Dinkes Kabupaten Cirebon Cegah Stunting Sejak Remaja Putri, Ini Alasannya

Dinkes Kabupaten Cirebon melakukan pencegahan stunting sejak usia dini

CIREBON – Upaya pencegahan stunting di Kabupaten Cirebon terus diperluas. Tidak hanya menyasar ibu hamil dan balita, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cirebon kini memperkuat edukasi kesehatan dan gizi sejak usia remaja, khususnya bagi remaja putri.

Langkah tersebut dilakukan melalui kegiatan Aksi Cegah Stunting yang digelar di SMPN 1 Gebang, akhir pekan kemarin. Sebanyak 200 siswi mengikuti kegiatan yang dikemas bersamaan dengan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) dan edukasi Pola Hidup Sehat (PHS).

Kegiatan tidak hanya diisi dengan penyuluhan. Para siswi juga mengikuti senam bersama, sarapan bersama hingga minum Tablet Tambah Darah (TTD).

Selain itu, peserta mendapatkan edukasi mengenai kesehatan reproduksi, gizi, anemia dan kaitannya dengan pencegahan stunting. Materi disampaikan oleh narasumber dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) dan Perkumpulan Promotor dan Pendidik Kesehatan Masyarakat Indonesia (PPPKMI).

Kepala Dinkes Kabupaten Cirebon, Hj Eni Suhaeni SKM MKes, mengatakan pencegahan stunting perlu dilakukan jauh sebelum seorang perempuan memasuki masa kehamilan.

Menurutnya, remaja putri merupakan kelompok penting dalam strategi pencegahan stunting karena kelak akan menjadi calon ibu.

“Adik-adik remaja putri ini adalah calon ibu di masa depan. Pencegahan stunting tidak dimulai saat hamil atau setelah anak lahir, tetapi harus dimulai sejak usia remaja putri dengan menjaga kesehatan reproduksi dan kecukupan gizi,” ujar Eni.

Ia menjelaskan, salah satu persoalan kesehatan yang cukup rentan dialami remaja putri adalah anemia. Kondisi tersebut berkaitan dengan kehilangan darah saat menstruasi setiap bulan sehingga kebutuhan zat besi perlu mendapat perhatian.

Karena itu, konsumsi TTD secara rutin menjadi salah satu upaya yang terus didorong Dinkes Kabupaten Cirebon.

“Remaja putri sangat rentan mengalami anemia karena mengalami siklus haid setiap bulannya. Oleh karena itu, rutin mengonsumsi tablet tambah darah seminggu sekali sangat penting untuk mencegah anemia agar nantinya tidak melahirkan bayi stunting,” jelasnya.

Edukasi mengenai TTD pun menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Para siswi diarahkan agar konsumsi TTD tidak hanya dilakukan ketika ada kegiatan di sekolah, tetapi menjadi kebiasaan kesehatan yang dilakukan secara rutin sesuai anjuran.

Dinkes juga meminta pihak sekolah ikut berperan dalam memastikan kebiasaan tersebut terus berjalan. Dengan dukungan sekolah, edukasi pencegahan anemia diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.

Upaya pencegahan stunting juga diperkuat melalui penerapan Germas di lingkungan sekolah. Para siswa diajak membangun kebiasaan hidup sehat sejak dini, termasuk membiasakan sarapan sebelum beraktivitas.

Asupan makanan bergizi seimbang juga menjadi perhatian. Remaja didorong mengonsumsi makanan yang kaya protein hewani serta menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

“Pencegahan stunting harus didukung dengan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas). Biasakan sarapan bergizi seimbang sebelum beraktivitas, mengonsumsi makanan kaya protein hewani, serta menjaga kebersihan diri dan lingkungan,” pungkas Eni. (den)