Demo ALAMKU di BTNGC, Ini Respon Kepala Balai Toni Anwar

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC), Toni Anwar, S.Hut
Kepala Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC), Toni Anwar, S.Hut memberi respon terkai aksi demo Aliansi Masyarakat Kuningan di BTNGC

KUNINGAN — Kepala Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC), Toni Anwar, S.Hut, memberikan respons resmi usai bertemu langsung dengan massa Aliansi Masyarakat Kuningan (ALAMKU) yang menggelar aksi demonstrasi di depan kantor BTNGC, Rabu (10/12/2025). Toni menegaskan bahwa pihaknya saat ini tengah melakukan penataan menyeluruh terhadap pemanfaatan air di kawasan Gunung Ciremai dan memastikan seluruh proses berjalan sesuai ketentuan kementerian.

Toni menjelaskan  sejumlah titik pemanfaatan air memang belum menyelesaikan izin, terutama di wilayah Palutungan. Ia menyebut sekitar 15 titik belum memiliki izin lengkap, namun seluruhnya telah diberikan teguran resmi agar segera mengajukan permohonan perizinan ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Menurutnya, sebagian pemanfaatan air tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun sebelum dirinya menjabat sebagai Kepala Balai.

Dalam dialog yang berlangsung terbuka, Toni menegaskan bahwa BTNGC tidak menoleransi praktik pungli maupun korupsi. Ia memastikan seluruh proses administrasi dan perizinan berjalan dalam koridor transparansi serta sesuai aturan yang berlaku. 

“Saya menjamin tidak ada pungli atau korupsi di BTNGC. Semua prosedur mengikuti ketentuan kementerian,” ujarnya.

Ia juga menekankan  penghentian total terhadap pemanfaatan air yang belum berizin tidak dapat dilakukan secara serta-merta karena berpotensi menimbulkan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat. Toni menyebut bahwa hal tersebut telah disampaikan langsung kepada Bupati Kuningan. Menurutnya, beberapa titik pemanfaatan sudah menjadi sumber penghidupan, sehingga penataan harus dilakukan hati-hati tanpa menimbulkan gejolak baru.

Baca Juga: Ratusan Massa ALAMKU Geruduk Balai TNGC, Protes Kerusakan Lereng Ciremai dan Krisis Air di Desa Penyangga

Mengenai desakan ALAMKU terkait data titik air ilegal, Toni mengatakan pihaknya telah beberapa kali mengirimkan surat resmi kepada para pemanfaat air agar segera mengurus perizinan. Ia juga membuka ruang bagi pihak manapun yang ingin menyerahkan data temuan mereka kepada aparat penegak hukum. 

“Silakan saja, tidak ada masalah. Yang penting sesuai prosedur dan berdasarkan data yang valid,” ujarnya.

Toni menilai  pada dasarnya apa yang disuarakan massa dan apa yang sedang dilakukan BTNGC memiliki visi yang sama, yakni menjaga kelestarian Gunung Ciremai dan memastikan pemanfaatan air berjalan sesuai aturan. Ia menambahkan bahwa komunikasi antara pihak balai dan masyarakat harus terus ditingkatkan untuk menghindari kesalahpahaman serupa di masa depan.

Sebelum massa membubarkan diri, Toni kembali menegaskan komitmen BTNGC untuk menjalankan penataan pemanfaatan air secara bertahap dan transparan. 

“Intinya, kami ingin pengelolaan air di Gunung Ciremai berjalan benar, bersih, dan sesuai aturan. Tidak ada yang ditutup-tutupi,” kata Toni.

Situasi di kawasan BTNGC berangsur kondusif setelah dialog berlangsung. Massa ALAMKU meninggalkan lokasi setelah menyampaikan tuntutan dan menerima jawaban resmi dari pihak balai. (Bubud Sihabudin)