Bunda Literasi Kota Cirebon Ajak Siswa Gemar Membaca untuk Cegah Kecanduan Gadget

Cegah kecanduan gadget, bunda literasi ajak gemar membaca sejak usia dini

CIREBON – Bunda Literasi Kota Cirebon, Noviyanti Edo, mengajak para pelajar membangun kebiasaan membaca buku sejak dini. Upaya ini dinilai penting untuk meningkatkan budaya literasi sekaligus mendorong anak-anak agar tidak terlalu bergantung pada gadget dalam aktivitas sehari-hari.

Ajakan tersebut disampaikan Noviyanti saat melakukan kunjungan literasi ke SMP Negeri 1 Kota Cirebon. Dalam kegiatan itu, ia menekankan pentingnya peran keluarga dan sekolah dalam menciptakan lingkungan yang mendorong anak-anak mencintai buku.

Menurut Noviyanti, membaca bukan sekadar kegiatan untuk memperoleh informasi, melainkan juga menjadi salah satu cara memperluas wawasan, mengembangkan kemampuan berpikir, dan membangun kebiasaan belajar sepanjang hayat.

Ia menilai, kecintaan terhadap buku perlu ditanamkan sejak anak masih kecil. Dengan pembiasaan yang konsisten, membaca diharapkan dapat menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari, bukan hanya dilakukan ketika ada tugas sekolah atau menjelang ujian.

“Membaca itu seperti menjadi kewajiban, karena membaca adalah gerbangnya dunia,” kata Noviyanti.

Pojok Baca di Sekolah Jadi Cara Menumbuhkan Minat Baca

Noviyanti mengapresiasi langkah SMP Negeri 1 Kota Cirebon yang telah menyediakan pojok baca di setiap kelas. Fasilitas tersebut dinilai menjadi salah satu upaya sederhana, tetapi penting, untuk mendekatkan siswa dengan buku.

Keberadaan pojok baca memungkinkan para pelajar memanfaatkan waktu luang, termasuk saat jam istirahat, untuk membaca berbagai bahan bacaan. Dengan begitu, aktivitas membaca dapat tumbuh secara alami di lingkungan sekolah.

“Alhamdulillah, SMP Negeri 1 sudah mulai membiasakan anak-anak membaca. Di setiap kelas ada pojok-pojok baca, sehingga saat istirahat mereka bisa memanfaatkan waktunya untuk membaca,” ujarnya.

Menurut dia, penyediaan fasilitas membaca perlu diikuti dengan upaya membangun suasana yang menyenangkan. Buku harus diperkenalkan sebagai sumber pengetahuan sekaligus sarana hiburan yang mampu merangsang imajinasi dan kreativitas anak.

Hal ini menjadi semakin penting di tengah perkembangan teknologi digital yang membuat gadget mudah diakses oleh anak-anak. Tanpa pendampingan yang tepat, waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk belajar, berinteraksi, atau membaca berpotensi lebih banyak tersita oleh penggunaan perangkat digital.

Karena itu, membangun budaya literasi tidak cukup hanya dengan meminta siswa membaca buku. Sekolah dan keluarga juga perlu menghadirkan kegiatan yang menarik agar anak memiliki pengalaman positif ketika berinteraksi dengan bahan bacaan.

Peran Orang Tua Penting Sejak Usia Dini

Noviyanti menegaskan, upaya menumbuhkan minat baca sebaiknya dimulai sejak anak berada pada usia dini atau masa golden age. Pada tahap ini, orang tua dan guru memiliki peran penting dalam memperkenalkan buku melalui cara-cara yang sesuai dengan perkembangan anak.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah membacakan cerita dengan bahasa yang menarik, ekspresif, dan mudah dipahami. Kebiasaan tersebut dapat membuat anak merasa dekat dengan buku sekaligus menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap cerita dan pengetahuan baru.

“Untuk menumbuhkan kecintaan anak terhadap membaca, kita harus mendidik mereka sejak usia dini. Kalau sudah terbiasa dari kecil, kebiasaan itu akan menjadi habit,” tambahnya.

Ia juga mengimbau para orang tua dan guru agar tidak sekadar menyuruh anak membaca, tetapi ikut memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari. Ketika anak melihat orang dewasa terbiasa membaca, mereka memiliki kesempatan lebih besar untuk meniru kebiasaan positif tersebut.

Selain itu, cerita yang menyenangkan dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan dunia literasi kepada anak. Ketika anak menikmati cerita yang dibacakan, ketertarikan itu diharapkan berkembang menjadi keinginan untuk membaca secara mandiri.

“Biasakan anak-anak mendengarkan cerita yang menyenangkan, yang membuat mereka senang. Dengan begitu, anak-anak akan ketagihan dibacakan cerita dan akhirnya terdorong untuk membaca sendiri,” jelasnya.

Melalui kunjungan literasi tersebut, Noviyanti berharap semakin banyak sekolah yang menghadirkan program kreatif untuk meningkatkan minat baca pelajar. Kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat juga diperlukan agar budaya membaca dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Ia berharap, kebiasaan membaca mampu membentuk generasi muda Kota Cirebon yang memiliki wawasan luas, gemar belajar, serta mampu memanfaatkan teknologi secara bijak. Dengan demikian, gadget tetap dapat digunakan untuk mendukung pendidikan dan kreativitas tanpa menggeser kebiasaan positif, seperti membaca buku.

Siswa SMPN 1 Cirebon Sudah Menulis Novel Pendek Sejak Usia Enam Tahun

Semangat literasi juga terlihat dari pengalaman salah satu siswa SMP Negeri 1 Kota Cirebon, Tera Earth Ayundari G, yang kini duduk di kelas IX. Ia mengaku mulai mengenal kegiatan menulis sejak berusia enam tahun dan telah menghasilkan sejumlah novel pendek.

“Saya sejak umur enam tahun sudah diberi pensil dan buku, dan sudah membuat beberapa novel pendek,” kata Tera.

Ketertarikannya terhadap dunia literasi tumbuh melalui pengalaman membaca berbagai cerita. Baginya, penggunaan bahasa yang puitis dalam sebuah bacaan mampu menyentuh perasaan dan memberikan pengalaman tersendiri bagi pembaca.

Salah satu karya yang menginspirasinya adalah novel Hujan karya Tere Liye. Tera tertarik pada karakter dalam cerita tersebut yang menggambarkan semangat untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan meskipun menghadapi beragam kesulitan.

Pengalaman membaca itu turut mendorongnya untuk terus belajar dan memperluas wawasan. Ia memandang buku sebagai salah satu sumber pengetahuan yang dapat membantu seseorang mengembangkan kemampuan sekaligus menemukan inspirasi untuk meraih cita-cita.

Tera pun memiliki keinginan untuk menjadi seorang saintis. Selain menekuni bidang ilmu pengetahuan, ia bercita-cita menerbitkan buku-buku hasil karyanya yang selama ini masih belum dipublikasikan.

“Saya ingin menambah ilmu lagi dan menjadi saintis. Saya juga mempunyai cita-cita untuk menerbitkan buku-buku karena ada banyak novel pendek yang belum saya terbitkan,” ungkapnya.

Ia menyambut baik kunjungan Bunda Literasi Kota Cirebon ke sekolahnya. Menurut Tera, kegiatan semacam ini memberikan kesempatan kepada para siswa untuk semakin mengenal dunia literasi sekaligus menyadari pentingnya membaca dan menulis.

“Saya sangat senang dan gembira. Ternyata masih ada yang mengadakan kegiatan literasi seperti ini, karena sekarang sudah jarang sekolah yang mengundang kegiatan literasi,” ujarnya.

Tera juga mengajak teman-teman seusianya untuk terus mempertahankan kebiasaan membaca di tengah perkembangan teknologi. Menurutnya, buku tetap memiliki peran penting sebagai sumber ilmu dan sarana untuk mengembangkan diri.

“Kita harus terus membaca karena membaca itu penting. Jangan meninggalkan kebiasaan membaca,” pungkasnya. (its)