memastikan suara kebudayaan dari Majalengka tetap terdengar hingga ke berbagai penjuru dunia. (iim)