
INDRAMAYU – Ribuan lubang kecil hasil tusukan jarum menjadi ciri khas Batik Tulis Complongan, warisan budaya dari Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Di balik pola lubang yang tersusun rapi pada setiap helai kain, tersimpan proses pengerjaan panjang yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, serta keterampilan khusus. Keunikan tersebut membuat batik khas pesisir ini memiliki daya tarik tersendiri hingga mampu menembus pasar domestik dan mancanegara.
Bukan sekadar kain bermotif, Batik Tulis Complongan merupakan karya seni kriya yang memadukan teknik membatik tradisional, inspirasi budaya lokal, dan pemanfaatan pewarna alami. Keistimewaannya terletak pada proses mencomplong, yakni membuat lubang-lubang kecil menggunakan jarum khusus untuk menghasilkan tekstur dan karakter visual yang tidak ditemukan pada banyak jenis batik lainnya.
Di tengah persaingan industri fesyen yang semakin dinamis, kerajinan tradisional ini terus dipertahankan oleh para perajin lokal. Salah satunya melalui tangan Indra Susilo, pembatik asal Desa Terusan, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu. Sebagai generasi keempat dalam keluarganya, pria berusia 43 tahun tersebut berupaya menjaga warisan leluhur agar tetap bertahan sekaligus memiliki nilai ekonomi yang mampu menyejahterakan para pembatik.
Jarum Complong Jadi Pembeda Batik Indramayu
Keunikan Batik Tulis Complongan sudah terlihat sejak proses pengerjaannya. Pembuatan kain diawali dengan menggambar garis dasar atau reng-reng sebagai kerangka motif. Proses ini dilakukan pada kain berukuran sekitar 250 sentimeter x 105 sentimeter.
Setelah pola dasar terbentuk, pembatik melanjutkan pengerjaan isen-isen atau detail pengisi motif. Tahap berikutnya adalah penguncian pola sebelum kain memasuki proses mencomplong, yaitu teknik membuat lubang-lubang kecil menggunakan jarum khusus.
Alat yang digunakan berupa sejumlah jarum yang disusun pada sebilah kayu berukuran kurang lebih sebesar genggaman tangan. Diameter jarumnya sekitar 0,5 milimeter, dengan jumlah antara lima hingga 15 buah, menyesuaikan kebiasaan dan teknik masing-masing pembatik.
Setiap tusukan harus dilakukan dengan cermat agar lubang-lubang yang dihasilkan tersusun sesuai karakter motif. Ketelitian menjadi faktor penting karena kesalahan pada tahap ini dapat memengaruhi tampilan akhir kain.
Lubang-lubang tersebut bukan sekadar ornamen tambahan. Pola yang terbentuk menjadi identitas visual Batik Tulis Complongan, menghadirkan tekstur khas yang membuat kain terlihat berbeda ketika dipandang dari dekat maupun dari kejauhan.
Keistimewaan lainnya terletak pada motif yang mengangkat kehidupan masyarakat pesisir Indramayu. Inspirasi datang dari flora, fauna laut, tumbuh-tumbuhan, hingga berbagai simbol budaya lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Perpaduan antara motif khas pesisir dan teknik mencomplong menjadikan batik ini memiliki karakter yang kuat. Setiap helai kain juga memperlihatkan proses kreatif yang tidak sepenuhnya dapat diseragamkan, sehingga tingkat kerumitan dan hasil akhirnya memiliki ciri tersendiri.
Mengandalkan Pewarna Alami dari Tumbuhan
Selain teknik jarum complong, kekuatan Batik Tulis Complongan juga terletak pada penggunaan pewarna alami. Bahan pewarna tersebut berasal dari ekstrak tumbuhan yang tersedia di lingkungan sekitar maupun material sisa dari aktivitas industri.
Sejumlah bahan yang dimanfaatkan antara lain kulit kayu mahoni, kulit dan daun mangga, akar mengkudu, tegeran, serta kulit kayu nangka. Sebagian bahan diperoleh dari limbah kayu industri mebel, usaha pembuatan perahu nelayan, dan lingkungan sekitar.
Pemanfaatan bahan-bahan tersebut memperlihatkan bagaimana kearifan lokal dapat menjadi bagian penting dalam pengembangan produk kerajinan yang bernilai ekonomi. Material yang sebelumnya kurang dimanfaatkan dapat diolah menjadi sumber warna untuk menghasilkan kain batik dengan karakter khas.
Melalui proses ekstraksi, bahan-bahan alami itu menghasilkan warna yang digunakan dalam tahapan pewarnaan kain. Beberapa material lain, termasuk batuan yang memiliki kandungan warna kuat, juga disebut dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan produksi.
Penggunaan pewarna alami memberikan karakter tersendiri pada setiap produk. Perpaduan warna, motif, serta lubang-lubang halus hasil teknik complong menciptakan tampilan kain yang memiliki nilai estetika tinggi.
Namun, penggunaan bahan alami juga membutuhkan pengetahuan dan keterampilan tersendiri. Pembatik perlu memahami karakter bahan, proses pengolahan warna, serta tahapan pewarnaan agar hasil akhirnya sesuai dengan desain yang diinginkan.
Kombinasi teknik tradisional dan material alami inilah yang menjadi salah satu kekuatan Batik Indra Majoe dalam membangun identitas produk. Keaslian proses pengerjaan dipertahankan agar batik khas Indramayu tersebut tidak kehilangan karakter di tengah perkembangan industri tekstil modern.
Warisan Empat Generasi yang Dipertahankan Indra Susilo
Bagi Indra Susilo, Batik Tulis Complongan bukan sekadar usaha untuk memperoleh penghasilan. Kerajinan tersebut merupakan warisan keluarga yang perlu dijaga agar tidak hilang ditelan perubahan zaman.
Keterlibatan Indra dalam dunia batik dimulai ketika masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Saat itu, ia membantu ibunya mengerjakan berbagai aktivitas produksi, mulai dari menjemur kain hingga proses pewarnaan.
Kebiasaan tersebut menjadi pintu masuk bagi Indra untuk mengenal lebih dekat tahapan pembuatan batik. Pengalaman yang diperoleh dari keluarga kemudian diperdalam melalui pelatihan di Yogyakarta pada 2009.
Seiring waktu, pengetahuan dan keterampilannya terus berkembang. Ia tidak hanya berusaha mempertahankan cara produksi tradisional, tetapi juga memperhatikan kualitas produk dan peluang pemasaran agar Batik Tulis Complongan dapat diterima oleh konsumen yang lebih luas.
Salah satu momentum penting dalam perjalanan usahanya terjadi pada 2019. Saat peluncuran 50 motif batik Indramayu yang telah memperoleh hak cipta, produk berbahan pewarna alami yang dibawanya mendapatkan sambutan positif dari pasar.
Pengalaman tersebut semakin memperkuat tekadnya untuk mengembangkan usaha sekaligus menjaga warisan budaya keluarga. Kini, Indra menjadi satu-satunya penerus tradisi pembuatan Batik Tulis Complongan di desanya.
Kondisi itu sekaligus memperlihatkan tantangan yang dihadapi kerajinan tradisional di tingkat lokal. Ketika jumlah penerus semakin terbatas, keberlanjutan produksi tidak hanya bergantung pada kemampuan perajin mempertahankan kualitas, tetapi juga pada tersedianya generasi baru yang bersedia mempelajari keterampilan tersebut.
Indra pun berupaya menjadikan usaha batik sebagai kegiatan ekonomi yang berkelanjutan. Baginya, pelestarian budaya perlu berjalan beriringan dengan peningkatan pendapatan para pembatik agar keterampilan tradisional tetap memiliki masa depan.
Proses Produksi Bisa Berbulan-bulan, Harga Tembus Rp5 Juta
Keunikan Batik Tulis Complongan sebanding dengan waktu dan tenaga yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu helai kain. Proses pembuatannya tidak dapat dilakukan secara terburu-buru karena setiap tahapan memerlukan ketelitian dan penanganan yang berbeda.
Untuk kain berukuran 250 sentimeter x 105 sentimeter, pengerjaan membatik membutuhkan waktu sekitar tiga minggu hingga dua bulan. Setelah itu, proses mencomplong memerlukan kurang lebih satu minggu.
Tahap pewarnaan juga membutuhkan waktu yang tidak singkat. Bergantung pada jumlah warna dan tingkat kerumitan desain, proses tersebut dapat berlangsung selama satu minggu hingga satu bulan.
Dengan demikian, waktu produksi keseluruhan dapat mencapai beberapa bulan, terutama untuk kain dengan detail rumit dan kombinasi warna yang lebih banyak. Durasi tersebut dapat berubah sesuai desain, kondisi pengerjaan, dan tahapan pemeriksaan kualitas.
Kerumitan proses turut memengaruhi harga jual. Produk Batik Indra Majoe dipasarkan dengan rentang harga sekitar Rp750.000 hingga Rp5.000.000 per helai.
Indra menjelaskan, harga ditentukan berdasarkan tingkat kesulitan, detail motif, serta lamanya proses pengerjaan. Setiap produk juga melewati proses kurasi untuk memastikan kualitasnya sebelum dipasarkan.
“Semua tahapan prosesnya tergantung tingkat kerumitan dan detail produksi. Pengerjaannya bisa lebih lama dari estimasi waktu yang diperkirakan, ada proses kurasinya. Makanya harga jualnya variatif,” tutur Indra Susilo saat ditemui di workshop Batik Indra Majoe, Rabu (14/10/2026).
Rentang harga tersebut memperlihatkan posisi Batik Tulis Complongan sebagai produk kerajinan yang mengandalkan keunikan, kualitas, dan proses pengerjaan manual. Nilai produk tidak hanya dihitung berdasarkan bahan baku, tetapi juga keterampilan, waktu, serta pengetahuan tradisional yang terkandung di dalamnya.
Dari Indramayu ke Singapura, Malaysia, hingga Eropa
Upaya menjaga kualitas dan keaslian produk membuka peluang bagi Batik Indra Majoe untuk menjangkau konsumen di luar negeri. Permintaan terhadap produk tersebut datang dari sejumlah negara, termasuk Singapura, Malaysia, Jerman, dan Swiss melalui Kedutaan Besar Swiss.
Pasar internasional menjadi peluang sekaligus tantangan bagi perajin. Produk yang ditawarkan harus mampu mempertahankan ciri khas daerah, memenuhi ekspektasi kualitas, dan memiliki identitas yang jelas agar dapat bersaing dengan produk fesyen lainnya.
Menurut Indra, menjaga karakter Batik Tulis Complongan menjadi salah satu kunci agar produknya tetap diminati. Keunikan teknik pengerjaan dan penggunaan pewarna alami dipertahankan sebagai pembeda dari produk batik lainnya.
“Kami jaga kualitas dan pertahankan keunikannya, sampai pada akhirnya dikenal dan diminati pasar. Permintaan ada dari Singapura, Malaysia, Jerman, kemudian Swiss melalui Kedutaan Besar Swiss,” jelas ayah dua anak tersebut.
Selain pasar ekspor, pengakuan terhadap kualitas produk juga terlihat melalui pencapaian dalam ajang Kurasi Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) 2026. Batik Indra Majoe meraih peringkat ketiga nasional dalam ajang tersebut.
Pencapaian ini menjadi dorongan untuk terus memperluas jangkauan pemasaran. Produk kerajinan yang sebelumnya dikenal dalam lingkup daerah berpeluang memperoleh perhatian lebih besar melalui pameran, kurasi, serta kolaborasi dengan berbagai pihak.
Bagi Indra, keberhasilan menembus pasar global bukan semata-mata tentang memperluas penjualan. Semakin banyak konsumen yang mengenal produk tersebut, semakin besar pula peluang meningkatnya permintaan terhadap hasil kerja pembatik lokal.
Dampaknya diharapkan tidak berhenti pada pertumbuhan usaha. Peningkatan permintaan juga dapat membuka kesempatan kerja dan memperkuat keberlanjutan tradisi Batik Tulis Complongan di Indramayu.
Dukungan Pertamina Perkuat Pemasaran dan Legalitas
Pengembangan Batik Indra Majoe turut mendapat dukungan dari PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Balongan. Usaha ini sebelumnya menjadi salah satu penerima manfaat Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL), yang kemudian dikenal sebagai Small and Medium Enterprise Partnership Program (SMEPP).
Dukungan yang diberikan mencakup pembinaan untuk meningkatkan kapasitas usaha, penguatan pemasaran, serta keterlibatan dalam berbagai pameran di tingkat lokal, regional, nasional, hingga internasional.
Pjs Area Manager Communication, Relation & CSR PT Pertamina Patra Niaga RU Balongan, Andromedo Cahyo Purnomo, mengatakan bahwa Batik Indra Majoe pada dasarnya telah mandiri dari sisi permodalan. Meski demikian, pendampingan tetap dinilai penting untuk menjaga kelestarian Batik Tulis Complongan sebagai warisan budaya khas Indramayu.
“Sebenarnya produksi Batik Indra itu sudah mandiri kalau dari segi permodalan ya. Namun karena kami merasa perlu, Batik Complongan ini salah satu budaya khas batik yang memang menjadi keunikan tersendiri dari batik-batik yang ada di wilayah Indonesia, kami ingin menjaga kelestariannya,” kata Andromedo.
Salah satu bentuk dukungan penting diberikan melalui fasilitasi sertifikasi Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) pada 2025. Langkah tersebut bertujuan membantu pelaku usaha memperoleh perlindungan hukum sekaligus memperkuat posisi produk dalam persaingan pasar.
Legalitas menjadi bagian penting bagi produk kerajinan yang mengandalkan motif dan identitas budaya. Perlindungan kekayaan intelektual dapat membantu pelaku usaha mendokumentasikan karya, memperjelas kepemilikan hak, dan meningkatkan kepercayaan dalam pengembangan bisnis.
Di sisi lain, pendampingan pemasaran diharapkan membuat produk Batik Tulis Complongan semakin dikenal oleh calon pembeli. Semakin luas jangkauan pemasaran, semakin besar pula kesempatan perajin mendapatkan pesanan secara berkelanjutan.
Andromedo menilai, pertumbuhan usaha batik harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat, terutama para pembatik yang terlibat langsung dalam proses produksi.
“Jika produknya sudah dikenal dan omzetnya semakin tinggi, maka orderan ke pembatik lokal akan semakin banyak,” ujarnya.
Karena itu, dukungan pemasaran tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan penjualan satu usaha, tetapi juga memperkuat ekosistem kerajinan batik di Kabupaten Indramayu.
Krisis Regenerasi Jadi Tantangan Pelestarian Batik
Di balik peluang pasar yang terus terbuka, Batik Tulis Complongan menghadapi persoalan serius berupa minimnya regenerasi pembatik. Keterampilan yang membutuhkan ketekunan tinggi membuat pekerjaan ini tidak selalu menarik bagi generasi muda, terutama ketika mereka menginginkan penghasilan yang lebih cepat dan pasti.
Saat ini, jumlah pembatik di Indramayu diperkirakan sekitar 70 orang. Sebanyak 15 orang di antaranya bekerja bersama Batik Indra Majoe. Mayoritas perajin berada pada rentang usia di atas 40 hingga 50 tahun.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena keterampilan membatik tidak dapat diwariskan hanya melalui dokumentasi motif atau pengenalan produk. Pengetahuan mengenai teknik mencomplong, pengolahan warna, penggambaran motif, hingga penyelesaian kain perlu dipelajari melalui praktik langsung.
Untuk menjawab persoalan tersebut, Indra berupaya meningkatkan kesejahteraan para pembatik, salah satunya dengan menaikkan upah kerja sebesar 50 hingga 100 persen.
Langkah ini diharapkan dapat menjaga motivasi para perajin yang sudah bekerja sekaligus menarik minat generasi muda untuk mempelajari keterampilan membatik. Dengan pendapatan yang lebih menjanjikan, profesi pembatik diharapkan dapat dipandang sebagai pilihan pekerjaan yang layak.
“Sisi penghasilan perlu diperhatikan, bukan saja untuk kesejahteraan pembatik, juga supaya pembatik memberikan pemahaman kepada anak-anak mereka disertai bukti penghasilan yang tidak harus bekerja jauh,” ungkapnya.
Menurut Andromedo, aspek ekonomi menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi. Ketika usaha batik mampu memberikan penghasilan yang berarti, minat masyarakat untuk terlibat dalam proses produksi diharapkan ikut meningkat.
“Makanya kenapa kami selalu intervensi terkait pemasaran, kita bantu dukungan pemasaran, supaya nanti banyak konsumen-konsumen, baik dalam negeri maupun luar negeri ini masih benar-benar tertarik atau minat dengan batik unggulannya Indramayu. Sehingga batiknya tetap lestari dan pembatiknya sejahtera,” tegasnya.
Batik Tulis Complongan Resmi Milik Indramayu
Dari sisi perlindungan identitas daerah, Batik Tulis Complongan telah memperoleh Sertifikat Indikasi Geografis dari Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia pada 2022. Pengakuan tersebut menegaskan keterkaitan produk dengan wilayah asalnya, sekaligus memberikan landasan perlindungan bagi identitas batik khas Indramayu.
Selain perlindungan melalui indikasi geografis, pendataan dan pencatatan hak cipta motif juga menjadi langkah penting dalam menjaga kekayaan intelektual para perajin. Dari sekitar 200 motif yang tercatat dalam pendataan, sebanyak 50 motif telah terdaftar hak cipta, sementara sisanya masih dalam proses pendataan.
Upaya tersebut diperlukan agar kekayaan motif batik Indramayu dapat terdokumentasi dengan baik dan memiliki perlindungan yang memadai. Dengan demikian, pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui kegiatan produksi, tetapi juga lewat penguatan aspek hukum dan pengelolaan usaha.
Perjalanan Batik Tulis Complongan menunjukkan bahwa warisan budaya dapat berkembang menjadi produk bernilai ekonomi tinggi ketika kualitas, keunikan, perlindungan hukum, dan pemasaran dikelola secara beriringan.
Namun, keberhasilan menembus pasar global tidak akan cukup apabila jumlah pembatik terus menyusut. Keberlanjutan kerajinan ini bergantung pada kemampuan membangun generasi penerus, memberikan penghasilan yang layak, serta menjaga pengetahuan tradisional agar tetap hidup di tengah masyarakat.
Melalui upaya para perajin seperti Indra Susilo, dukungan Pertamina, dan penguatan perlindungan kekayaan intelektual, Batik Tulis Complongan memiliki peluang untuk terus berkembang. Jarum-jarum kecil yang membentuk ribuan lubang pada kain itu bukan hanya menghasilkan motif khas, melainkan juga menjadi penghubung antara warisan leluhur, penghidupan masyarakat, dan peluang pasar global.
Bagi Indramayu, menjaga Batik Tulis Complongan berarti merawat identitas budaya sekaligus membuka jalan bagi pertumbuhan ekonomi kreatif yang bertumpu pada keterampilan masyarakat setempat. (tar)















